
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Penelitian Baru Mengungkap Rahasia di Balik Long Covid
Long Covid, atau kondisi pascainfeksi Covid-19, telah menjadi perhatian besar bagi para ilmuwan dan medis. Kini, sebuah penelitian yang dilakukan oleh sekelompok ilmuwan asal Australia berhasil mengungkap rahasia di balik kondisi ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelemahan yang terus bertahan pada tubuh pasien, meski virus sudah tidak ada, ternyata berhubungan dengan faktor genetik.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ‘PLOS Computational Biology’ dan ‘Critical Reviews in Clinical Laboratory Sciences’. Tim peneliti yang dipimpin oleh Sindy Pinero dan Profesor Thuc Duy Le dari University of South Australia melakukan pengumpulan data dari ratusan studi internasional. Mereka menggunakan teknologi akal imitasi (AI) untuk menganalisis data genomik yang sangat kompleks. Hasilnya, mereka berhasil mengidentifikasi 32 gen yang meningkatkan risiko Long Covid pada seseorang.
Gen FOXP4: Faktor Utama dalam Keberlanjutan Gejala
Dari 32 gen yang ditemukan, varian FOXP4 menonjol sebagai salah satu faktor utama. Gen ini diketahui memiliki peran krusial dalam fungsi paru-paru dan regulasi sistem kekebalan tubuh. Varian pada gen ini diduga kuat membuat individu lebih rentan terhadap gejala pernapasan yang berkepanjangan.
Selain FOXP4, para ilmuwan juga menemukan 13 gen lain yang belum pernah dikaitkan dengan Long Covid. Mayoritas dari gen-gen ini memengaruhi aktivitas kekebalan, peradangan, dan perbaikan jaringan. Proses-proses inilah yang menentukan seberapa cepat tubuh pulih setelah diserang oleh virus.
Saklar Molekuler yang Tetap Aktif
Menurut laporan yang dirujuk, tim peneliti juga menemukan bukti adanya saklar molekuler yang tetap aktif meskipun virus sudah tidak ada. Studi ini mengidentifikasi 71 saklar molekuler yang masih menyala setahun setelah infeksi awal. Saklar-saklar ini mengontrol hidup mati gen tertentu, yang berujung pada kekacauan sistemik.
Temuan ini membuka jalan baru untuk diagnosis dan pengobatan di masa depan. Sekarang, peneliti dapat memahami penyakit kronis pasca-infeksi melalui lensa big data. Harapan untuk menemukan terapi yang efektif bagi jutaan penderita Long Covid semakin luas.
Potensi untuk Pengobatan yang Lebih Baik
“Kita mulai mengungkap ciri molekuler penyakit yang mengarah pada target pengobatan baru,” ucap Pinero. Penelitian ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana tubuh merespons infeksi dan bagaimana keadaan ini bisa berlangsung secara terus-menerus.
Implikasi dari penelitian ini tidak hanya terbatas pada Covid-19. Metodologi yang digunakan dapat diterapkan untuk meneliti sindrom pasca-virus lainnya, seperti sindrom kelelahan kronis (chronic fatigue syndrome), serta fibromialgia. Selama ini, peneliti kesulitan memetakan penyebab pasti penyakit-penyakit yang memiliki karakteristik serupa tersebut.
Masa Depan Penelitian dan Pengobatan
Dengan temuan ini, harapan untuk menemukan solusi yang lebih baik bagi para penderita Long Covid semakin terbuka. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa penggunaan AI dan analisis data genomik dapat menjadi alat penting dalam memahami penyakit-penyakit kompleks.
Para ilmuwan berharap bahwa hasil penelitian ini akan menjadi dasar bagi pengembangan terapi yang lebih tepat dan efektif. Dengan memahami mekanisme genetik dan molekuler di balik Long Covid, peneliti dapat merancang intervensi yang lebih spesifik dan efektif.
Kesimpulan
Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Australia ini memberikan wawasan penting tentang Long Covid. Temuan ini tidak hanya membantu memahami penyakit ini, tetapi juga membuka jalan untuk pengembangan pengobatan yang lebih baik. Dengan pendekatan baru yang melibatkan AI dan analisis data genomik, peneliti dapat mengungkap rahasia di balik penyakit yang masih banyak teka-teki.
Komentar
Kirim Komentar