
Jennifer Aniston dan Rahasia Kebugarannya di Usia 56 Tahun
Jennifer Aniston, aktris Hollywood terkenal, menjadi inspirasi bagi banyak perempuan yang ingin tetap menjaga bentuk tubuh prima meski sudah memasuki usia 56 tahun. Yang menarik adalah rahasia utama di balik kebugarannya bukanlah latihan intensif, melainkan sebuah rutinitas kebugaran yang efisien dan berfokus pada fungsi, yaitu Pvolve.
Pvolve adalah metode kebugaran fungsional dengan intensitas rendah yang menekankan latihan resistensi, mobilitas, dan stabilitas. Metode ini dipilih oleh Aniston untuk mengencangkan dan memperkuat tubuhnya, bahkan saat ia melewati masa menopause.
Pelatih kebugaran Aniston, Dani Coleman, membagikan lima gerakan andalan dalam sebuah video di Instagram. Berikut adalah beberapa gerakan yang sering dilakukannya:
-
Squat to Overhead Press
Gerakan gabungan ini melatih kaki, bokong, inti, dan bahu. Fokus utamanya adalah meningkatkan kekuatan, tenaga, dan mobilitas. -
Inner Thigh Glide + Oblique Reach
Latihan ini menargetkan paha bagian dalam, otot perut samping, dan inti. Tujuannya adalah meningkatkan fleksibilitas, keseimbangan, dan stabilitas tubuh. -
Standing Core Work dengan P.Band
Menggunakan pita resistensi khusus, gerakan ini berfokus pada penguatan inti dalam posisi berdiri. Selain itu, latihan ini juga melatih kaki dan bahu, sangat penting untuk meningkatkan stabilitas dan memperbaiki postur. -
Abdominal Work dengan P.Ball
Dengan bantuan bola Pvolve, latihan ini menargetkan inti dan otot perut secara lebih spesifik. Tujuan dari gerakan ini adalah meningkatkan kekuatan otot, fleksibilitas, dan kontrol tubuh. -
Plank Challenge dengan P.Ball
Variasi plank yang intensif ini bekerja pada inti, bahu, dan lengan. Gerakan ini menekankan pada pembangunan kekuatan, stabilitas, dan daya tahan.
Studi yang Mendukung Program Ini
Menurut studi dari University of Exeter pada Maret 2025 yang dipublikasikan dalam Medicine and Science in Sports and Exercise, program latihan resistensi kunci seperti Pvolve sangat tepat untuk menjaga kekuatan, keseimbangan, dan vitalitas pada wanita yang memasuki usia 40-an, 50-an, dan seterusnya.
Studi tersebut mengamati 70 perempuan berusia 4060 tahun, yang tidak satu pun di antaranya menjalani terapi sulih hormon (HRT). Mereka dibagi menjadi dua kelompok, satu kelompok menjalani rutinitas latihan resistensi berdampak rendah yang diawasi (meniru Pvolve) dan kelompok lainnya melanjutkan aktivitas rutin mereka.
Setelah 12 minggu, wanita yang melakukan latihan berdampak rendah merasakan peningkatan kekuatan pinggul hingga 20 persen, peningkatan keseimbangan dan fleksibilitas yang signifikan, serta sebanyak dua persen mengalami peningkatan massa otot tanpa lemak bahkan tanpa beban berat. Hasil ini menunjukkan bahwa menopause tidak menghambat kemajuan mereka.
Menurut penulis studi, penurunan hormon seks tidak memengaruhi kemampuan wanita untuk membangun kekuatan dan keseimbangan melalui latihan ketahanan berdampak rendah.
Melika Ayaza berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Komentar
Kirim Komentar