
Kapal Pelni sebagai Jembatan Kehidupan di Pulau-Pulau Terpencil
Kehadiran Kapal Motor (KM) Sangiang milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) tidak hanya menjadi alat transportasi bagi warga pulau-pulau terpencil seperti Banda. Bagi mereka, kapal ini adalah jantung kehidupan yang menghubungkan antara kota besar dan daerah pedalaman. Dengan perjalanan yang sering kali memakan waktu berjam-jam, KM Sangiang menjadi satu-satunya opsi untuk menjangkau fasilitas kesehatan, pendidikan, atau bahkan keluarga di tempat lain.
Fatma, seorang ibu berusia 50 tahun asal Pulau Banda, memiliki cerita unik tentang bagaimana kehadiran KM Sangiang membantu keluarganya. Anaknya, Sami, berusia 30 tahun, mendapatkan rujukan setelah mengalami kecelakaan motor pekan lalu. Untuk bisa sampai ke Pulau Geser, Seram Timur, Fatma harus mengandalkan KM Sangiang yang berlayar pada Kamis (23/10) malam.
"Saya tidak tahu lagi bagaimana anak saya untuk berobat. Baru ada Kapal Motor Sangiang (milik Pelni), yang lain belum datang (di Banda)," ujar Fatma.
Pilihan transportasi di Banda sangat terbatas. Misalnya, KM Sangiang hanya tersedia setiap hari Kamis, sedangkan Kapal Motor (KM) Sabuk Nusantara 106 baru akan tiba dan berlayar ke Pulau Geser pada Sabtu (25/10). Meski tarif KM Sangiang mencapai Rp 180 ribu per orang, Fatma merasa bahwa biaya tersebut lebih terjangkau dibandingkan dengan sewa kapal cepat yang harganya jauh lebih mahal.
Di dek ekonomi, Fatma berselonjor di kasur matras gratis dari Pelni yang dia gelar. Tidak ada ruang pribadi, hanya ruang terbuka yang dibagi bersama ratusan penumpang lain. Namun, bagi Fatma, bisa berangkat saja sudah cukup.
"KM Sangiang tiketnya Rp 180 ribu, lebih mahal daripada Kapal Sabuk Nusantara 106, tetapi masih bisa kejangkau daripada kapal sewaan lain karena mahal," tambah dia.
Harapan di Atas Ombak
Selain Fatma, kehadiran KM Sangiang sore itu juga menjadi harapan besar bagi seorang penumpang lain yang diketahui akan dirujuk ke rumah sakit di Ambon, Maluku. Berdasarkan pantauan, seorang ibu asal Banda tampak terbaring di atas tandu. Menurut informasi dari Manager Komunikasi Korporasi Pelni, Ditto Pappilanda, ibu yang ditandu itu harus memperoleh perawatan intensif di rumah sakit rujukan lantaran sakit ginjal yang dialaminya.
Menurut Ditto, KM Sangiang rute BitungTernateBacanSananaNamleaAmbonBandaGeserFakfak (pulang-pergi) ini sudah menjadi andalan warga di kawasan Timur Indonesia. Termasuk mereka yang membutuhkan perawatan intensif di kota besar yang terletak di pulau lain.
Layanan Kesehatan di Atas Kapal
Meskipun begitu, setiap penumpang dengan kondisi yang membutuhkan perawatan intensif, pihak Pelni menyaratkan surat khusus dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Penumpang sakit yang memang tidak memungkinkan berada di tempat tidur kelas ekonomi. Pelni menyediakan ruangan khusus, berupa Poliklinik yang berada di atas kapal lengkap dengan seorang tenaga medis.
"Kalau kondisinya tidak memungkinkan di dek ekonomi, kita punya poliklinik. Punya bed (kamar inap) obat-obatan yang menunjang untuk penanganan dasar dan standar," kata Ditto kepada wartawan di KM Sangiang, dikutip Minggu (26/10).
"Jadi, insya Allah, jika ada penumpang yang sedang dalam perjalanan mengalami gangguan kesehatan ringan atau membutuhkan sedikit bantuan, mereka dapat mengakses poliklinik. Semua kapal penumpang kami memiliki poliklinik," tambah Ditto.
Selain itu, Ditto juga memastikan bahwa seluruh layanan kesehatan yang diberikan kepada penumpang selama periode pelayaran tidak dikenakan biaya sepeser pun alias gratis. Termasuk, saat pelayaran Banda-Ambon yang memakan waktu hingga 16 jam di lautan.
Kebijakan Khusus untuk Ibu Hamil
Tak jarang, lanjut Ditto, banyak ibu hamil yang melahirkan di tengah deburan ombak pelayaran Kapal Pelni. Itu sebabnya, BUMN transportasi ini memiliki kebijakan tegas terkait penumpang ibu hamil di atas 7 bulan.
"Penumpang dengan usia kehamilan lebih dari 7 bulan, tidak boleh naik kapal Pelni. Kecuali, jika ada gangguan terhadap kehamilan dan diminta untuk dirujuk ke fasilitas kesehatan lain," tandas Ditto.
Komentar
Kirim Komentar