Perbandingan Kereta Cepat Whoosh Indonesia dan Land Bridge Arab Saudi, Mana yang Lebih Boros?

Perbandingan Kereta Cepat Whoosh Indonesia dan Land Bridge Arab Saudi, Mana yang Lebih Boros?

Perbandingan Kereta Cepat Whoosh Indonesia dan Land Bridge Arab Saudi, Mana yang Lebih Boros?

Proyek Kereta Cepat Whoosh Jakarta-Bandung: Dari Harapan Hingga Beban Berat

Proyek kereta cepat Whoosh yang menghubungkan Jakarta dan Bandung sejauh 142,3 km menjadi salah satu proyek strategis nasional (PSN) yang diharapkan mampu mempercepat perjalanan antar kota. Namun, di balik kebanggaan pemerintah, proyek ini justru menimbulkan beban finansial yang berat bagi BUMN Indonesia, terutama PT Kereta Api Indonesia (KAI).

Advertisement

Total investasi proyek Whoosh mencapai 7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp116 triliun. Angka ini jauh melampaui estimasi awal yang hanya sebesar 6,07 miliar dollar AS. Pembengkakan biaya sebesar 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp19,54 triliun menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan tekanan pada keuangan PT KAI.

Untuk membiayai proyek ini, sebanyak 75 persen dana berasal dari pinjaman China Development Bank, sedangkan sisanya berasal dari setoran modal pemegang saham, yaitu PT KCIC yang merupakan gabungan dari PSBI (60 persen) dan Beijing Yawan HSR Co Ltd (40 persen). Hal ini membuat PT KAI sebagai pemimpin konsorsium PSBI harus menanggung porsi kerugian terbesar.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin bahkan menyebut besar utang proyek Whoosh ini bagai bom waktu. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan koordinasi dengan BPI Danantara untuk menanganinya. Kami akan koordinasi dengan Danantara untuk masalah KCIC ini, terutama kami dalami juga. Ini bom waktu, ujar Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI.

Whoosh adalah sistem kereta api berkecepatan tinggi pertama di Indonesia dan Asia Tenggara. Kereta ini memiliki kecepatan operasional hingga 350 km/h dan melintasi jalur Tegalluar SummareconHalim. Dengan kecepatan tersebut, waktu tempuh Jakarta-Bandung bisa ditempuh dalam waktu 36-44 menit, jauh lebih cepat dibanding perjalanan darat yang biasanya membutuhkan waktu 3-4 jam.

Harga tiket yang dipatok untuk menaiki kereta cepat Whoosh adalah Rp 250.000-Rp 300.000 untuk sekali perjalanan. Kereta ini memiliki tiga kelas, yakni VIP dengan total 18 penumpang, kelas 1 dengan 28 penumpang, dan kelas 2 dengan 555 penumpang.

Awal Mula Proyek Whoosh

Proyek Whoosh digagas sejak era Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2011, dengan Jepang sebagai mitra utama melalui JICA (Japan International Cooperation Agency). Jepang telah melakukan studi kelayakan hingga menggelontorkan biaya sebesar 3,5 juta dollar AS, dan menawarkan pinjaman bunga rendah 0,1 persen dengan tenor 40 tahun, memakai skema Government-to-Government (G2G) dan biaya estimasi 5 hingga 6,2 miliar dollar AS.

Namun, pada 2015, Jokowi yang saat itu menjabat Presiden RI, memilih China sebagai mitra untuk membangun Whoosh. Alasannya, China menawarkan skema Business-to-Business (B2B) tanpa jaminan APBN, berbagi teknologi lebih luas, dan pinjaman sebesar 5 miliar dollar AS tanpa syarat ketat seperti Jepang, meski bunganya lebih tinggi, yakni 2 hingga 3,4 persen.

Keputusan ini dinilai kontroversial dan menyebabkan Jepang marah. Ignasius Jonan yang saat itu menjabat sebagai Menteri Perhubungan RI menyatakan penolakan karena menganggapnya tidak menguntungkan, tapi akhirnya dipecat.

Whoosh ditetapkan sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016.

Bandingkan dengan Kereta Cepat Arab Saudi

Arab Saudi kini sedang menggarap proyek kereta api (KA) berkecepatan tinggi dengan rel jauh lebih panjang dibanding Whoosh di Indonesia. Nilai proyeknya lebih murah dari Whoosh. Rel kereta cepat sepanjang 1.500 kilometer (km) bakal menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Arab.

Anggaran dana yang disediakan mencapai 7 miliar dollar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 112 triliun. Kereta cepat tersebut diberi nama Land Bridge. Land Bridge bakal beroperasi dengan rute Jeddah ke Dammam melalui Riyadh.

Proyek ini dikerjakan oleh konsorsium SaudiTiongkok, melibatkan Saudi Arabia Railways, China Civil Engineering Construction Company (CCECC), dan Al-Ayuni Contracting dari pihak lokal. Sejumlah perusahaan internasional juga ikut berperan, seperti Systra (Prancis), Thales, WSP, Hill International (AS), Italferr (Italia), dan Sener (Spanyol).

Dikutip dari Daleel, dengan adanya teknologi moda transportasi ini, perjalanan dari Riyadh ke Jeddah diperkirakan hanya membutuhkan waktu 4 jam. Hal ini mempersingkat perjalanan Riyadh ke Jeddah yang bisa mencapai 12 jam jika menggunakan mobil.

Bagian dari Visi Saudi 2030

Berdasarkan Visi Saudi 2030, pembangunan rel kereta api bakal diperpanjang dari 5.300 km menjadi 8.000 km. Proyek ini menempatkan Kerajaan Arab Saudi sebagai pusat logistik bagi Teluk dan dunia Arab yang lebih luas.

Tak hanya rel yang panjang, perusahaan Kereta Api Saudi juga bakal membangun stasiun kereta barang dan penumpang yang menghubungkan Pelabuhan Raja Abdullah dengan pusat-pusat industri lainnya seperti Yanbu. Sebagai bagian dari peningkatan tersebut, 15 kereta baru yang mampu melaju hingga 200 km/jam telah dipesan. Layanan mewah "Dream of the Desert" turut dibangun dengan membentang sekitar 1.290 km dari Riyadh ke Qurayyat.

Perjalanan ini menawarkan pemandangan yang indah melintasi beragam lanskap. Rencana tersebut juga mencakup kereta bertenaga hidrogen untuk mendukung transportasi yang lebih bersih.


Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar