Mengapa Nama Orang Jawa Tidak Memakai Marga?

Mengapa Nama Orang Jawa Tidak Memakai Marga?

Mengapa Nama Orang Jawa Tidak Memakai Marga?

Tradisi Nama dan Sistem Kekerabatan di Kalangan Masyarakat Jawa

Di Indonesia, banyak suku memiliki kebiasaan menempelkan marga di nama mereka. Misalnya, orang Batak memiliki marga seperti Simanjuntak, Siregar, atau Nasution. Di Minahasa, marga seperti Lumingkewas dan Kaunang sering digunakan. Sementara di Bali, nama seperti Wayan, Made, dan Ketut menunjukkan urutan kelahiran seseorang. Namun, berbeda dengan suku-suku lain, masyarakat Jawa tidak memiliki sistem marga yang khas. Nama seperti Sukarno, Suharto, Wiji Thukul, atau Ganjar Pranowo umumnya tidak diikuti oleh marga di belakangnya. Hal ini sering memicu pertanyaan: mengapa suku terbesar di Indonesia justru tidak mengenal sistem marga seperti yang ditemukan pada suku lain?

Advertisement

Tradisi Nama yang Mengandung Doa

Dalam budaya Jawa, nama dianggap sebagai doa dan harapan dari orang tua kepada anak. Menurut riset yang dilakukan oleh tim Riset aiotrade, penamaan tradisional Jawa cenderung bersifat personal dan filosofis. Contohnya, nama Eko biasanya diberikan untuk anak pertama, sedangkan Tri untuk anak ketiga. Nama seperti Sukardi memiliki makna hati baik. Antropolog Koentjaraningrat dalam buku Kebudayaan Jawa (1984) menjelaskan bahwa penamaan orang Jawa lebih berorientasi pada makna simbolik daripada pewarisan nama keluarga. Oleh karena itu, setiap generasi bebas memilih nama baru sesuai dengan nilai dan makna yang diinginkan.

Sistem Kekerabatan Bilateral

Berbeda dengan suku Batak yang mengikuti garis ayah (patrilineal) atau Minangkabau yang mengikuti garis ibu (matrilineal), masyarakat Jawa memiliki sistem kekerabatan bilateral. Artinya, garis keturunan diakui dari dua sisiayah dan ibusehingga tidak ada satu nama keluarga yang diwajibkan untuk diteruskan. Dalam sistem ini, identitas seseorang lebih melekat pada diri pribadi dan lingkungan sosialnya, bukan pada nama keluarga besar yang diwariskan turun-temurun. Karena itu, struktur sosial masyarakat Jawa lebih menekankan pada nilai harmoni dan kesopanan, bukan pada garis marga.

Trah: Bentuk Klan Tanpa Nama Belakang

Meski tidak memiliki marga, masyarakat Jawa tetap memiliki sistem pengelompokan genealogis yang disebut trah. Trah merupakan kelompok keluarga besar yang berasal dari satu leluhur, biasanya disebut dengan nama tokoh pendiri keluarga, seperti Trah Mbah Sastro atau Trah Mbah Mangun. Pertemuan keluarga besar sering diadakan dalam bentuk reuni trah atau kenduren trah, yang berfungsi memperkuat hubungan antar keturunan. Fungsi sosialnya mirip dengan marga pada suku lain, hanya saja trah tidak diwujudkan dalam nama resmi.

Pengetahuan Leluhur yang Sangat Detail

Masyarakat Jawa juga dikenal memiliki sistem pengetahuan leluhur yang sangat mendalam. Dalam tradisi lisan, dikenal urutan penyebutan leluhur yang bisa mencapai lebih dari sepuluh tingkat, mulai dari bapak simbah buyut canggah wareng udheg-udheg gantung siwur gropak senthe debog bosor guyangan lintang angling. Sistem ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa sangat menghargai hubungan genealogis, walau tidak menandainya lewat nama belakang. Pengetahuan ini diwariskan melalui tutur keluarga, catatan babad, dan ritual seperti nyadran atau ziarah leluhur.

Status Sosial Ditandai dengan Gelar, Bukan Marga

Pada masa kerajaan, status sosial orang Jawa sering ditunjukkan melalui gelar kebangsawanan, bukan marga. Gelar seperti Raden, Mas, atau Raden Ayu berfungsi menandai derajat sosial seseorang, terutama di lingkungan kraton. Sementara masyarakat biasa menggunakan nama sederhana tanpa gelar khusus. Tim Riset aiotrade mencatat, sistem gelar ini berfungsi mirip dengan marga karena mengisyaratkan asal-usul atau kedudukan, tetapi tidak diwariskan secara formal kepada seluruh keturunan.

Identitas yang Lebih Dinamis dan Sosial

Beberapa peneliti seperti Benedict Anderson dan Hildred Geertz menulis bahwa identitas orang Jawa cenderung cair. Seseorang dinilai bukan dari nama keluarganya, melainkan dari laku, perilaku, dan moralitas dalam kehidupan sehari-hari. Konsep nama baik lebih bermakna daripada nama keluarga. Inilah sebabnya, sistem marga tidak pernah tumbuh kuat di Jawa. Hubungan antar manusia dijaga lewat etika, gotong royong, dan nilai sosial, bukan lewat penanda nama.

Meski tidak memakai marga, orang Jawa tetap memiliki hubungan genealogis yang kuat dan terstruktur. Tradisi trah, penghormatan kepada leluhur, serta pengetahuan tentang tingkatan generasi menunjukkan bahwa ingatan terhadap asal-usul keluarga tetap terjaga rapi. Mereka hanya memilih jalan berbeda dalam mengekspresikan identitas leluhur, lebih lewat budaya dan kebersamaan, bukan lewat nama yang diwariskan.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar