
Pakar klimatologi dan perubahan iklim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, memberikan peringatan mengenai kenaikan suhu permukaan bumi yang menjadi bagian dari krisis iklim. Ia menekankan bahwa kenaikan ini berkorelasi dengan munculnya cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir di Sumatra.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Erma menjelaskan bahwa saat ini suhu permukaan bumi telah meningkat hampir mendekati 1,5 derajat Celsius. Diperkirakan, angka tersebut akan tercapai pada tahun 2029, lebih cepat beberapa tahun dibandingkan perkiraan sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan iklim berlangsung lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.
"Konsekuensi langsung dari kondisi kenaikan suhu bumi 1,5 derajat Celsius adalah kejadian cuaca ekstrem, salah satunya adalah badai," ujar Erma, peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN. Penjelasan ini disampaikannya dalam wawancara yang dilansir oleh Antara, Rabu (31/12).
Krisis Iklim Pengaruhi Pola Badai
Tim peneliti BRIN telah melakukan studi mendalam mengenai perilaku atau sifat kejadian badai di Indonesia. Salah satu dampak luar biasa dari krisis iklim yang sedang terjadi adalah perubahan pola badai. Erma menyebutkan bahwa kondisi yang terjadi di Sumatra merupakan contoh dari cuaca ekstrem dalam skala sinoptik melalui badai tropis. Artinya, badai ini bisa mencakup area ratusan hingga ribuan kilometer.
Selain itu, durasi dari kejadian ini juga lebih panjang, mulai dari beberapa hari hingga beberapa minggu. Ini berbeda dengan pola sebelumnya yang cenderung lebih singkat.
Sebelumnya, curah hujan ekstrem akibat Siklon Tropis Senyar di wilayah dekat Sumatra turut berkontribusi terhadap banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025.
Dampak Bencana di Sumatra
Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana banjir dan longsor di Sumatra menyebabkan 1.141 orang meninggal dunia dan 163 orang masih dalam status hilang, per Selasa (30/12). Angka ini menunjukkan betapa seriusnya dampak dari bencana hidrometeorologi yang terjadi akibat perubahan iklim.
Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap situasi ini antara lain:
- Perubahan iklim yang mempercepat frekuensi dan intensitas cuaca ekstrem.
- Kenaikan suhu global yang memengaruhi sistem iklim secara keseluruhan.
- Perubahan pola badai yang semakin tidak terduga dan berdampak luas.
Dengan situasi ini, penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana. Peran ilmu pengetahuan dan riset, seperti yang dilakukan oleh BRIN, sangat krusial dalam memahami dan merespons ancaman perubahan iklim.
Langkah yang Perlu Dilakukan
Untuk mengurangi risiko bencana akibat perubahan iklim, beberapa langkah penting perlu dilakukan:
- Peningkatan pemantauan iklim dan pengembangan sistem peringatan dini.
- Penguatan infrastruktur tahan bencana, terutama di daerah rawan banjir dan longsor.
- Pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya cuaca ekstrem dan cara menghadapinya.
- Kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah, lembaga riset, dan komunitas lokal.
Dengan tindakan yang tepat dan kolaborasi yang kuat, diharapkan dampak bencana akibat perubahan iklim dapat diminimalkan.
Komentar
Kirim Komentar