
aiotrade, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (18/12/2025) ditutup turun sebesar 0,68% atau 59,15 poin menjadi 8.618,19. Dalam setahun terakhir, level indeks komposit telah mengalami pertumbuhan sebesar 21,73% year to date (YtD).
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Selama tahun ini (per 18 Desember 2025), beberapa saham emiten bank masuk dalam daftar top laggards yang memengaruhi penurunan IHSG. Di antaranya adalah BBCA yang berkontribusi sebesar 88,05 poin, BMRI dengan kontribusi 53,09 poin, dan BBRI yang menyumbang 45,36 poin.
Di sisi lain, jajaran saham penghuni klasemen top leaders sepanjang 2025 dihuni oleh sejumlah emiten berbasis komoditas. Contohnya, saham BRMS yang memberikan kontribusi sebesar 92,50 poin dalam penguatan IHSG, serta saham BUMI dengan nilai 55,60 poin. Kedua saham tersebut masing-masing melonjak sebesar 226,59% YtD dan 188,14% YtD.
Menurut analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, penurunan suku bunga sebesar 125 basis poin (bps) sepanjang 2025 bisa menjadi katalis positif bagi saham emiten bank. Terlebih, Bank Sentral membuka peluang pelonggaran lanjutan, meski dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Desember 2025 memutuskan untuk menahan BI rate di angka 4,75%. Hal ini membuat investor cenderung wait and see melihat arah kebijakan moneter BI tahun depan.
"Rotasi sektoral dari komoditas menuju finansial menurut saya tetap memiliki peluang kuat untuk menopang IHSG, terutama setelah sektor komoditas mengalami reli panjang pada 2025," ujar Ekky.
Ekky menjelaskan bahwa suku bunga rendah dapat menurunkan cost of fund emiten perbankan dan mendorong pemulihan net interest margin (NIM), yang selama 2025 tertekan. Selain itu, imbal hasil kredit akan lebih stabil, pertumbuhan kredit bisa kembali menguat, dan risiko kualitas aset lebih terkendali.
Saat ini, valuasi perbankan besar menurutnya berada pada zona diskon terhadap rerata historis, sementara potensi pemulihan earnings di 2026 masih cukup terbuka. Selain itu, arus dana asing juga cenderung berpihak kembali pada sektor berkapitalisasi besar yang likuid dan stabil.
"Kombinasi antara rotasi sektor, normalisasi suku bunga global, serta rebound earnings bank besar dinilai dapat menjadi tulang punggung reli lanjutan IHSG di awal 2026. Ini juga sejalan dengan pola bahwa pergerakan indeks akan semakin selektif," jelasnya.
Meski demikian, Ekky melihat beberapa faktor risiko tetap perlu dicermati. Pertama, ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Jika The Fed lebih hawkish dari perkiraan, tekanan ke rupiah dan capital flow bisa kembali meningkat dan memperlambat rotasi sektor domestik.
Kedua, perlambatan pertumbuhan kredit dan kenaikan NPL di sektor-sektor tertentu khususnya UMKM dan korporasi leverage tinggi juga masih berpotensi menahan pemulihan margin bank.
Ketiga, risiko makro domestik seperti penurunan harga komoditas yang terlalu tajam dapat mempengaruhi kemampuan bayar debitur di sektor tambang dan energi. Dan keempat, faktor geopolitik dan cuaca ekstrem seperti kasus banjir Sumatra bisa menciptakan volatilitas sesaat di sektor tertentu.
Sementara itu, Research analyst Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer menilai sejumlah saham sektoral yang sensitif terhadap suku bunga acuan turut berpeluang diuntungkan di era suku bunga murah.
"Kemarin BI terlihat masih memutuskan untuk menahan suku bunganya. Meski begitu, kalau dibandingkan dengan tren di awal tahun, serta potensi di tahun 2026 nanti, prospek saham-saham yang memiliki exposure ke suku bunga masih akan menarik," ujar Miftahul.
Menurutnya, rotasi sektoral dari komoditas ke saham finansial cukup rasional dan akan berdampak positif pada laju IHSG karena saham-saham perbankan memiliki bobot yang cukup berat di IHSG.
Terlebih, dia mencatat saat ini kinerja saham berbasis komoditas mulai kehilangan momentum, di saat saham sektor perbankan dan properti mulai menawarkan peluang rebound berbasis siklus. Rotasi sektoral itu juga yang membuat penguatan IHSG ke depan diprediksi tidak lagi membentuk reli yang board based seperti awal tahun.
Komentar
Kirim Komentar