Tren Investasi Kripto Meningkat, Imbal Hasil Tinggi tapi Risiko Juga Besar

Tren Investasi Kripto Meningkat, Imbal Hasil Tinggi tapi Risiko Juga Besar

Featured Image

Tren Investasi Aset Digital di Indonesia

Minat masyarakat Indonesia terhadap aset digital semakin meningkat, tidak hanya sebagai alat untuk trading jangka pendek tetapi juga sebagai sarana menabung. Banyak platform lokal kini menyediakan fitur simpanan dengan imbal hasil yang cukup menarik. Namun, meski tampak menjanjikan, investasi dalam bentuk kripto tetap memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan secara matang.

Advertisement

Salah satu contoh dari tren ini adalah aplikasi Pintu yang kembali meluncurkan program Flexi Earn Super Rate Up pada September hingga November 2025. Program ini memungkinkan pengguna menyimpan aset digital seperti Cardano (ADA) dan Kusama (KSM) dengan imbal hasil tertentu. Dari pengalaman sebelumnya, jumlah pengguna yang berpartisipasi dalam program serupa meningkat hingga 45 persen, sementara total setoran naik lebih dari 2.500 persen.

Meskipun menawarkan potensi keuntungan, tren simpanan kripto dengan imbal hasil tinggi memiliki konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Harga aset digital sangat fluktuatif dan tidak dijamin oleh lembaga penjamin seperti tabungan bank konvensional. Artinya, meskipun ada peluang untung, risiko kerugian juga bisa muncul kapan saja karena tingginya volatilitas pasar.

Survei internasional Crypto Survey 2025 oleh Strategy& PwC terhadap 2.500 investor di berbagai negara menunjukkan pola yang sama. Sekitar 50 persen responden memilih strategi 'buy & hold', 37 persen melakukan trading harian, dan 31 persen menggunakan saving plan. Angka tersebut menunjukkan bahwa satu dari tiga investor memanfaatkan kripto layaknya tabungan digital, meski tidak semua memahami risiko di baliknya.

Di Indonesia, daya tarik kripto didorong oleh generasi muda yang melek teknologi dan lebih berani mengambil risiko. Namun, tanpa literasi keuangan yang cukup, tren ini bisa memicu masalah baru. Banyak investor pemula sering terjebak fenomena fear of missing out (FOMO) dan masuk ke pasar tanpa perhitungan matang.

Pihak Pintu sendiri menegaskan pentingnya edukasi sebelum berinvestasi. Head of Product Marketing Pintu, Iskandar Mohammad, menjelaskan bahwa pihaknya selalu mengingatkan pengguna untuk melakukan riset mandiri, tidak terbawa euforia, dan memastikan dana yang dialokasikan untuk investasi kripto berasal dari dana khusus, bukan kebutuhan pokok.

"Tujuan kami adalah agar adopsi kripto di Indonesia bisa tumbuh dengan sehat dan berkelanjutan," ujar Iskandar di Jakarta, Senin (29/9).

Dengan demikian, meski peluang imbal hasil dari menabung aset digital cukup besar, risiko yang menyertainya tetap harus diperhitungkan. Investor pemula disarankan memulai secara bertahap, memahami profil risiko, dan tidak hanya mengikuti tren. Penting untuk selalu mempertimbangkan kemampuan finansial dan memahami dinamika pasar sebelum memutuskan untuk berinvestasi dalam aset digital.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar