Apriyani/Fadia Juara Final All-Indonesian, Tanda Kebangkitan Ganda Putri Indonesia

Apriyani/Fadia Juara Final All-Indonesian, Tanda Kebangkitan Ganda Putri Indonesia

Apriyani/Fadia Juara Final All-Indonesian, Tanda Kebangkitan Ganda Putri Indonesia

Kemenangan Apriyani/Fadia di Indonesia Masters II 2025

Di tengah antusiasme penonton di GOR PBSI Sumatera Utara, Apriyani Rahayu dan Siti Fadia Silva Ramadhanti berhasil menjadi juara ganda putri Indonesia Masters II 2025. Pasangan yang sebelumnya meraih medali emas di SEA Games ini memenangkan laga final dengan skor 21-11, 21-17 melawan rekan senegara mereka, Isyana Syahira Meida dan Rinjani Kwinnara Nastine, pada hari Minggu sore.

Advertisement

Bagi Apriyani dan Fadia, kemenangan ini bukan hanya sekadar gelar juara, tetapi juga simbol kebangkitan setelah mengalami fase naik-turun pasca-Olimpiade Paris 2024. Mereka datang ke Medan dengan tekad sederhana: bermain lepas, tetapi dengan ambisi besar. Kami fokus untuk menunjukkan yang terbaik. Target kami tercapai final sesama Indonesia, ujar Apriyani dengan senyum lega setelah pertandingan.

Pertandingan antara dua generasi ganda putri ini menjadi tontonan yang menyegarkan. Di gim pertama, pengalaman Apriyani/Fadia terlihat jelas. Serangan cepat dan variasi pukulan silang membuat Isyana/Rinjani kesulitan keluar dari tekanan. Namun, di gim kedua, permainan menjadi lebih seimbang. Pasangan muda itu memaksa Apriyani/Fadia bekerja keras menjaga ritme hingga akhirnya menutup laga dengan kemenangan dua gim langsung.

Gim kedua tadi cukup menegangkan, mereka benar-benar menekan dan tidak mudah dimatikan, kata Siti Fadia. Kami berusaha tetap fokus dan menggunakan pengalaman kami untuk menyelesaikan pertandingan. Secara keseluruhan, permainan Hira dan Jani bagus.

Apriyani, yang dikenal dengan gaya agresif dan mental baja, menilai kemenangan ini sebagai modal penting menjelang turnamen besar berikutnya. Ia mengakui bahwa dipasangkan kembali dengan Siti Fadia membawa energi positif. Kami sudah tahu satu sama lain, tahu ritme permainan masing-masing. Chemistry dan komunikasi kami sekarang jauh lebih terbuka dan solid, ujarnya.

Dalam dua tahun terakhir, perjalanan mereka tidak selalu mulus. Cedera dan adaptasi setelah jadwal padat turnamen internasional sempat menghambat performa mereka. Namun, di Medan, keduanya tampak menemukan kembali keseimbangan antara kesenangan bermain dan semangat berjuang.

Para penonton di tribun merasakan aura itu. Setiap reli panjang dibalas tepuk tangan, setiap poin krusial menjadi gema kebanggaan. Indonesia kembali melihat tradisi emas di sektor ganda putri yang sempat redup setelah era Greysia Polii. Kini, estafet itu tampak aman di tangan Apriyani/Fadia.

PBSI pun tak menyembunyikan rasa puasnya atas hasil All-Indonesian Final kali ini. Selain menunjukkan kedalaman skuad, capaian ini memperlihatkan bahwa regenerasi berjalan sesuai rencana. Isyana dan Rinjani, meski kalah, dianggap menjanjikan dengan gaya menyerang yang segar dan berani mengambil risiko.

Turnamen di Medan ini juga menjadi panggung refleksi: di tengah persaingan global yang makin ketat, konsistensi menjadi kunci. Bagi Apriyani/Fadia, kemenangan bukan akhir perjalanan, melainkan awal babak baru menuju kejayaan yang lebih besar.

Menang di sini menambah motivasi kami untuk terus maju, kata Apriyani menutup konferensi pers singkatnya. Kami ingin ganda putri Indonesia selalu diperhitungkan di dunia seperti dulu, dan lebih baik lagi sekarang.


Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar