
Xabi Alonso Menghadapi El Clsico sebagai Pelatih Kepala Real Madrid
Di bawah sorotan lampu Santiago Bernabu yang gemerlap, Xabi Alonso bersiap menghadapi malam yang bisa menandai awal dari era baru di Real Madrid. Laga El Clsico melawan Barcelona, Minggu malam waktu Madrid, bukan sekadar pertandingan. Ini adalah ujian pertama Alonso menghadapi rival abadi klubnya sebagai pelatih kepalasebuah duel yang selalu menjadi cermin ambisi dan arah dua kekuatan terbesar dalam sepak bola Spanyol.
Musim lalu, El Clsico menjadi mimpi buruk bagi Madrid. Di tangan Carlo Ancelotti, Los Blancos gagal memenangkan satu pun dari empat pertemuan melawan Barcelona, termasuk kekalahan menyakitkan 04 di Bernabu pada Oktober 2024. Luka itu masih segar di benak para pendukung, namun Alonso, dengan sikap tenang dan tegas yang menjadi ciri khasnya, berusaha mengubah luka menjadi motivasi.
Musim lalu berbeda dengan sekarang. Proyek kami baru dimulai, ujar Alonso dalam konferensi pers yang digelar di Valdebebas. Kalimatnya sederhana, tapi sarat makna. Di baliknya, ada pesan bahwa Madrid kini sedang membangun ulang identitas merekalebih muda, lebih agresif, dan lebih berani secara taktik.
Bagi Alonso, laga ini bukan sekadar pertarungan taktik melawan Hansi Flick, pelatih anyar Barcelona asal Jerman yang dikenal perfeksionis. Ini adalah pertemuan dua filosofi: keseimbangan kontrol dan kreativitas. Kami telah mempelajari cara mereka bermain, tegas Alonso. Kami tahu apa yang harus dilakukan untuk lebih kuat.
Flick, yang menggantikan Xavi Hernndez musim panas lalu, telah membawa Barcelona ke arah yang lebih disiplin secara struktural, namun tetap dinamis di sisi serangan. Dengan absennya Raphinha, beban besar jatuh pada pemain muda seperti Lamine Yamal dan Pedri untuk menjaga tempo permainan. Sementara itu, Madrid mengandakan pada Jude Bellinghamsosok yang telah menjadi simbol kebangkitan di lini tengah sejak musim lalu.
Pertandingan ini juga akan menentukan siapa yang berhak duduk di puncak klasemen sementara La Liga. Madrid, dengan 24 poin dari sembilan laga, hanya unggul dua poin dari Barcelona yang menguntit ketat di posisi kedua. Setiap sentuhan bola di Bernabu malam ini memiliki bobot sejarahdan potensi untuk mengubah arah musim 2025/2026.
Bagi Alonso, yang pernah mengenakan seragam kedua klub ini sebagai pemain, El Clsico memiliki nuansa pribadi yang kompleks. Ia tahu betul tekanan yang datang dari kedua sisi, tetapi kini, berdiri di pinggir lapangan dengan jas abu-abu dan tatapan tajam, ia menjadi arsitek dari impiannya sendiri.
Dia bukan hanya melatih permainan, tulis kolumnis olahraga Spanyol pekan ini. Alonso sedang melatih karakter klub yang ingin kembali mendominasi Eropa. Di tengah ekspektasi publik Madrid yang tinggi, filosofi Alonsoberdasarkan presisi, kontrol, dan kepercayaan dirimungkin menjadi napas baru bagi tim yang sempat kehilangan arah.
Namun seperti semua Clsico, hasil akhirnya tak pernah bisa diprediksi. Di stadion yang telah menyaksikan begitu banyak drama, dari Zidane hingga Messi, malam Minggu ini bisa menjadi awal dari kebangkitan Madrid atau kelanjutan dominasi Barcelona di bawah era baru mereka.
Satu hal yang pasti: ketika peluit pertama berbunyi, sejarah akan kembali menulis dirinya sendiridi antara sorak ribuan pendukung, di bawah langit Madrid yang berkilau, dan di antara dua nama yang tak pernah berhenti bersaing untuk menjadi yang terbaik di dunia.
Komentar
Kirim Komentar