
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Peningkatan Uang Beredar Sebagai Indikator Pemulihan Ekonomi Nasional
Peningkatan jumlah uang beredar dianggap sebagai indikator positif bagi pemulihan aktivitas ekonomi nasional. Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa peredaran uang primer (M0) meningkat pada September 2025 sebesar Rp 2.152,4 triliun atau tumbuh 18,6 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Agustus 2025 yang sebesar 7,3 persen yoy dengan nilai Rp 1.961,3 triliun.
Menurut Yusuf Rendy Manilet, ekonom dari CORE Indonesia, peningkatan jumlah uang beredar tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk peningkatan investasi dan penyaluran stimulus pemerintah. Ia menjelaskan bahwa di kuartal ketiga, laporan FDI (Foreign Direct Investment) atau investasi asing mengalami peningkatan serta investasi secara umum juga meningkat.
"Kenaikan investasi ini saling berkaitan positif dengan jumlah uang beredar di masyarakat karena aktivitas ekonomi yang lebih tinggi," ujarnya. Selain itu, pertumbuhan dari penyaluran kredit sebesar Rp 200 triliun ke perbankan turut memperbesar likuiditas di pasar.
Yusuf menambahkan bahwa bank pada September kemarin juga mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit, meskipun penyaluran kredit ini tidak langsung terjadi karena stimulus Rp 200 triliun. Ia menilai, meningkatnya realisasi belanja pemerintah pada kuartal III juga menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan uang beredar.
"Saya kira ini capaian yang patut diapresiasi, apalagi jika kita kaitkan dengan upaya untuk mendorong perekonomian di dua kuartal terakhir. Kuartal ke-3 dan kuartal ke-4 ini menjadi cukup positif harapannya, tentu semoga jumlah uang beredar ini bisa juga terlihat pada kinerja perekonomian terutama di kuartal ke-4 nanti," tambahnya.
Peran Kebijakan Moneter dan Dana Pemerintah
Eddy Junarsin, ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), menilai peningkatan uang beredar tidak lepas dari kebijakan moneter longgar yang dilakukan BI serta penempatan dana pemerintah di perbankan. Menurutnya, kebijakan moneter seperti penurunan suku bunga acuan yang dilakukan BI memacu penyaluran kredit.
"Dari sisi pemerintah/kementerian, penempatan dana Rp 200 triliun ikut mendongkrak pertumbuhan uang beredar," katanya. Meski demikian, Eddy menilai dampak stimulus Rp 200 triliun yang dikucurkan pemerintah terhadap sektor riil dan masyarakat belum sepenuhnya dirasakan.
"Itu harus tunggu multiplier effect-nya. Sisi positif yang diharapkan adalah bisnis tumbuh karena lebih mudah pinjam duit, konsumsi domestik meningkat, sehingga pertumbuhan ekonomi terpacu. Potensi sisi negatifnya adalah inflasi yang mungkin meningkat dibanding biasanya," ujarnya.
Komentar dari BI
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyebut kenaikan jumlah uang beredar mencerminkan peningkatan aktivitas ekonomi nasional. Ia menjelaskan bahwa Uang Primer (M0) Adjusted pada September 2025 tumbuh 18,6 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 7,3 persen (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp 2.152,4 triliun.
Faktor-Faktor Pendukung Peningkatan Uang Beredar
Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap peningkatan jumlah uang beredar antara lain:
- Peningkatan Investasi: Kenaikan FDI dan investasi umum yang signifikan di kuartal ketiga.
- Stimulus Pemerintah: Penyaluran dana sebesar Rp 200 triliun yang membantu meningkatkan likuiditas di pasar.
- Kebijakan Moneter Longgar: Penurunan suku bunga acuan yang memicu penyaluran kredit.
- Realisasi Belanja Pemerintah: Kenaikan pengeluaran pemerintah pada kuartal III yang berdampak positif terhadap perekonomian.
Dengan adanya peningkatan uang beredar ini, diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, terutama pada kuartal ke-4 tahun ini. Namun, perlu dipantau pula potensi risiko seperti kenaikan inflasi yang mungkin terjadi akibat efek pengganda dari stimulus yang diberikan.
Komentar
Kirim Komentar