Dari Ceu Popong ke Teh Aanya, Estafet Kepemimpinan Perempuan Jawa Barat

Dari Ceu Popong ke Teh Aanya, Estafet Kepemimpinan Perempuan Jawa Barat

Pertemuan Istimewa antara Dua Generasi Politisi Perempuan Jawa Barat

Suasana hangat berlangsung di sebuah rumah di Jalan Cipaganti, Kota Bandung. Di rumah itu, terjadi pertemuan istimewa antara dua generasi politisi perempuan Jawa Barat. Anggota Komite I DPD RI Aanya Rina Casmayanti menyambangi kediaman politisi senior Popong Otje Djundjunan, dalam sebuah dialog penuh makna tentang estafet kepemimpinan dan demokrasi.

Advertisement

Pertemuan sore Jumat itu bukan sekadar kunjungan formal, melainkan sebuah proses pewarisan nilai-nilai perjuangan dari seorang senior kepada generasi penerus. Ceu Popong, sapaan akrabnya, menyambut hangat kedatangan Teh Aanya, memulai obrolan yang sarat dengan pelajaran berharga.

Refleksi Kritis Seorang Senior

Dengan ketajaman analisisnya, Ceu Popong membedah realitas sistem politik Indonesia. "Di Indonesia lain dari yang lain. DPD kalau di negara lain adalah Senator. Senator di negara lain jauh lebih berkuasa," ujarnya, menyentuh salah satu persoalan mendasar dalam struktur ketatanegaraan kita.

Mantan Anggota DPR RI ini menjelaskan dengan gamblang asimetri kewenangan antara DPD dan DPR. "Lucunya, last decision maker DPR," ungkapnya tentang mekanisme pembentukan undang-undang. Pengalamannya membuktikan, banyak RUU dari DPD yang tidak berlanjut menjadi produk hukum.

Ceu Popong menekankan pentingnya memperjuangkan penguatan kewenangan DPD. "Kesannya puraga tamba kadenda, cuma syarat saja," kritiknya yang pedas namun konstruktif. Bahkan ia mengungkapkan pernah berniat menjadi anggota DPD, namun mengurungkan niat setelah memahami keterbatasan kewenangannya.

Dalam pertemuan ini, terlihat jelas proses transfer knowledge yang sangat berharga. Ceu Popong tidak hanya berbagi pengalaman, tetapi juga membuka akses pada khazanah literasinya. "Nanti boleh buku-buku ini dipinjam. Politisi harus membaca," katanya, menunjukkan koleksi buku-buku karyanya, termasuk "Menjalani Fungsi Representasi Secara Adaptif Melintas Perubahan Zaman" dan ontologi artikel-artikelnya.

Pelajaran Masa Lalu untuk Masa Depan

Ceu Popong juga berbagi kisah unik tentang kehilangan palu di agenda sidang paripurna DPR dengan agenda penetapan Pimpinan DPR periode 2014-2019 yang sampai diketahui anaknya yang menjadi Wakil Dubes di Thailand. Cerita ini menjadi bukti betapa perkembangan teknologi telah mengubah landscape politik dan komunikasi.

Dengan penuh kebijaksanaan, Ceu Popong berpesan: "Keterbatasan wewenang jangan jadi alasan mengatakan tidak mampu jika ada masyarakat yang minta aspirasinya diperjuangkan." Pesan ini menjadi prinsip dasar yang harus dipegang setiap wakil rakyat.

Teh Aanya menyambut hangat bimbingan ini. "Beliau adalah guru saya, orang tua saya dan idola saya. Beliau tak pernah pelit ilmu," ujarnya dengan penuh hormat.

Menuju Regenerasi yang Bermakna

Pertemuan ini menjadi bukti bahwa regenerasi politik tidak sekadar pergantian generasi, tetapi juga transfer nilai, pengetahuan, dan semangat perjuangan. Ceu Popong menekankan pentingnya konsistensi, kemampuan menulis, dan penguasaan literasi politik - bekal penting untuk membangun demokrasi yang lebih matang.

Dalam balutan rintik hujan Bandung, dua generasi politisi perempuan ini merajut benang-benang estafet kepemimpinan. Sebuah pertemuan yang tidak hanya menghangatkan sore yang dingin, tetapi juga mengobarkan api perjuangan untuk demokrasi yang lebih baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar