Ritual Thetek Melek Kembali Digelar di Pacitan
Tradisi ritual Thetek Melek kembali digelar di Pacitan pada akhir tahun ini. Ritual adat yang dilaksanakan setiap tahun ini menjadi momen penting bagi warga, seniman, dan pemimpin daerah untuk berkumpul dalam satu prosesi sakral. Di hamparan sawah Desa Sukoharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, Jatim, ritual ini dipimpin langsung oleh Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Ritual Thetek Melek yang kembali digelar di area tersebut menjadi ruang doa dan ekspresi seni yang penuh makna. Warga berbondong-bondong mengikuti prosesi dengan membawa opyak-opyakan hama, lalu menaruh tumpeng sebagai simbol keberkahan. Diiringi tetabuhan unik, sejumlah warga lainnya turut serta dalam prosesi ini. Mereka ditemani oleh Bupati Pacitan, yang melewati pematang sawah sambil membawa bongkok (pelepah kelapa) bolong.
Bongkok bolong tersebut selanjutnya diserahkan kepada Mbah Lurah (Kades Sukoharjo) untuk ditancapkan di tanah. Aktivitas ini juga diikuti oleh warga lain yang turut menancapkan bongkok di seluruh pematang sawah.

Setelah prosesi penancapan bongkok, acara dilanjutkan dengan pertunjukan seni Kiblat Papat Limo Pancer dan tari orang-orangan sawah. Pertunjukan ini merupakan karya dari Bupati Pacitan, Mas Aji, dalam rangkaian ritual Thetek Melek. Ritual Thetek Melek sendiri memiliki makna mendalam, yaitu menjaga harmoni antara manusia dan alam agraris. Sebagai ruang simbolik, ritual ini menyimpan potensi kreatif dan sosial yang sangat penting.
Tradisi Turun Temurun yang Kembali Berjalan
Thetek Melek adalah tradisi turun temurun di Pacitan yang bertujuan untuk mengusir pagebluk atau gangguan di lahan pertanian. Meskipun tradisi ini biasanya dilakukan secara rutin dan tahunan, namun sempat terhenti saat wabah Covid-19 melanda. Setelah masa pandemi berlalu, Thetek Melek kembali digelar pada 2022 dan terus berlangsung hingga saat ini.
Dari ritual ini, diharapkan muncul nilai-nilai kosmologis dan praktik komunal yang melekat pada ritual tersebut melalui pendekatan seni partisipatif. “Mudah-mudahan semua yang kita lakukan ini bisa memberi manfaat kepada kita semua dan apa yang kita tanam akan berkah,” ujar Mas Aji, sapaan akrab Bupati Pacitan, Minggu (21/12/2025).

Doa Bersama Hingga Pasar UMKM
Bupati Pacitan, Mas Aji menjelaskan bahwa ritual Thetek Melek bukan sekadar seremonial, tetapi juga bentuk doa dan ikhtiar bersama. Tujuannya adalah agar alam selalu bersahabat dengan para petani. “Ini bukan sekedar seremonial. Tetapi bagian dari doa dan ikhtiar kita bersama untuk Kabupaten Pacitan,” kata Mas Aji kepada Tribunjatim Network.
Selain prosesi inti instalasi hama, gelaran Thetek Melek tahun ini memiliki perbedaan. Kali ini, ada kegiatan pendukung seperti festival budaya, jagong tani, aksi melukis seribu bongkok, serta pasar UMKM yang turut menggerakkan roda perekonomian warga sekitar selama acara berlangsung.
Puncak acara diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin oleh sesepuh desa setempat. Seluruh warga yang hadir kemudian melakukan makan bersama sebagai bentuk kebersamaan dan kekeluargaan.
Komentar
Kirim Komentar