
Pengalaman Keluarga dalam Menghadapi MBG di Sekolah
Anak-anak saya yang bersekolah di SD memiliki tiga orang, dan sekitar dua bulanan mereka mendapatkan jatah Makanan Berbuka Puasa (MBG) di sekolahnya. Sama halnya dengan kakaknya yang sedang bersekolah di SMP. Ketiga anak saya yang di SD sering membawa MBG ke rumah karena guru mereka menyarankan untuk membawa misting agar makanan tetap terjaga. Anak-anak ini juga sering memakan apa saja yang mereka sukai, dan kebiasaan makan mereka cukup sulit.
Saya dan isteri bekerja sebagai pengajar, sehingga seringkali menerima MBG sisa dari siswa yang tidak hadir. Kami juga sering membawa makanan yang kami terima ke rumah. Akibatnya, di rumah terkumpul MBG dari tiga anak SD dan dua dari kami sendiri. Sementara itu, anak yang di SMP tidak pernah membawa MBG ke rumah, katanya bila tidak dimakan, ia kumpulkan saja bersama dengan yang lain.
Secara teori, MBG seharusnya bisa mengurangi uang jajan anak dan menabungkannya. Namun dalam kenyataannya, anak saya yang SD berangkat ke sekolah membawa uang Rp 5.000,- dan biasanya cukup sampai pulang. Kini, kebiasaannya berubah, yaitu suka membeli makanan yang harganya di atas lima ribu rupiah. Sehingga sering kali ketika istirahat, mereka pulang dulu dan meminta uang tambahan untuk jajan.
Ketiga anak ini sering jajan makanan yang biasanya ada di sekolah atau di sekitar rumah. Kebetulan sekolahnya hanya berjarak lima rumah dari rumah kami. Dekatnya dengan sekolah membuat anak kami sering pulang ke sekolah waktu istirahat. Mereka memang kadang pulang dulu untuk menyimpan MBG dalam misting dan kadang diteruskan dengan meminta tambahan jajan.
Dari semua sisa makanan MBG yang ada, isteri saya sering menghangatkan kembali makanan MBG dan memakannya untuk makan malam atau menyimpan di kulkas untuk waktu yang lain. Sering kali nasi yang dimasak di rumah tersisa karena kami memakan sisa MBG yang kami dapatkan. Dan kadang sisa nasi yang basi, saya bawa ke rumah mertua yang memelihara ayam dan bebek untuk campuran makanan ayam dan bebek.
Kebiasaan Makan yang Sulit Dibentuk
Kebiasaan makan yang sehat memang sangat sulit dibentuk. Dengan adanya MBG seharusnya anak-anak memakan dan menghabiskannya. Kebiasaan anak kami dalam makan biasanya dengan mengonsumsi mie instan dan menambahkannya dengan telur. Makanya di kulkas harus selalu tersedia telur dan juga mie instan. Walaupun sebenarnya isteri sering menyiapkan makanan berupa sayur atau ikan dan juga menyiapkan ayam yang siap digoreng.
Setiap anak memang memiliki kebiasaan makan yang berbeda. Ada anak yang tidak suka makan daging ayam, dan ada juga yang suka makan buah-buahan segar. Ada anak kami yang suka makanan berkuah dan ada juga yang suka makan yang manis-manis. Kadang ada yang suka makan ikan. Makanya ibunya selalu kesulitan dalam memasak makanan karena berbeda-beda selera. Bila memasak satu jenis makanan maka akan ada yang menyukainya dan ada yang tidak menyukainya.
Masa Anak-Anak dan Eksplorasi Jajanan
Masa anak-anak SD adalah masa dimana mereka sedang asyik mengeksplorasi berbagai jajanan yang ada di sekolah. Anak saya yang bungsu akan bersemangat ke sekolah karena akan jajan hewan-hewan kecil dan setelah itu hewannya akan mati atau hilang. Begitu juga ada anak yang ingin seperti orang lain jajan makanan yang sedang tren di sekitar sekolah atau rumah.
Sebagai orang tua, saya dan isteri berusaha untuk mengajarkan anak makan makanan yang sehat dan makan makanan yang disediakan di rumah. Namun kenyataannya mereka sulit dibiasakan dan dibuat mengerti apa arti makanan sesungguhnya. Makanan sehat yang kami beli dan buat mungkin hanya saya dan isteri yang makan karena anak-anak akan berkelit dengan berbagai alasan untuk tidak memakannya.
Komentar
Kirim Komentar