Pembatalan Pertemuan Trump dengan Putin
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memutuskan untuk membatalkan rencana pertemuan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Keputusan ini diambil karena kurangnya kemajuan dalam negosiasi perdamaian antara kedua pihak. Pertemuan yang awalnya direncanakan berlangsung di Budapest, Hungaria, terjadi bersamaan dengan pengumuman sanksi baru yang menargetkan ekspor minyak Rusia.
Sanksi tersebut diberlakukan karena Rusia dinilai tidak cukup berkomitmen terhadap proses perdamaian perang di Ukraina. Sanksi ini menyasar dua perusahaan minyak terbesar Rusia, yang bertanggung jawab atas pendanaan mesin perang Kremlin. Informasi ini dilansir oleh Straits Times pada Rabu (22/10/2025).
Alasan Pembatalan Pertemuan
Pembatalan pertemuan ini terjadi karena Trump merasa bahwa waktu yang dipilih tidak tepat dan khawatir hanya akan berakhir sia-sia. Ia merasa frustrasi dengan negosiasi yang mandek, meskipun ia selalu mengklaim memiliki percakapan yang baik dengan Putin.
"Satu-satunya yang bisa saya katakan adalah, setiap kali saya berbicara dengan Vladimir, percakapan saya selalu baik, dan setelah itu tidak ada kemajuan. Sama sekali tidak ada kemajuan," ujar Trump, dilansir oleh BBC.
Trump sebelumnya telah bertemu Putin di Alaska pada Agustus lalu, namun tanpa hasil konkret dan pertempuran terus berlanjut. Trump mengusulkan agar negosiasi dimulai dengan pembekuan garis pertempuran, yang kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan tentang wilayah. Namun, Rusia menolak gagasan ini dan menuntut Ukraina menarik seluruh pasukannya dari wilayah Donbas. Selain itu, Moskow juga ingin mengontrol seluruh wilayah tersebut, bukan hanya porsi yang telah berhasil diduduki.
Sanksi Terbaru AS terhadap Perusahaan Minyak Rusia
Sanksi terbaru AS menargetkan dua perusahaan minyak terbesar Rusia, yaitu Open Joint Stock Company Rosneft Oil Company (Rosneft) dan Lukoil OAO (Lukoil). Kedua perusahaan ini disebut sedang atau pernah mengoperasikan sektor energi ekonomi Federasi Rusia.
Rosneft dan Lukoil adalah perusahaan energi yang bergerak di bidang eksplorasi, produksi, pemurnian, transportasi, dan penjualan minyak bumi dan gas alam. AS juga menetapkan sejumlah anak perusahaan Rosneft dan Lukoil yang berbasis di Rusia, termasuk Limited Liability Company Lukoil Perm dan Joint Stock Company Ryazan Oil Refinery Company.
Tujuan dari sanksi ini adalah untuk mengurangi kemampuan Kremlin dalam membiayai perangnya di Ukraina. Rosneft sendiri bertanggung jawab atas hampir setengah dari seluruh produksi minyak Rusia, yang diperkirakan mencapai 6 persen dari total output global. Secara total, dua perusahaan minyak Rusia ini mengekspor 3,1 juta barel minyak per hari.
Trump berharap agar sanksi tersebut bersifat sementara dan dapat segera dicabut jika Rusia setuju untuk menghentikan perang.
Implikasi Sanksi Terbaru AS ke Rusia

Sanksi ini memiliki implikasi hukum yang ketat bagi siapa pun yang terlibat dengan entitas yang diblokir. Semua properti dan kepentingan properti dari orang atau entitas yang ditunjuk, yang berada di AS atau dikendalikan oleh orang AS, harus diblokir dan dilaporkan.
Aturan ini juga berlaku otomatis untuk entitas apa pun yang dimiliki, secara langsung atau tidak langsung, 50 persen atau lebih, oleh pihak yang diblokir. Sanksi ini menambah tekanan pada Rusia yang menjadikan minyak dan gas sebagai ekspor terbesar, terutama kepada pelanggan utama seperti China, India, dan Turki.
Lebih lanjut, lembaga keuangan asing yang melakukan atau memfasilitasi transaksi signifikan dengan pihak-pihak ini, terutama yang terkait dengan basis industri militer Rusia, berisiko dikenakan sanksi sekunder.
Kami siap untuk mengambil tindakan lebih lanjut jika diperlukan untuk mendukung upaya Presiden Trump mengakhiri perang ini, kata Menteri Keuangan AS, Scott Bessent.
Komentar
Kirim Komentar