Ahli ITB: Kebun Sawit Tak Bisa Gantikan Fungsi Hutan!

Ahli ITB: Kebun Sawit Tak Bisa Gantikan Fungsi Hutan!

Informasi terkini hadir untuk Anda. Mengenai Ahli ITB: Kebun Sawit Tak Bisa Gantikan Fungsi Hutan!, berikut adalah fakta yang berhasil kami himpun dari lapangan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Perbedaan Fungsi Ekologis antara Kebun Kelapa Sawit dan Hutan

Kebun kelapa sawit dan hutan alami memiliki peran ekologis yang sangat berbeda meskipun keduanya merupakan tumbuhan hijau. Menurut Dr Taufikurahman, ahli ekofisiologi tumbuhan dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB), kebun kelapa sawit tidak dapat menggantikan fungsi hutan secara keseluruhan.

Struktur Akar yang Berbeda

Salah satu faktor utama yang menyebabkan perbedaan ini adalah struktur akar. Kebun kelapa sawit memiliki akar serabut dengan kedalaman terbatas, sekitar 1,5 hingga 2 meter. Hal ini membuat akar kelapa sawit kurang mampu memberikan penyangga mekanis yang kuat terhadap tanah, terutama di daerah dataran miring.

Berbeda dengan hutan alami yang memiliki akar dalam, berlapis, dan saling terkait antar spesies. Akar pada hutan alami membantu menjaga stabilitas tanah dan mencegah erosi. Sementara itu, kebun sawit memiliki pola akar yang seragam dan dangkal, sehingga mudah tergerus ketika terjadi arus deras air larian akibat hujan lebat.

Pengaruh Ruang Kosong pada Kebun Sawit

Selain struktur akar, ruang kosong antar pohon di kebun kelapa sawit juga berdampak negatif. Ruang tersebut memungkinkan hujan jatuh langsung ke permukaan tanah dengan energi tinggi. Tanah yang tidak memiliki lapisan serasah tebal cepat menjadi padat dan sulit menyerap air.

Akibatnya, infiltrasi air menurun, sehingga aliran permukaan meningkat dan membawa lapisan tanah bagian atas (top soil). Hal ini menyebabkan terjadinya erosi tanah. Selain itu, rendahnya keanekaragaman tumbuhan di kebun sawit juga menyebabkan menurunnya intensitas siklus nutrisi alami yang menjaga kualitas tanah.

Dampak Penggunaan Pupuk dan Pestisida

Penggunaan pupuk dan pestisida yang intensif di kebun kelapa sawit dapat mengganggu biota tanah yang justru dibutuhkan untuk mempertahankan struktur tanah yang sehat. Biota tanah seperti cacing dan mikroba berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan kualitas tanah.

Penyimpanan Karbon yang Berbeda

Hutan alami memiliki kemampuan lebih baik dalam menyimpan cadangan karbon dibandingkan kebun kelapa sawit. Dalam hutan, karbon tersimpan dalam biomassa, yaitu batang, akar, dan dedaunan. Selain itu, karbon juga disimpan dalam tanah (soil organic carbon) yang sangat besar dan dalam.

Material organik seperti serasah dan kayu lapuk yang lama terurai juga berkontribusi pada penyimpanan karbon. Keragaman struktur vegetasi alami menyebabkan banyak strata dalam hutan, sehingga penangkapan karbon akan lebih stabil.

Habitat yang Berbeda

Hutan alami menjadi habitat aneka ragam hewan, seperti gajah, harimau, orangutan, monyet, dan burung. Hewan-hewan tersebut sulit atau bahkan tidak bisa hidup dan berkembangbiak secara alami pada ekosistem kebun kelapa sawit.

Dampak Hilangnya Hutan Alami

Dampak hilangnya hutan alami sudah terlihat di berbagai daerah Indonesia. Dengan berkurangnya kapasitas tanah menyerap air, hujan lebat langsung mengalir ke permukaan dan membawa material tanah, terutama di wilayah perbukitan.

Pengawasan yang Lemah

Taufikurahman menekankan bahwa berbagai banjir besar dan longsor di Sumatra merupakan contoh nyata hilangnya tutupan vegetasi alami mempengaruhi ketahanan ekologis. Meski regulasi kehutanan telah melindungi kawasan tertentu, pemberian izin dan lemahnya pengawasan menyebabkan konversi tetap terjadi di area yang seharusnya tidak dibuka.

Proses Restorasi yang Memakan Waktu

Mengembalikan ekosistem hutan tidak dapat dilakukan secara instan. Restorasi memerlukan inventarisasi spesies asli, penyediaan bibit pohon lokal, serta pemulihan kualitas tanah yang sering mengalami degradasi setelah digunakan untuk menanam kelapa sawit.

Tanah bekas kelapa sawit dan tambang sering rusak. Ada yang pH-nya sangat asam, ada yang strukturnya padat sekali, sehingga harus di-treatment terlebih dahulu sebelum ditanami. Tahap awal rehabilitasi harus fokus pada perbaikan kondisi tanah.

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Ahli ITB: Kebun Sawit Tak Bisa Gantikan Fungsi Hutan!. Semoga bermanfaat Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar