
Pelatihan Kewirausahaan di Pesantren: Membangun Mindset Wirausaha dari Santri
Pagi itu, lantai 3 ruang Laboratorium Entrepreneurship Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University terasa lebih ramai dari biasanya. Dua puluh santri dari Pondok Pesantren Panti Yatim dan Dhuafa Al-Furqon, Bojongsoang, Kabupaten Bandung, berkumpul bukan untuk mengaji, melainkan belajar berdagang. Mereka sedang mengikuti pelatihan pendidikan kewirausahaan ritel sembako, bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diselenggarakan oleh Telkom University.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Kedua puluh santri tersebut mendapatkan pembelajaran langsung dari Ketua tim pengabdian masyarakat, Dr. Imanuddin Hasbi, S.T., M.M., anggota Nuslih Jamiat, S.E., M.M., dan Dr. Alex Winarno, S.T., M.M. Imanuddin Hasbi menjelaskan bahwa kegiatan ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi banyak santri yang kesulitan mandiri secara ekonomi setelah lulus.
“Pesantren punya potensi besar, tetapi banyak santri belum terbiasa berpikir wirausaha. Kami ingin membangun mindset bahwa berwirausaha juga bisa menjadi bagian dari ibadah dan pemberdayaan,” ujarnya dalam keterangannya.
Program Kewirausahaan yang Berfokus pada Ritel Sembako
Imanuddin menekankan bahwa program ini fokus pada pelatihan usaha ritel sembako karena dinilai paling realistis dijalankan di lingkungan pesantren. “Kegiatan ini bukan seremonial. Kami membawa konsep bisnis langsung ke lapangan dimana santri belajar mengelola stok, menentukan harga, hingga melayani pembeli,” katanya.
Pelatihan dilaksanakan beberapa waktu lalu di Laboratorium Entrepreneurship FEB Telkom University dan lapangan pesantren mitra di Desa Cipagalo, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung.
Mengapa Berwirausaha Itu Mengasyikkan?
Imanuddin menyatakan bahwa hasil awal dari kegiatan tersebut menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman konsep dasar kewirausahaan di kalangan santri. Mereka memahami mengapa berwirausaha penting seperti untuk meningkatkan kemandirian ekonomi, memanfaatkan potensi pasar di sekitar pesantren, membuka peluang kerja, dan menjalankan usaha halal serta berkeberkahan.
“Santri itu calon pemimpin masyarakat. Jika mereka paham ekonomi, pesantren bisa mandiri,” kata Imanuddin Hasbi.
Sementara itu, pimpinan pesantren, Deni Rohaendi, menyebut kegiatan ini bukan hanya teori karena di sini santri langsung praktik seperti menata toko, menghitung modal, melayani pelanggan. Itu pembelajaran yang tidak bisa didapat dari kitab saja,” ujarnya.
Ahmad Fauzan, salah satu santri peserta, mengaku pelatihan ini membuka pandangannya terhadap dunia usaha. “Saya baru tahu kalau berwirausaha itu bisa seasyik ini. Sekarang saya ingin buka warung kecil di pesantren,” katanya.
Pendampingan Lanjutan dan Pengembangan Platform Digital
Imanuddin Hasbi menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak berhenti pada pelatihan satu hari. Tim akan melakukan pendampingan lanjutan agar toko sembako pesantren benar-benar berjalan dan menjadi model ekonomi pesantren berdaya.
Program ini juga diarahkan untuk mengembangkan platform digital pemasaran produk pesantren, sesuai tren ekonomi berbasis teknologi. “Ke depan, kami ingin ada marketplace kecil yang dikelola santri. Bukan hanya menjual sembako, tapi juga produk pesantren lain seperti kerajinan atau makanan olahan,” ujarnya.
Pesan Kuat tentang Pemberdayaan Ekonomi
Imanuddin Hasbi optimis, kegiatan pengabdian masyarakat Telkom University ini memberi pesan kuat bahwa pemberdayaan ekonomi bisa dimulai dari ruang kecil di pesantren. Ketika santri belajar berdagang, mereka tidak hanya mencari untung, tetapi sedang menanam benih kemandirian dan martabat.
Komentar
Kirim Komentar