
Perayaan Jemparingan yang Menggembirakan
Gladhen Ageng Jemparingan 2025 diadakan oleh Pemerintah Kabupaten Kulon Progo melalui Dinas Pariwisata (Dispar) di Alun-alun Wates, pada hari Minggu (26/10/2025). Acara ini menjadi ajang lomba Jemparingan tingkat nasional yang diikuti oleh hingga 1.474 peserta dari berbagai wilayah di Indonesia.
Joko Mursito, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Jemparingan Bandul Nusantara sekaligus Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Kulon Progo, menjelaskan bahwa dalam lomba kali ini, sasaran utamanya adalah Bandul. Ia mengatakan bahwa bentuk sasaran dalam Jemparingan ini berbeda dengan yang biasanya berbentuk lingkaran.
Kulon Progo memiliki peran penting dalam pengembangan olahraga tradisional ini. Tahun 2017 silam, lomba Jemparingan nasional pertama kali diselenggarakan di daerah ini. Sejak saat itu, Jemparingan semakin berkembang dan menarik banyak perhatian masyarakat.
Menurut Joko, terdapat banyak paguyuban yang dibentuk dari berbagai wilayah di Indonesia. Setiap paguyuban memiliki tujuan berbeda dalam melakukan Jemparingan. Beberapa hanya melakukannya sebagai olahraga, sementara yang lain menjadikannya sebagai daya tarik wisata.
Namun, setiap paguyuban tetap harus mengikuti aturan Jemparingan sesuai asalnya, yaitu Kesultanan Yogyakarta. Awalnya, Jemparingan hanya diperuntukkan bagi prajurit Kraton Yogyakarta, baru kemudian pada era 1980 hingga 1990, masyarakat umum diperbolehkan ikut serta.
Pelaksanaan Gladhen Ageng Jemparingan tahun ini berhasil memecahkan rekor jumlah peserta terbanyak. Rekor ini diharapkan dapat meningkatkan popularitas Jemparingan sebagai salah satu olahraga tradisional yang semakin dikenal publik.
"Kegiatan ini bisa menjadi promosi wisata dan budaya sekaligus mengembangkan nilai-nilai budaya kemataraman," ujar Joko. Ia juga menyampaikan apresiasinya kepada Pemkab Kulon Progo yang terus melestarikan Jemparingan, termasuk dukungan dari Paniradya Keistimewaan DIY melalui Dana Keistimewaan (Danais) DIY.
Gladhen Ageng Jemparingan disambut antusias oleh ribuan peserta meski acara berlangsung di tengah guyuran hujan. Tak hanya dewasa, peserta juga mencakup anak-anak yang seluruhnya mengenakan busana Gragak Mataram.
Vinza, peserta dari Kota Yogyakarta, merasa cuaca hujan menjadi tantangan tersendiri bagi penjemparing. Ia harus menyiapkan strategi matang agar bisa memanah secara tepat sasaran. "Tahun lalu saya juga ikut dan kondisinya juga hujan begini meski hanya sebentar," kata pria yang sudah ketiga kalinya menjadi peserta Gladhen Ageng Jemparingan.
Vinza mengatakan bahwa Gladhen Ageng Jemparingan menjadi agenda tahunan yang paling ditunggu oleh para penjemparing. Tidak hanya dari DIY, tapi juga dari seluruh Indonesia. Ia pun bersyukur gelaran tahun ini berhasil memecahkan rekor MURI bahkan rekor dunia dengan peserta terbanyak.
Ia berharap rekor tersebut bisa membawa manfaat bagi promosi Jemparingan. "Semoga Jemparingan bisa tetap dilestarikan agar tetap eksis ke depannya," ujar Vinza.
Komentar
Kirim Komentar