Sebelum Digital, 5 Tokoh Ini Jadi Influencer Dunia

Sebelum Digital, 5 Tokoh Ini Jadi Influencer Dunia

Kabar dunia hari ini diwarnai peristiwa penting. Topik Sebelum Digital, 5 Tokoh Ini Jadi Influencer Dunia tengah menjadi sorotan dunia. Berikut laporan selengkapnya.
Featured Image

Sejarah Para "Influencer" Generasi Awal yang Mempengaruhi Perubahan

Di era digital saat ini, istilah "influencer" sering dikaitkan dengan tokoh-tokoh yang aktif di media sosial. Mereka mampu memengaruhi tren, membentuk opini, hingga menentukan gaya hidup banyak orang hanya melalui unggahan singkat di platform seperti Instagram, YouTube, atau TikTok. Namun, pengaruh seseorang terhadap massa bukanlah hal baru. Jauh sebelum teknologi hadir, ada tokoh-tokoh sejarah yang juga memainkan peran serupa. Mereka bisa disebut sebagai "influencer" generasi awal karena dampaknya yang besar pada budaya dan masyarakat.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Berikut adalah beberapa tokoh bersejarah yang membuktikan bahwa pengaruh mereka tidak lekang oleh waktu:

1. Ambrose Burnside

Dalam sejarah budaya populer Amerika, nama Ambrose Burnside lebih dikenal karena gaya wajah khasnya daripada karier militernya. Burnside merupakan pencetus tren cambang, yaitu rambut wajah memanjang di sisi pipi yang terhubung dengan kumis. Menurut catatan dari Georgetown University Library, Burnside lulus dari West Point pada 1847. Saat Perang Saudara pecah, ia bergabung dengan pasukan Union. Usai perang, Burnside terjun ke dunia politik dan sempat menjabat sebagai Gubernur Rhode Island dari 1866 hingga 1869.

Meski di West Point ia diwajibkan tampil rapi, Burnside tetap mempersonalisasi penampilannya dengan cambang. Popularitasnya sebagai jenderal dan politisi, ditambah momentum hadirnya fotografi, membuat gaya cambang itu semakin dikenal luas. Bahkan, nama "burnsides" kemudian melekat langsung pada gaya tersebut.

2. Ratu Elizabeth I

Pada pertengahan abad ke-16, Ratu Elizabeth I harus menghadapi dampak cacar yang menyerang kulit wajahnya. Hanya empat tahun setelah ia resmi naik takhta, wajah Elizabeth ditutupi bekas luka yang cukup jelas terlihat. Untuk menyamarkannya, sang Ratu menggunakan campuran timbal putih dan cuka sebagai riasan wajah. Riasan putih tebal itu, dipadukan dengan wig merah yang menjadi ciri khasnya, akhirnya melekat kuat dalam gambaran ikonik Elizabeth I.

Wajah putih mulai melambangkan pemuda dan kekayaan, karena itu berarti tidak pernah perlu bekerja di bawah sinar matahari. Tren ini kemudian meluas pada masanya, menjadikan wajah pucat sebagai standar kecantikan sekaligus simbol status sosial tinggi.

3. Coco Chanel

Melompat ke era modern, Coco Chanel menjadi salah satu sosok yang mendefinisikan ulang standar kecantikan dunia. Desainer asal Prancis itu dikenal lewat gaun hitam kecil, setelan wanita, hingga tas berlapis. Tapi, pengaruh Chanel juga muncul pada tren kecokelatan kulit, sesuatu yang dianggap kurang ideal sebelum 1920-an.

Masyarakat kelas atas Eropa dan Amerika dulu menghindari paparan matahari. Kulit cokelat identik dengan kehidupan pekerja luar ruangan, sedangkan kulit pucat menandakan status sosial tinggi. Namun, semua itu berubah setelah Chanel difoto meninggalkan kapal pesiar di Cannes, Prancis, pada 1923 dengan kulit kecokelatan. Kulit kecoklatan tidak hanya menjadi lebih dapat diterima secara sosial tetapi juga menjadi simbol kecantikan.

4. Cleopatra

Jauh sebelum dunia mode mengenal Chanel, Mesir memiliki Cleopatra sebagai ikon gaya. Ratu Mesir itu dikenal dengan gaya rambut khas yang disebut melon coiffure, yaitu rambut dikepang rapat lalu dikumpulkan ke dalam sanggul di bagian belakang leher. Gaya ini telah menjadi ciri khas ratu-ratu Ptolemeus selama lebih dari 200 tahun. Gaya ini menyampaikan pesan bahwa ia adalah seorang ratu Yunani dari garis keturunan yang panjang.

Meskipun Cleopatra hanya menghabiskan sedikit waktu di Roma saat menjalin hubungan dengan Julius Caesar, pengaruh gaya rambutnya begitu kuat. Para perempuan kelas atas Romawi ikut meniru, hingga gaya itu tetap populer jauh setelah Cleopatra tiada.

5. Morris Frank

Jika Burnside, Elizabeth, Chanel, dan Cleopatra memengaruhi mode serta kecantikan, maka Morris Frank membawa perubahan besar dalam isu disabilitas. Lahir di Tennessee dan berasal dari keluarga kaya, Frank kehilangan penglihatan di satu mata akibat kecelakaan kuda saat masih kecil, dan sepuluh tahun kemudian ia kehilangan penglihatan sepenuhnya.

Pada tahun 1927, kehidupannya berubah setelah mengetahui artikel tentang anjing-anjing yang dilatih untuk menjadi pemandu bagi veteran Perang Dunia I yang buta. Artikel itu ditulis oleh Dorothy Harrison Eustis, seorang perempuan asal Philadelphia yang saat itu tinggal di Swiss dan membiakkan anjing German Shepherd untuk kepolisian dan militer. Terinspirasi dari kisah itu, Frank memberanikan diri menulis surat kepada Eustis dan meminta bantuannya. Hal itu mengubah hidupnya sekaligus persepsi masyarakat luas. Dengan anjingnya, Frank menunjukkan bahwa penyandang tunanetra bisa mandiri dan aman bergerak di ruang publik. Ia kemudian membantu mendirikan program Seeing Eye di Amerika Serikat, yang memperluas akses bagi banyak orang dengan disabilitas visual.

Kesimpulan: Demikian kabar dari dunia internasional. Simak terus perkembangan global hanya di sini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar