
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Kondisi yang dialami para lansia di Indonesia kini menunjukkan angka yang cukup mengkhawatirkan. Menurut data terbaru, lebih dari 80% pendapatan para pensiunan berasal dari keluarga mereka yang masih bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa banyak pensiunan bergantung secara finansial pada anak-anaknya atau anggota keluarga lainnya. Fenomena ini dikenal sebagai sandwich generation, di mana seorang pekerja harus memenuhi kebutuhan ekonomi dari berbagai pihak, seperti orang tua, pasangan, dan anak-anak.
Data tersebut sangat mengejutkan karena jumlahnya lebih besar dibandingkan survei ADB (2024) yang menyebutkan bahwa 1 dari 2 lansia di Indonesia bergantung pada biaya hidup yang disediakan oleh anak-anaknya setiap bulan. Akibatnya, banyak pensiunan akhirnya menghadapi masalah finansial saat masa pensiun tiba, karena tidak lagi memiliki penghasilan tetap.
Mengapa banyak lansia bergantung pada anak-anak mereka? Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utamanya:
-
Tidak adanya persiapan finansial sejak dini
Banyak orang tidak merencanakan pensiun atau investasi jangka panjang selama bekerja. Alasannya biasanya gaji yang pas-pasan atau merasa pensiun masih jauh. Akibatnya, ketika sudah pensiun, sumber pendapatan hilang total, dan satu-satunya jaring pengaman adalah anak-anak. -
Minimnya akses ke program pensiun formal
Sebagian besar pekerja di Indonesia bekerja di sektor informal, seperti pedagang, petani, atau sopir. Mereka umumnya tidak memiliki akses ke program pensiun resmi seperti DPLK. Akibatnya, mereka tidak memiliki tabungan pensiun dan harus bergantung pada keluarga. -
Nilai budaya dan norma sosial yang kuat
Budaya di Indonesia sering kali menganggap anak sebagai "tabungan" untuk masa tua. Anak dianggap sebagai investasi, bukan amanah. Karena itu, banyak orang tua tidak merasa perlu menyiapkan kemandirian finansial sendiri. -
Biaya hidup dan inflasi yang meningkat
Biaya hidup dan pengobatan bagi lansia semakin tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Tabungan yang dulu cukup bisa habis lebih cepat karena inflasi dan biaya kesehatan. -
Kurangnya literasi keuangan dan perencanaan pensiun
Banyak orang tidak memahami pentingnya memulai dana pensiun sejak muda. Istilah seperti compound interest, alokasi aset, atau dana pensiun lembaga keuangan (DPLK) sering dianggap rumit atau eksklusif. Edukasi dan akses ke dana pensiun harus mudah dan terjangkau.
Ketergantungan ekonomi lansia pada anak bukan hanya disebabkan oleh malas menabung, melainkan juga faktor budaya, ekonomi, dan sistemik. Solusi yang efektif memerlukan kolaborasi antara pemerintah, dana pensiun, pemberi kerja, dan individu. Edukasi yang berkelanjutan serta kemudahan akses dana pensiun sangat penting agar setiap orang dapat menjalani masa tua dengan mandiri tanpa bergantung kepada anak-anaknya.
Ke depan, populasi lansia di Indonesia akan terus meningkat. Hal ini berarti beban ekonomi yang harus ditanggung oleh generasi produktif akan semakin berat. Oleh karena itu, program pensiun seperti DPLK sangat penting untuk persiapan masa tua dan perencanaan pensiun yang baik. Program ini tidak hanya membantu mengurangi beban generasi sandwich yang harus membiayai pendidikan anak, kesehatan orang tua, dan masa depan diri sendiri.
Apakah Anda sudah memiliki dana pensiun? Jangan lupa untuk merencanakan masa depan dengan bijak. Salam sehat selalu dan selamat bekerja. #EdukasiDanaPensiun #EdukasiDPLK #DPKSAM
Komentar
Kirim Komentar