
Tekanan Harga Kembali Meningkat di Akhir Tahun 2025
Memasuki penghujung tahun 2025, tekanan harga kembali menunjukkan gejala menguat. Pola yang hampir selalu berulang setiap tahun ini kembali terbaca dalam pergerakan Indeks Perkembangan Harga (IPH) nasional pada minggu ketiga Desember 2025. Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, harga sejumlah komoditas pangan strategis mulai bergerak naik dan menyebar ke semakin banyak wilayah.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS), Windiarso Ponco, mengingatkan bahwa secara historis, tiga bulan terakhir dalam setahun hampir selalu ditandai oleh tren inflasi yang meningkat. Lonjakan permintaan konsumsi, distribusi yang semakin padat, serta faktor musiman kerap menjadi kombinasi yang mendorong kenaikan harga di berbagai daerah.
Menariknya, pola tersebut sempat sedikit berbeda pada November 2025. Pada periode itu, inflasi tercatat melambat dibandingkan Oktober 2025. Perlambatan tersebut dipicu oleh turunnya harga sejumlah komoditas utama, seperti daging ayam ras, cabai merah, dan telur ayam ras. Namun, Windiarso menegaskan bahwa kondisi tersebut bukanlah sinyal meredanya tekanan harga secara permanen.
“Secara historis, bulan Desember hampir selalu diwarnai dengan peningkatan tekanan inflasi, terutama akibat momentum hari besar keagamaan nasional seperti Natal dan perayaan Tahun Baru,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2025, Senin, 22 Desember 2025.
Dalam empat tahun terakhir, kelompok makanan, minuman, dan tembakau konsisten menjadi penyumbang inflasi terbesar setiap bulan Desember, disusul oleh kelompok transportasi. Catatan BPS menunjukkan, pada Desember 2024 inflasi bulanan mencapai 0,44 persen, dengan andil terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Bahkan, tekanan tertinggi tercatat pada Desember 2021, saat inflasi menembus 1,61 persen.
Memasuki Desember 2025, sinyal tekanan harga kembali menguat. Berdasarkan data SP2KP yang diolah hingga 19 Desember 2025, tercatat 37 provinsi mengalami kenaikan IPH, dan hanya satu provinsi yang mencatat penurunan. Secara nasional, jumlah kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan IPH juga lebih banyak dibandingkan wilayah yang mengalami penurunan, serta terus bertambah dibandingkan minggu sebelumnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga tidak lagi bersifat sporadis, melainkan semakin meluas secara nasional. Sejumlah komoditas tercatat menjadi pendorong utama kenaikan IPH, antara lain cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, dan bawang merah. Komoditas-komoditas ini, terutama yang bersifat segar dan sensitif terhadap distribusi, kerap mengalami fluktuasi tajam menjelang akhir tahun.
Windiarso menilai situasi ini perlu menjadi perhatian serius bagi seluruh pemangku kepentingan. Hampir seluruh komoditas pangan strategis saat ini menunjukkan peningkatan jumlah wilayah yang mengalami kenaikan harga. Dua komoditas yang mendapat sorotan khusus adalah cabai rawit dan minyak goreng. Cabai rawit mengalami kenaikan baik dari sisi level harga maupun perubahan harga, sementara minyak goreng meski perubahan harganya relatif lebih rendah, namun level harganya sudah berada pada posisi tinggi.
Tekanan harga yang kian meluas ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat koordinasi pengendalian inflasi. Menjelang akhir tahun, stabilitas harga pangan menjadi kunci untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan momentum perayaan Natal dan Tahun Baru tidak diiringi lonjakan inflasi yang berlebihan.
Faktor Penyebab Kenaikan Harga
Beberapa faktor utama yang menyebabkan kenaikan harga di akhir tahun antara lain:
- Lonjakan permintaan: Kebutuhan masyarakat meningkat menjelang liburan, terutama untuk kebutuhan pangan dan kebutuhan pokok lainnya.
- Distribusi yang padat: Kenaikan biaya logistik dan distribusi memengaruhi harga komoditas.
- Faktor musiman: Cuaca dan musim tertentu dapat memengaruhi produksi dan pasokan komoditas.
- Fluktuasi harga komoditas: Beberapa komoditas seperti cabai dan bawang memiliki sifat yang rentan terhadap fluktuasi harga.
Komoditas yang Mengalami Kenaikan Harga
Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga di akhir tahun 2025 antara lain:
- Cabai rawit: Mengalami kenaikan baik dari sisi harga maupun perubahan harga.
- Daging ayam ras: Harga kembali naik karena permintaan yang meningkat.
- Cabai merah: Terjadi kenaikan harga di beberapa wilayah.
- Bawang merah: Mengalami kenaikan harga karena kurangnya pasokan.
- Minyak goreng: Meskipun perubahan harganya relatif rendah, namun harga saat ini sudah cukup tinggi.
Langkah yang Dilakukan untuk Mengendalikan Inflasi
Pemerintah dan lembaga terkait telah melakukan beberapa langkah untuk mengendalikan inflasi, antara lain:
- Meningkatkan koordinasi antar daerah: Untuk memastikan distribusi barang tetap stabil.
- Meningkatkan pengawasan pasar: Memastikan harga tetap terjangkau dan tidak ada praktik monopoli.
- Meningkatkan produksi komoditas: Untuk memenuhi kebutuhan pasar dan mengurangi fluktuasi harga.
- Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat: Memberikan informasi tentang harga dan cara menghadapi inflasi.
Kesimpulan
Tekanan harga di akhir tahun 2025 menunjukkan adanya tren kenaikan yang semakin luas. Hal ini memerlukan perhatian serius dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan stabilitas harga pangan dan menjaga daya beli masyarakat. Dengan koordinasi yang baik dan langkah-langkah yang tepat, diharapkan inflasi tidak mengganggu momentum perayaan Natal dan Tahun Baru.
Komentar
Kirim Komentar