Sejarawan UGM: Keuntungan Selalu Dinikmati Segelintir Orang Sejak Revolusi Industri

Sejarawan UGM: Keuntungan Selalu Dinikmati Segelintir Orang Sejak Revolusi Industri

Industri teknologi kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Sejarawan UGM: Keuntungan Selalu Dinikmati Segelintir Orang Sejak Revolusi Industri yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.
Sejarawan UGM: Keuntungan Selalu Dinikmati Segelintir Orang Sejak Revolusi Industri

Sejarah Perkembangan Industri di Indonesia dan Tantangan di Era Revolusi Industri 5.0

Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Nur Aini Setiawati, M.Hum., menyoroti sejarah panjang perkembangan industri di Indonesia yang sejak masa kolonial hingga kini kerap hanya menguntungkan segelintir pihak. Ia mengingatkan agar kemajuan teknologi di era Revolusi Industri 5.0 tidak kembali menimbulkan ketimpangan serupa.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

“Masyarakat perlu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan digital yang baik sehingga menciptakan masyarakat yang cerdas, kreatif, dan adaptif terhadap teknologi beriringan dengan pembangunan berkelanjutan,” ujar Nur Aini dalam pembukaan History Week bertajuk “Industri dalam Arus Sejarah Indonesia” di Auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM, Rabu (22/10).

Nur Aini menjelaskan, Revolusi Industri 1.0 yang dimulai sekitar tahun 1760-an di Inggris menandai perubahan besar dari sistem pertanian menuju industri berbasis mesin. Pola tersebut kemudian diadopsi pada masa kolonial Belanda di Indonesia, ketika teknologi digunakan di pabrik gula, kopi, dan perkebunan besar. Namun, hasil kekayaan industri kala itu hanya dinikmati oleh kalangan elite kolonial, bukan rakyat Indonesia.

Ia menambahkan, kini dunia memasuki Revolusi Industri 5.0 yang diperkenalkan oleh mantan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe. Revolusi ini berupaya mengintegrasikan dunia maya dan dunia nyata, di mana manusia hidup berdampingan dengan teknologi cerdas untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.

“Konsep Society 5.0 itu justru membentuk kebanyakan masyarakat dengan one cyber dengan dunia nyata jadi manusia akan hidup berhubungan dengan teknologi untuk dapat memagari tantangan perkembangan sosial yang kompleks,” jelasnya.

Menurut Nur Aini, dampak revolusi industri masa kini tidak hanya membuka peluang bagi pertumbuhan UMKM, digitalisasi, dan e-commerce, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru di bidang teknologi, logistik, dan pemasaran digital.

“Masyarakat harus melek teknologi dan memiliki literasi digital yang mumpuni, agar dapat terus beradaptasi dalam dunia digital yang terus bergerak cepat ini,” pungkasnya.

Pengaruh Revolusi Industri Terhadap Masyarakat

Revolusi Industri 1.0 menjadi awal dari transformasi besar dalam struktur ekonomi dan sosial. Dengan penggunaan mesin-mesin dalam produksi, industri mulai berkembang pesat, terutama di negara-negara Eropa. Di Indonesia, pola ini diadopsi selama masa kolonial, khususnya oleh pemerintah Belanda yang membangun pabrik-pabrik besar untuk menghasilkan produk seperti gula dan kopi.

Namun, keuntungan dari perkembangan industri ini tidak dirasakan oleh seluruh masyarakat. Sebaliknya, hanya kalangan tertentu yang mendapatkan manfaat, sementara rakyat biasa tetap tinggal dalam kondisi ekonomi yang kurang stabil. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi bisa menjadi alat yang efektif, tetapi juga bisa memperparah ketimpangan jika tidak diatur dengan baik.

Dalam konteks saat ini, Revolusi Industri 5.0 membawa perubahan yang lebih luas. Teknologi tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat bantu, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dengan adanya integrasi antara dunia virtual dan nyata, manusia dan teknologi saling melengkapi dalam menghadapi berbagai tantangan sosial.

Tantangan di Era Digital

Di tengah perkembangan teknologi yang pesat, masyarakat dihadapkan pada tugas yang semakin kompleks. Literasi digital menjadi salah satu aspek penting yang perlu dikuasai. Tanpa pemahaman yang cukup tentang teknologi, masyarakat akan kesulitan mengikuti arus perubahan yang terjadi.

Selain itu, peran UMKM dan e-commerce juga semakin meningkat. Banyak usaha kecil dan menengah berhasil berkembang karena akses ke pasar global yang lebih mudah. Namun, hal ini juga menuntut kesiapan para pelaku usaha untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Pentingnya adaptasi terhadap teknologi juga terlihat dalam sektor logistik dan pemasaran digital. Kedua bidang ini membutuhkan keterampilan khusus, termasuk penggunaan platform digital dan analisis data. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya perlu memahami teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya secara efektif.

Kesimpulan

Perkembangan industri di Indonesia telah mengalami banyak perubahan sejak masa kolonial hingga saat ini. Meskipun ada kemajuan yang signifikan, masih ada tantangan yang perlu diatasi, terutama dalam hal distribusi manfaat teknologi.

Dalam era Revolusi Industri 5.0, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital dan keterampilan teknologi agar dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Dengan pendidikan yang memadai dan kesadaran akan pentingnya teknologi, masyarakat dapat memanfaatkan kemajuan ini untuk meningkatkan kualitas hidup mereka sendiri.


Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah sesuai ekspektasi Anda? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar