Kota Tasikmalaya: Tantangan di Balik Kemajuan Ekonomi
Kota Tasikmalaya, yang sering disebut sebagai “Pusat Ekonomi di Priangan Tmur”, memiliki peran penting sebagai lokomotif ekonomi yang menggerakkan perdagangan ke berbagai wilayah sekitarnya. Namun, di balik tumbuhnya UMKM dan aktivitas perdagangan yang dinamis, muncul sebuah ironi yang mengejutkan dan tidak bisa dianggap remeh.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Tasikmalaya menduduki posisi ke-91 dari 98 kota di Indonesia dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Angka ini menempatkan kota ini pada daerah dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang masih tertinggal secara nasional. Hal ini memicu pertanyaan mendasar: Apakah pertumbuhan ekonomi yang selama ini dibanggakan benar-benar menyentuh warga, khususnya aspek kesehatan, pendidikan, dan daya beli?
Evaluasi Program Secara Menyeluruh
Mantan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Tasikmalaya, Dr. Ivan Dicksan, menyatakan kekagetannya atas penurunan IPM Kota Tasikmalaya. Menurutnya, sebelumnya, IPM kota ini cenderung meningkat setiap tahunnya, baik secara nasional maupun di tingkat Provinsi Jawa Barat. Namun, saat ini, angka tersebut justru turun.
Ivan menilai bahwa Pemkot Tasikmalaya perlu melakukan evaluasi total terhadap program-program yang ada, terutama yang berkaitan langsung dengan IPM. Evaluasi ini harus melibatkan analisis efektivitas, capaian output dan outcome, serta indikator keberhasilan dari setiap kegiatan.
“Program-program tersebut harus diarahkan untuk meningkatkan partisipasi sekolah, mengatasi siswa putus sekolah, dan lain-lainnya,” ujar Ivan. Ia menegaskan bahwa peningkatan partisipasi sekolah akan berdampak positif pada kualitas SDM.
Selain itu, Ivan juga menyoroti pentingnya meningkatkan daya beli masyarakat. Ini melibatkan upaya untuk meningkatkan pendapatan, menurunkan pengangguran, membuka lapangan kerja, serta mendorong wirausaha.

Perlu Kolaborasi dengan BPS
Ivan menyarankan agar Pemkot Tasikmalaya bekerja sama dengan BPS untuk mengukur IPM di setiap kecamatan. Hasil pengukuran ini dapat digunakan untuk merancang program atau kegiatan yang lebih spesifik sesuai kondisi masing-masing kecamatan.
Ketimpangan Antar Sektor
Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi menegaskan komitmennya untuk melakukan pembenahan menyeluruh. Meski berada di papan bawah, IPM Kota Tasikmalaya menunjukkan tren peningkatan. Namun, ketimpangan antar sektor menjadi masalah utama yang perlu ditangani.
Viman menekankan bahwa pendidikan adalah faktor kunci untuk meningkatkan IPM. Untuk itu, Pemkot telah menyiapkan roadmap pembangunan SDM tahun 2026 yang fokus pada reformasi sistem pendidikan.
Dalam roadmap ini, Pemkot akan melakukan restrukturisasi organisasi dengan memperkuat peran Dinas Pendidikan (Disdik) agar lebih fokus pada peningkatan kualitas pengajaran. Selain itu, materi pembelajaran akan disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja masa depan agar lulusan asal Tasikmalaya memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Kesiapan Pemkot untuk Membangun SDM yang Kompeten
Viman menjelaskan bahwa proses restrukturisasi sedang berlangsung di bagian organisasi. Tujuannya adalah membuat struktur yang lebih fokus pada substansi kurikulum dan kualitas pendidikan. Ia mengakui bahwa Kota Tasikmalaya memiliki potensi besar di sektor ekonomi kreatif dan perdagangan. Namun, tanpa dukungan SDM yang kompeten, potensi ini sulit berkembang secara optimal.
Komentar
Kirim Komentar