TikTok Lepas Mayoritas Saham, Terhindar dari Blokir AS

TikTok Lepas Mayoritas Saham, Terhindar dari Blokir AS

Pasar smartphone kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada TikTok Lepas Mayoritas Saham, Terhindar dari Blokir AS yang menawarkan spesifikasi menarik. Berikut ulasan lengkapnya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kesepakatan Besar TikTok untuk Tetap Beroperasi di Amerika Serikat

TikTok, platform media sosial yang sangat populer, telah mencapai kesepakatan penting untuk menjual sekitar 80 persen asetnya di Amerika Serikat (AS) kepada sejumlah pihak. Kesepakatan ini menandai langkah strategis bagi perusahaan untuk tetap beroperasi di negara tersebut, meskipun menghadapi tekanan regulasi terkait keamanan nasional.

Kesepakatan ini disepakati pada Kamis (18/12/2025) antara TikTok dan ByteDance, perusahaan induknya, bersama Oracle, perusahaan teknologi AS yang menjadi mitra penyimpanan data TikTok di negara tersebut, serta Silver Lake, sebuah perusahaan ekuitas swasta, dan MGX, investor teknologi dari Abu Dhabi. Ketiganya akan membentuk entitas baru bernama TikTok USDS Joint Venture LLC.

Dalam memo internal perusahaan, CEO TikTok Shou Zi Chew menyatakan bahwa langkah ini akan memungkinkan platform tersebut terhindar dari larangan pemerintah AS dan tetap dapat diakses oleh lebih dari 170 juta pengguna rutin di negara itu.

Struktur Kepemilikan Saham

Struktur kepemilikan usaha patungan ini menempatkan 50 persen saham di tangan konsorsium investor baru. Oracle, Silver Lake, dan MGX masing-masing memegang 15 persen. Sementara itu, 30,1 persen saham akan dimiliki afiliasi investor ByteDance yang sudah ada, sedangkan ByteDance mempertahankan 19,9 persen.

Entitas perusahaan baru ini akan dipimpin oleh dewan direksi beranggotakan tujuh orang dengan mayoritas warga negara Amerika Serikat. Perusahaan ini juga diklaim akan melindungi data warga AS dan kepentingan keamanan nasional.

Perlindungan Data Pengguna

Data pengguna di Amerika Serikat akan tetap disimpan dalam sistem yang dikelola oleh Oracle. Dalam memo tersebut juga disebutkan bahwa pengguna TikTok di AS akan tetap "menikmati pengalaman yang sama seperti sekarang", dan para pengiklan tetap dapat menjangkau audiens global tanpa terdampak oleh kesepakatan ini.

Algoritma TikTok akan dilatih ulang menggunakan data pengguna di Amerika Serikat untuk memastikan distribusi konten video pendek di linimasa para pengguna tidak dipengaruhi pihak luar. Pengelolaan moderasi konten dan kebijakan di AS juga akan berada di bawah kelompok bisnis baru ini.

Kesepakatan Pemecah Kebuntuan

Kesepakatan ini dijadwalkan rampung pada 22 Januari 2026. Perjanjian tersebut diperkirakan mengakhiri ketidakpastian yang berlangsung selama bertahun-tahun, di tengah upaya Pemerintah AS yang memaksa ByteDance melepas bisnis TikTok setelah berulang kali muncul ancaman penutupan dengan alasan keamanan nasional AS.

TikTok, dan perusahaan induknya ByteDance, sejak lama menjadi sumber kekhawatiran bagi Pemerintah AS. Para pejabat AS mencurigai ByteDance menyalurkan data sensitif pengguna warga negara Amerika kepada China. Tuduhan lain menyebut China memanfaatkan algoritma TikTok untuk menyebarkan propaganda dan disinformasi, meski pengguna tidak memilih konten tersebut.

Nasib TikTok berada dalam ketidakpastian sejak 2020, ketika Donald Trump pada masa jabatan pertamanya sebagai presiden berupaya melarang aplikasi tersebut. Di era pemerintahan Joe Biden, AS mengesahkan undang-undang yang mewajibkan TikTok melepas bisnisnya di Amerika Serikat atau terancam dihapus dari platform aplikasi mulai Januari 2025. Aplikasi ini bahkan sempat tak bisa diakses selama beberapa jam pada Januari 2025.

Namun, Trump pada hari pertamanya kembali menjabat sebagai presiden menandatangani perintah eksekutif untuk memperpanjang tenggat waktu dan menunda potensi pelarangan. Dia mempertahankan operasional aplikasi berbagi video itu di AS dengan memberikan tiga kali perpanjangan tambahan sepanjang tahun 2025.

Kesimpulan: Bagaimana pendapat Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Sampaikan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar