Tiga Tokoh Dunia: Marwan Barghouti dan Janji Trump untuk Gaza

Tiga Tokoh Dunia: Marwan Barghouti dan Janji Trump untuk Gaza

Pasar smartphone kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Tiga Tokoh Dunia: Marwan Barghouti dan Janji Trump untuk Gaza yang membawa inovasi baru. Berikut ulasan lengkapnya.


Berita
Top 3 Dunia
pada Jumat 10 Oktober 2025 diawali oleh Israel secara sepihak menghapus nama Marwan Barghouti dari daftar pertukaran tahanan di menit-menit terakhir, yang membahayakan implementasi kesepakatan gencatan senjata Gaza.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Sementara di urutan kedua, gencatan senjata di Gaza tidak boleh menjadi "harapan palsu" bagi Palestina, kata Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat (OCHA) Tom Fletcher.

Adapun di urutan ketiga, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji tidak ada warga Palestina yang akan dipaksa meninggalkan Gaza di bawah kesepakatan gencatan senjata miliknya.

Berikut Top 3 Dunia selengkapnya.

1. Israel Diam-diam Hapus Marwan Barghouti dari Daftar Tahanan yang Dibebaskan

Kantor Perdana Menteri Israel secara sepihak menghapus nama Marwan Barghouti dari daftar pertukaran tahanan di menit-menit terakhir, yang membahayakan implementasi kesepakatan gencatan senjata Gaza, ungkap seorang sumber yang dekat dengan tahanan Palestina terkemuka tersebut.

Barghouti, yang merupakan tokoh politik Palestina terpopuler menurut jajak pendapat, merupakan salah satu nama paling berharga yang berpotensi ditukar dengan 48 tawanan Israel di Gaza.

Penghapusan ini memicu kekecewaan dari kalangan aktivis dan pejabat Palestina, karena ia dianggap sebagai sosok penting dalam proses perdamaian. Nama Barghouti sempat muncul sebagai kandidat utama dalam tukar-menukar tahanan, namun tiba-tiba dikeluarkan dari daftar tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Ini menunjukkan bahwa proses negosiasi masih penuh dengan ketidakpastian dan permainan kekuasaan. Bagi banyak orang, penghapusan ini bisa menjadi tanda awal dari ketidakseriusan pihak Israel dalam menjalankan kesepakatan gencatan senjata.

2. PBB: Gencatan Senjata Gaza Jangan Jadi "Harapan Palsu" bagi Palestina

Gencatan senjata di Gaza tidak boleh menjadi "harapan palsu" bagi Palestina, kata Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan dan Koordinator Bantuan Darurat (OCHA) Tom Fletcher.

Fletcher menekankan pentingnya aksi nyata dalam mendukung rakyat Gaza. Ia menulis di X, "Mari kita bebaskan para sandera dan segera kirimkan bantuan. Kami kerahkan tim penuh untuk memobilisasi truk besar-besaran dan menyelamatkan nyawa. Mereka membutuhkan akses yang aman."

Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata telah menciptakan ruang untuk dialog, situasi kemanusiaan di Gaza tetap memprihatinkan. Banyak keluarga masih kehilangan anggota keluarga, dan infrastruktur dasar seperti air bersih, listrik, dan layanan kesehatan masih rusak.

Selain itu, Fletcher juga menyoroti perlunya transparansi dan partisipasi aktif dari semua pihak dalam memastikan bahwa gencatan senjata benar-benar memberikan manfaat nyata bagi rakyat Gaza.

3. Trump Janji Tidak Ada Warga Palestina Diusir dari Gaza

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji tidak ada warga Palestina yang akan dipaksa meninggalkan Gaza di bawah kesepakatan gencatan senjata miliknya.

Perjanjian gencatan senjata ini menjadi sebuah capaian setelah 2 tahun genosida yang terjadi di Gaza sejak 7 Oktober 2023. Jika berhasil, pembangunan ulang di Gaza akan berlangsung.

Namun, janji ini masih harus dibuktikan melalui tindakan nyata. Beberapa pengamat khawatir bahwa jika kesepakatan ini gagal atau tidak sepenuhnya dijalankan, warga Palestina bisa kembali menghadapi ancaman pemaksaan pindah dari wilayah mereka.

Trump juga menekankan bahwa kesepakatan ini akan memberikan stabilitas jangka panjang bagi kawasan, serta memperkuat hubungan antara AS dan negara-negara Teluk.

Meski demikian, banyak pihak tetap skeptis terhadap kemampuan Trump dalam menjaga komitmennya, terlebih setelah beberapa kebijakan luar negerinya yang dianggap tidak konsisten.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar