Unesa Soroti Peran Ilmu Sosial Humaniora di Era Digital

Unesa Soroti Peran Ilmu Sosial Humaniora di Era Digital

Unesa Soroti Peran Ilmu Sosial Humaniora di Era Digital

Konferensi Internasional Kedua Pergurahu di Surabaya

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) menjadi tuan rumah penyelenggaraan The 5th International Conference on Humanities, Education, Law, and Social Science (ICHELSS) pada 2426 Oktober 2025 di Harris Hotel, Surabaya. Konferensi ini merupakan ajang penting bagi para akademisi, praktisi, dan pemerhati sosial untuk saling berbagi wawasan serta meninjau kembali arah pengembangan ilmu sosial-humaniora.

Advertisement

Konferensi ini diikuti oleh 12 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia (HISPISI). Presiden HISPISI, Komarudin, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi akademisi, praktisi, dan pemerhati sosial untuk meninjau kembali arah pengembangan ilmu sosial-humaniora agar tetap relevan dan berdampak nyata di tengah perubahan zaman.

Lebih lanjut ia menekankan pentingnya menata ulang arah dan metodologi ilmu sosial agar mampu menjawab tantangan sosial, ekologis, dan teknologi masa kini. Ilmu sosial di era digital harus memiliki dampak sosial yang luas, berorientasi ekologis, dan bersifat inovatif. Kita perlu menjadi agen transformasi yang menuntun masyarakat menuju masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, ujarnya.

Ia juga mendorong tiga agenda penting yakni:

  • Mengintegrasikan ilmu sosial sesuai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs)
  • Memperkuat pembangunan inklusif dan ekologis
  • Memperluas kolaborasi lintas bidang antara akademisi, media, pemerintah, dan masyarakat

Rektor Unesa, Nurhasan, menegaskan pentingnya menjaga marwah keilmuan sosial-humaniora agar hasil konferensi tidak berhenti pada tataran wacana. Kegiatan seperti ini sangat bagus, tapi hasilnya harus clear. Jangan berhenti di seminar saja tanpa tindak lanjut. Penelitian yang dibahas harus nendang dan berkualitas, sesuai kebutuhan zaman dan negara, tegasnya.

Pria yang akrab disapa Cak Hasan itu juga berharap konferensi ini memperkuat kolaborasi riset dan penguatan SDGs di lingkungan akademik.

Sementara itu, Ahmad Najib Burhani, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek RI, menyoroti posisi strategis ilmu sosial dan humaniora dalam menjaga kemanusiaan di tengah derasnya arus digitalisasi. Hanya ilmu sosial dan humaniora yang menolong kita tetap menjadi manusia seutuhnya yang memiliki critical thinking, rasa ingin tahu, kemampuan adaptif, dan inovatif. Tanpanya, kita hanya akan menjadi mesin, ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa ilmu sosial-humaniora merupakan penggerak utama (drivers of change) dalam menghadapi tantangan global seperti teknologi digital, perubahan iklim, dinamika demografi, dan konflik dunia.

Dekan Fisipol Unesa, Wiwik Sri Utami, menambahkan bahwa HISPISI berkomitmen memperkuat kolaborasi antar fakultas sosial di seluruh LPTK eks-IKIP. Organisasi ini harus bergerak cepat menyesuaikan arah kebijakan kementerian. Melalui ICHELSS, kita dorong pertukaran dosen, student mobility, dan kolaborasi riset internasional, jelasnya.

Konferensi ini juga diikuti oleh sejumlah pakar sosial humaniora internasional dari berbagai universitas dunia, di antaranya Warsono (Unesa), Asmady Idris (University Malaysia Sabah), Darmawansah (Providence University, Taiwan), Tufan Kutay Boran (Social Sciences University of Ankara, Turki), dan Carmela S. Dizon (Angeles University Foundation, Filipina).

Selain sesi diskusi ilmiah, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan program kerja, pembahasan kolaborasi tridharma perguruan tinggi, akreditasi, quality assurance, serta pengelolaan jurnal ilmiah. Tercatat 65 abstrak artikel disubmit dan dipresentasikan dalam forum tersebut sebagai bagian dari komitmen bersama memperkuat posisi ilmu sosial-humaniora di era transformasi digital.


Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar