
Kekhawatiran Jepang terhadap Manajemen AFC
Dunia sepak bola Asia tengah mengalami perubahan besar. Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) dikabarkan kecewa dengan manajemen Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), yang dinilai tidak adil dan terlalu dipengaruhi oleh pendanaan dari Qatar dan Arab Saudi. Keputusan-keputusan yang diambil oleh AFC, khususnya terkait format Liga Champions dan kualifikasi Piala Dunia, dianggap merugikan klub dan tim nasional Jepang.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Jepang disebut sedang mempertimbangkan langkah besar: meninggalkan AFC dan membentuk konfederasi baru bernama Federasi Sepak Bola Asia Timur. Rencana ini juga mencakup negara-negara seperti Korea Selatan, Korea Utara, dan Tiongkok, serta mengundang Indonesia dan negara-negara Asia Tenggara lainnya untuk bergabung.
Gerakan Jepang Didukung Negara Lain
Langkah Jepang ini tidak berdiri sendiri. Menurut laporan media Irak, UTV, sejumlah negara lain—termasuk Irak—juga mempertimbangkan untuk mengikuti jejak Jepang jika konfederasi baru benar-benar terbentuk. Irak melihat peluang untuk keluar dari sistem yang dinilai tidak adil dan terlalu berpihak kepada negara-negara Teluk.
Pengaruh Qatar di tubuh AFC semakin kuat, dengan dana besar yang diberikan membuat banyak keputusan AFC cenderung memihak kawasan Asia Barat. Hal ini menimbulkan dugaan korupsi dan manipulasi yang sulit diabaikan. Jepang, sebagai salah satu pilar utama sepak bola Asia Timur, merasa bahwa keputusan-keputusan tersebut justru menghambat perkembangan sepak bola profesional dan merugikan negara-negara non-Teluk.
Kasus Vissel Kobe sebagai Titik Puncak Kekecewaan
Salah satu faktor pemicu ketegangan antara JFA dan AFC adalah kasus yang menimpa klub Vissel Kobe dalam ajang AFC Champions League (ACL) Elite 2024/2025. Klub asal Jepang itu merasa dirugikan setelah AFC membatalkan hasil pertandingan melawan Shandong FC, yang sebelumnya sudah dinyatakan sah dengan kemenangan 2-1 untuk Kobe. Keputusan ini membuat Vissel Kobe turun dari posisi ketiga ke peringkat kelima di klasemen akhir, meskipun kemenangan sudah dikukuhkan secara pertandingan.
Ironisnya, AFC menjatuhkan denda sebesar 10.000 dolar AS kepada Kobe akibat keributan kecil antara staf dan pemain dalam laga tersebut. Kebijakan ini memicu kemarahan publik Jepang. Banyak media dan penggemar menilai AFC menerapkan standar ganda terhadap klub asal Jepang. Kritik semakin deras ketika beberapa keputusan serupa sebelumnya juga dinilai merugikan tim-tim dari Asia Timur, termasuk Yokohama Marinos dan Kawasaki Frontale.
Ketimpangan Kompetisi dan Faktor Kelelahan Pemain
Selain masalah di level klub, JFA juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap sistem kompetisi dan pembagian zona di bawah AFC. Mereka menilai jadwal yang padat dan sistem kompetisi yang tidak efisien memberi dampak negatif bagi kebugaran pemain tim nasional Jepang, terutama mereka yang berkarier di Eropa. Nama-nama besar seperti Takefusa Kubo (Real Sociedad) harus menempuh perjalanan jauh setiap kali memperkuat tim nasional pada agenda FIFA Matchday.
Hal ini berdampak pada tingkat kebugaran dan kesiapan pemain, terutama menjelang ajang besar seperti Piala Dunia 2026. Football Tribe menuliskan bahwa kondisi tersebut membuat Jepang mendorong AFC untuk melakukan reformasi besar, termasuk meninjau ulang sistem kualifikasi dan penjadwalan pertandingan antarzona. Namun hingga kini, tuntutan tersebut belum mendapat tanggapan konkret dari pihak AFC.
Kritik terhadap Ketergantungan AFC pada Arab Saudi dan Qatar
Kemarahan Jepang juga dilatarbelakangi oleh kebijakan AFC yang dinilai terlalu berpihak pada Arab Saudi dan Qatar. Salah satu contoh paling mencolok adalah perubahan format AFC Champions League Elite (Piala Asia C1), di mana babak perempat final hingga final kini disentralisasi di Arab Saudi. JFA menganggap keputusan itu tidak adil dan menyulitkan tim-tim Asia Timur yang harus menempuh jarak ribuan kilometer hanya untuk bertanding.
Keputusan tersebut juga dianggap sebagai bukti nyata ketergantungan AFC terhadap pendanaan dari Arab Saudi dan Qatar. Asosiasi Sepak Bola Negeri Matahari Terbit meyakini AFC bergantung pada pendanaan dari Arab Saudi dan Qatar. Oleh karena itu, badan sepak bola Asia tersebut telah membuat banyak keputusan yang tidak adil.
Beberapa klub Jepang, seperti Yokohama Marinos dan Kawasaki Frontale, disebut menjadi korban sistem baru ini. Mereka harus menjalani perjalanan jauh dan jadwal padat yang menguras tenaga, berbeda dengan klub-klub dari Asia Barat yang diuntungkan dengan lokasi kompetisi yang dekat dan waktu istirahat yang lebih panjang.
Dampak pada Timnas Indonesia
Dampak ketimpangan keputusan AFC ternyata juga dirasakan oleh negara lain di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dalam laporan UTV, disebutkan bahwa Timnas Indonesia turut menjadi korban ketika harus memainkan laga putaran empat Kualifikasi Piala Dunia 2026 di Arab Saudi. Bukan hanya lokasi pertandingan yang dianggap tidak netral, AFC juga menunjuk wasit asal Asia Barat untuk memimpin laga tersebut.
Keputusan itu dinilai memberi keuntungan besar bagi tuan rumah Arab Saudi, yang kemudian berhasil lolos otomatis ke Piala Dunia 2026 setelah memuncaki Grup B. Arab Saudi mengumpulkan empat poin dari dua laga—menang 3-2 atas Indonesia dan bermain imbang 0-0 kontra Irak. Sementara itu, Indonesia harus tersingkir tanpa mengumpulkan satu pun poin, dan Irak masih harus melanjutkan perjuangan di babak kualifikasi selanjutnya.
Situasi ini memperkuat pandangan Jepang bahwa AFC sudah tidak lagi menjalankan prinsip fair play secara menyeluruh dan transparan.
Rencana Besar: Bentuk Federasi Sepak Bola Asia Timur
Sebagai respons atas ketidakpuasan tersebut, Jepang dikabarkan tengah memimpin inisiatif pembentukan konfederasi baru bernama Konfederasi Sepak Bola Asia Timur (East Asian Football Confederation). Rencana ini disebut akan melibatkan negara-negara kuat seperti Korea Selatan, Korea Utara, dan China sebagai anggota pendiri. Tidak hanya itu, Jepang juga berencana mengundang beberapa negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Vietnam, Thailand, Singapura, hingga negara Oseania seperti Australia dan Selandia Baru untuk bergabung.
Langkah ini akan menjadi peristiwa bersejarah dalam dunia sepak bola internasional. Secara historis, memang pernah ada federasi yang berpindah benua—seperti Israel yang keluar dari AFC dan bergabung ke UEFA (Eropa), serta Australia yang berpindah dari OFC (Oseania) ke AFC. Namun, belum pernah ada satu negara atau kelompok negara yang memisahkan diri dan membentuk federasi kontinental baru secara mandiri.
Langkah Jepang Bisa Jadi Titik Balik Sepak Bola Asia
Jika rencana Jepang ini benar-benar terwujud, maka peta sepak bola Asia akan berubah total. Dominasi Arab Saudi dan Qatar di AFC bisa berkurang, dan negara-negara Asia Timur berpeluang memiliki otonomi lebih besar dalam menentukan arah kompetisi dan kebijakan olahraga mereka sendiri.
Bagi Indonesia, jika benar diundang bergabung, peluang ini bisa menjadi kesempatan emas untuk memperkuat hubungan dengan negara-negara sepak bola maju seperti Jepang dan Korea Selatan, serta mendapatkan akses ke sistem kompetisi yang lebih profesional dan adil.
Meski belum ada pernyataan resmi dari JFA, sinyal ketidakpuasan dan gerakan perubahan ini tampak semakin nyata. Dunia kini menunggu langkah selanjutnya dari Jepang—apakah mereka benar-benar akan meninggalkan AFC dan menulis babak baru dalam sejarah sepak bola Asia.
Komentar
Kirim Komentar