Pengertian Nodul Tiroid

Nodul tiroid adalah benjolan atau pertumbuhan yang terjadi di kelenjar tiroid. Kelenjar ini berbentuk seperti kupu-kupu dan terletak di bagian depan leher. Nodul bisa bersifat jinak (non-kanker) atau ganas (kanker). Meski sebagian besar nodul tidak berbahaya, tetapi mereka bisa menyebabkan gejala seperti rasa tidak nyaman saat menelan, benjolan di leher, hingga perubahan suara.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Penyebab nodul tiroid bisa bervariasi, termasuk pertumbuhan jaringan tiroid berlebih (adenoma tiroid), defisiensi yodium dalam makanan, atau paparan radiasi. Selain itu, riwayat keluarga dengan kanker tiroid juga dapat meningkatkan risiko. Di Indonesia, kasus defisiensi yodium sudah jarang terjadi karena garam telah diperkaya dengan yodium.
Gejala yang Muncul Akibat Nodul Tiroid

Gejala nodul tiroid sangat bervariasi. Beberapa orang mungkin tidak merasakan apa pun, sementara yang lain mungkin mengalami kesulitan menelan, perubahan suara, atau bahkan rasa sakit di leher. Untuk memastikan apakah seseorang memiliki nodul tiroid, dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik, tes darah untuk mengecek fungsi tiroid, serta pencitraan seperti USG atau biopsi.
Pengobatan nodul tiroid tergantung pada jenis dan ukuran nodul, apakah ganas atau jinak, serta gejala yang dialami oleh pasien. Ada beberapa opsi pengobatan, mulai dari observasi rutin hingga intervensi medis seperti operasi atau Radiofrequency Ablation (RFA).
Pengobatan Nodul Tiroid Menggunakan RFA

Radiofrequency Ablation (RFA) adalah salah satu teknologi modern yang digunakan untuk mengatasi nodul tiroid jinak tanpa harus dilakukan operasi. Proses ini dilakukan dengan menggunakan gelombang radiofrekuensi untuk menghasilkan panas yang secara selektif menghancurkan jaringan nodul tanpa merusak jaringan sekitarnya.
Dengan bantuan ultrasonografi (USG), dokter akan memasukkan elektroda kecil ke dalam nodul dan memanaskannya hingga mencapai suhu 60–100°C. Proses ini membantu mengecilkan ukuran nodul secara bertahap. Prosedur ini dilakukan dengan anestesi lokal dan umumnya pasien dapat pulih dalam waktu 1–2 hari setelah tindakan.
Dampak RFA Terhadap Kualitas Hidup Pasien

Salah satu keuntungan utama dari RFA adalah prosedur ini lebih ringan dibandingkan operasi. Hal ini membuatnya menjadi pilihan yang ideal bagi pasien dengan aktivitas yang tinggi, lansia, atau mereka yang memiliki kondisi medis tertentu yang membuat operasi berisiko.
Pasien yang menjalani RFA sering melaporkan peningkatan kualitas hidup, baik dari segi kenyamanan fisik maupun kepercayaan diri akibat hilangnya benjolan di leher. Selain itu, RFA juga menghindarkan pasien dari risiko hipotiroid jangka panjang yang sering terjadi setelah operasi pengangkatan kelenjar tiroid total.
Pertanyaan Umum Seputar Nodul Tiroid
-
Apakah semua nodul dapat dihilangkan dengan tindakan RFA?
Tidak. Hanya nodul jinak yang telah dipastikan melalui biopsi (FNAB) yang dapat ditangani dengan RFA. -
Apakah prosedur ini dapat diulang?
Ya. Jika nodul membesar kembali atau ada lebih dari satu nodul, prosedur RFA dapat diulang tanpa risiko signifikan. -
Berapa besar ukuran nodul yang dapat ditangani dengan RFA?
Umumnya, nodul jinak berukuran 1–4 cm dapat ditangani dengan efektif. Untuk nodul yang lebih besar, mungkin diperlukan pendekatan lain.
Faktor Risiko dan Kelainan Gangguan Tiroid di Indonesia
Di Indonesia, gangguan tiroid cukup umum terjadi. Penyebabnya bisa bervariasi, mulai dari defisiensi yodium hingga faktor genetik. Salah satu gejala yang sering muncul adalah mata kering, terutama pada penderita penyakit tiroid. Teknologi baru seperti RFA juga semakin diminati sebagai alternatif pengobatan yang minim invasif dan hasil yang efektif.
Komentar
Kirim Komentar