Tumbuhnya Kredit di Bawah Target BI, Ini Penjelasan Bankir

Tumbuhnya Kredit di Bawah Target BI, Ini Penjelasan Bankir

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai Tumbuhnya Kredit di Bawah Target BI, Ini Penjelasan Bankir menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Peran Kebijakan Makroprudensial dalam Pertumbuhan Kredit

Pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia masih berada di bawah ekspektasi Bank Indonesia (BI) yang berkisar antara 8% hingga 11%. Meski otoritas moneter telah melakukan sejumlah pelonggaran kebijakan makroprudensial, dampaknya terhadap penyaluran kredit belum terasa signifikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas kebijakan tersebut dan bagaimana bank serta pelaku industri dapat memanfaatkannya secara optimal.

Kebijakan Makroprudensial dan Efektivitasnya

Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum Allo Bank, Ganda Raharja Rusli menyampaikan bahwa meskipun pelonggaran kebijakan makroprudensial telah dilakukan, efeknya belum cukup untuk mengakselerasi pertumbuhan kredit atau menurunkan suku bunga kredit secara signifikan. Menurutnya, bank masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan suku bunga kredit secara bertahap.

“Pelaku industri juga memerlukan waktu untuk bisa memanfaatkan penurunan suku bunga tersebut ke dalam rencana ekspansi investasi bisnis dan kebutuhan modal kerja,” ujarnya.

Ganda menilai bahwa kebijakan yang ada saat ini sudah cukup mendukung pertumbuhan kredit perbankan. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi ekonomi harus stabil agar dunia industri siap berekspansi di awal 2026.

Penurunan Suku Bunga KPR Subsidi dan Non-Subsidi

Di sisi lain, Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu menyampaikan bahwa perseroan telah memberikan suku bunga tetap sebesar 5% untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi sesuai dengan program pemerintah. Selain itu, BTN juga telah menurunkan suku bunga KPR non-subsidi melalui program bunga 2,65%.

Namun, Nixon mengakui bahwa penurunan suku bunga tersebut belum memberikan dampak signifikan karena permintaan atau booking rate KPR nonsubsidi sedikit menurun. Hal ini membuat efek penurunan bunga tidak terlalu terlihat, meskipun secara kebijakan BTN telah melakukan penyesuaian.

Kondisi ini juga tercermin pada imbal hasil atau yield kredit perseroan yang saat ini sudah berada di level rendah. Atas dasar itu, BTN berencana menyurati BI untuk meminta pemahaman dan relaksasi, mengingat sejak awal perseroan menjalankan program pemerintah dengan skema bunga rendah.

Nixon menilai, penurunan lebih lanjut baru akan memungkinkan jika pemerintah menyesuaikan suku bunga KPR subsidi. “Bunga 5% itu sudah rendah menurut saya dan enggak ada produk KPR 20 tahun yang bunganya serendah itu,” ujarnya.

Kondisi Suku Bunga Kredit Secara Agregat

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut bahwa secara agregat suku bunga kredit perbankan baik secara tahunan (year on year/YoY) maupun bulanan (month to month/MtM) sudah mulai menurun, meski penurunannya tidak signifikan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan bahwa meskipun penurunan tidak sebesar yang diharapkan, situasi tersebut menunjukkan adanya lingkungan yang kondusif untuk penurunan lebih lanjut.

Pelonggaran Kebijakan Makroprudensial oleh BI

BI tahun ini telah melakukan pelonggaran kebijakan makroprudensial, mulai dari kenaikan rasio pendanaan luar negeri (RPLN), penurunan rasio penyangga likuiditas makroprudensial (PLM) perbankan, hingga penguatan insentif kebijakan likuiditas makroprudensial (KLM). Tujuannya adalah untuk menambah likuiditas perbankan dan memfasilitasi penyaluran kredit.

Namun, kendati pelonggaran kebijakan telah dilakukan, dampaknya terhadap penyaluran kredit belum terasa. Pada November 2025, kredit perbankan hanya tumbuh 7,74% YoY, yang merupakan tren perlambatan dan masih di bawah perkiraan ekspansi kredit 8%-11% yang disampaikan oleh otoritas moneter.

Suku bunga kredit pun belum turun signifikan kendati BI telah agresif memangkas BI Rate. BI telah memangkas bunga acuan 125 basis poin selama 2025, tetapi suku bunga kredit hanya turun 24 basis poin dari 9,2% pada awal 2025 menjadi 8,96% pada November 2025.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai Tumbuhnya Kredit di Bawah Target BI, Ini Penjelasan Bankir ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar