
aiotrade,
JAKARTA –
Bank Indonesia (BI) sedang mempertimbangkan kemungkinan pelonggaran moneter pada tahun 2026. Sinyal penurunan suku bunga lebih lanjut ini dianggap akan memberikan dampak positif terhadap saham perbankan yang sempat tertunduk dalam beberapa bulan terakhir.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menjelaskan bahwa suku bunga rendah biasanya menjadi katalis positif bagi sektor perbankan, properti, hingga emiten infrastruktur yang bergantung pada pinjaman bank. Namun, di sisi lain, penurunan suku bunga juga bisa membawa risiko bagi pasar saham.
Berikut beberapa risiko yang muncul jika BI melanjutkan penurunan suku bunga:
-
Ketidakseimbangan suku bunga antara BI dan The Fed
Jika BI menurunkan bunga secara agresif, sementara The Fed tetap bersikap hawkish, maka nilai tukar rupiah bisa mengalami tekanan. Pelemahan rupiah yang drastis dapat memicu capital outflow besar-besaran, meskipun suku bunga domestik masih menarik bagi sektor riil. -
Lambatnya transmisi penurunan suku bunga ke sektor riil
Meskipun suku bunga turun, jika dunia usaha masih pesimis terhadap daya beli masyarakat, permintaan kredit tidak akan meningkat. Hal ini membuat dampak positif dari penurunan suku bunga menjadi tidak optimal. -
Potensi inflasi second-round
Penurunan suku bunga bisa berdampak pada inflasi dari sisi penawaran akibat kebijakan kenaikan PPN menjadi 12% pada 2025. Jika inflasi meningkat, BI mungkin harus menghentikan tren penurunan suku bunga lebih cepat dari perkiraan untuk mengendalikan inflasi.
Selain itu, Muhammad Wafi, Head of Research KISI Sekuritas, menyampaikan bahwa jika transmisi penurunan suku bunga ke sektor riil lambat, maka risiko liquidity trap dan peningkatan inflasi bisa terjadi. Selain itu, jika selisih bunga antara BI dan The Fed semakin tipis, rupiah bisa mengalami fluktuasi yang mengganggu emiten dengan utang dolar dan impor tinggi.
Hari ini, Kamis (18/12), indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup turun 0,68% atau 59,15 poin ke level 8.618,19. Dalam setahun, IHSG telah tumbuh sebesar 21,73% year to date (YtD). Sementara itu, sepanjang tahun ini, Bank Sentral telah menurunkan BI rate sebesar 125 basis poin (bps) di level 4,75%.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Komentar
Kirim Komentar