Aku Bukan Pencari Kebahagiaan, Aku Butuh Ketenangan Hidup

Aku Bukan Pencari Kebahagiaan, Aku Butuh Ketenangan Hidup

Berita terbaru hadir untuk Anda. Mengenai Aku Bukan Pencari Kebahagiaan, Aku Butuh Ketenangan Hidup, berikut adalah fakta yang berhasil kami rangkum dari lapangan.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Perjalanan Menuju Ketenangan

Dulu, aku seperti orang gila. Serius. Setiap hari rasanya seperti sedang lari di treadmill yang tidak memiliki tombol stop. Otakku hanya diset untuk satu tujuan: bahagia. Harus senang, harus happy, harus berada di puncak.

Definisi bahagia saat itu sangat sederhana tetapi toksik. Bahagia adalah ketika mendapatkan uang banyak, dipuji-puji orang, atau bisa memamerkan pencapaian di depan orang banyak. Aku pikir itulah hidup. Jika grafiknya tidak terus naik, maka aku dianggap gagal.

Namun, lama-lama aku menyadari ada yang tidak benar dengan cara hidup seperti ini. Mencari kebahagiaan ternyata seperti menjebak diri sendiri. Itu sangat tidak adil. Kebahagiaan itu seperti permen karet. Rasanya manis sebentar, setelah itu hambar, lalu kita disuruh mengunyah karet kosong.

Coba ingat-ingat. Ketika kita mendapatkan apa yang kita mau, seberapa lama rasa senang itu bertahan? Sehari? Seminggu? Setelah itu? Biasa lagi. Datar lagi. Kosong lagi.

Nah, ketika rasa senang itu hilang, aku jadi panik. Seperti seorang pecandu, aku mencari dosis baru. Harus ada target baru, mainan baru, atau drama baru agar merasa hidup kembali. Capek, Bro. Sumpah, capek. Hidup rasanya didikte oleh mood. Jika sedang di atas, rasanya menjadi raja. Jika sedang di bawah, rasanya seperti sampah. Emosiku diombang-ambing tanpa arah jelas.

Titik balik bukan karena aku mendapat wahyu di gunung, gua, atau semacamnya. Cuma karena aku sudah muak. Setelah merenung pas lagi jenuh-jenuhnya, aku mulai memahami bahwa "mekanisme" hidup di bumi ini tidak dirancang untuk kita tertawa 24 jam. Masalah adalah bagian dari paket bundling bersama napas. Selama masih bernapas, masalah pasti ada.

Jadi, aku banting setir. Bodo aman dengan mengejar bahagia. Sekarang targetku berbeda: ketenangan.

Apa bedanya? Sangat jauh. Jika bahagia seperti kembang api yang meledak dan kemudian menghilang, ketenangan seperti pondasi beton. Dia diam, keras, stabil. Baik hujan badai maupun panas terik, dia tetap berada di tempatnya.

Tapi jangan salah paham dulu ya.

Bukan berarti aku anti dengan kebahagiaan. Bukan berarti aku menolak hal-hal yang membuat senang, atau aku berubah menjadi robot yang wajahnya datar terus seperti tembok. Tidak begitu konsepnya.

Aku masih tertawa keras kalau melihat meme lucu. Aku masih sangat senang ketika proyekku berhasil. Aku masih menikmati enaknya minum kopi atau merokok santai setelah makan. Rasanya tetap enak, tetap asik.

Perbedaannya ada pada posisinya.

Dulu, kebahagiaan jadi syarat hidup. Jika tidak bahagia, berarti hidupku salah. Sekarang? Kebahagiaan hanya bonus.

Kalau datang, alhamdulillah, aku nikmati, aku rayakan. Tapi jika pergi atau sedang tidak ada, ya sudah. Aku tidak akan frustrasi mencarinya. Aku tidak menggantungkan kewarasanku pada kondisi yang bersifat sementara itu.

Mengejar ketenangan membuat hidup lebih tenang. Aku tidak lagi reaktif. Dulu, ketika ada masalah sedikit, langsung panik, update status, atau marah-marah. Sekarang? Masalah datang, ya hadapi saja. "Oh, ada masalah? Oke, kita selesaikan." Sudah, itu saja. Tidak perlu drama.

Ketenangan bersifat dasar, stabil, bahkan permanen jika kita sudah mahir mengatur. Berbeda dengan kebahagiaan yang bersifat "sewa per jam", aksesoris atau pelengkap hidup.

Hidup dalam mode mencari ketenangan ini memang terlihat tidak seru bagi orang yang suka drama. Tapi bagiku, ini sangat mewah. Aku bisa tidur nyenyak malam-malam tanpa memikirkan besok harus ngejar validasi siapa lagi. Aku bisa tetap tenang ketika orang lain sibuk memamerkan atau sibuk menjatuhkan.

Intinya, aku tidak ingin lagi menjadi budak emosi. Lebih baik hidup datar tapi waras daripada hidup naik-turun tapi membuat gila. Bahagia itu tamu yang menyenangkan, tapi ketenangan adalah tuan rumahnya.

Kesimpulan: Demikian informasi mengenai Aku Bukan Pencari Kebahagiaan, Aku Butuh Ketenangan Hidup. Semoga bermanfaat Anda hari ini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar