
Arsari Group milik adik Presiden RI Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo masuk ke salah satu proyek gas terbesar di Natuna Barat. Melalui anak usahanya PT Nations Natuna Barat (Nations), Arsari tengah merampungkan akuisisi 75% hak partisipasi atau participating interest (PI) di Blok Duyung, Cekungan West Natuna, Kepulauan Riau.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Blok migas tersebut mengelola lapangan gas Mako, yang saat ini dikembangkan oleh perusahaan migas asal Australia, Conrad Asia Energy Ltd dalam skema Kontrak Bagi Hasil Produksi (PSC) Duyung. Adapun aksi korporasi itu ditargetkan rampung sebelum tanggal batas akhir pada kuartal ketiga 2026.
Berdasarkan laporan Conrad Asia Energy, Conrad bersama anak usahanya West Natuna Exploration Limited (WNEL), menandatangani perjanjian dengan PT Nations Natuna Barat (Nations) pada November 2025 lalu. Selain mengambil saham mayoritas, Nations juga akan menyediakan pendanaan untuk 100% biaya pengembangan Lapangan Gas Mako serta modal kerja.
Dalam skemanya Nations membiayai porsi 75% biaya PSC dan sekaligus menanggung bagian WNEL hingga fase pertama pengembangan Mako. Adapun Arsari Group bakal membayar ke WNEL sebesar US$ 16 juta atau sekitar Rp 268,88 miliar (kurs: Rp 16.805 per dolar AS) untuk 75% PI.
- Saham DEWA Melonjak 76% Sebulan, Bagaimana Proyeksi ke Depan?
- IHSG Berpeluang Naik Hari Ini, Analis Rekomendasi Saham ANTM, ASII hingga BSDE
- Wall Street Melonjak Ditopang Penguatan Saham Produsen Chip AI
Pembayaran itu bakal dibayar dalam tiga tahap, pertama senilai US$ 5 juta atau Rp 84,02 miliar pada kuartal pertama 2026 setelah syarat pendahuluan terpenuhi. Kedua sebanyak US$ 4 juta atau Rp 67,22 miliar pada kuartal ketiga 2026 setelah transaksi tuntas. Ketiga US$ 7 juta atau senilai Rp 117,63 miliar pada saat produksi komersial pertama pada kuartal keempat 2027.
Usai transaksi rampung, WNEL akan mempertahankan 25% PI dan tetap menjadi operator PSC Duyung. Porsi WNEL diperkirakan akan sepenuhnya ditanggung (carried) hingga produksi komersial pertama, tergantung persetujuan pemerintah Indonesia.
Pendanaan WNEL akan diatur melalui Conrad Loan Agreement (CLA), di mana pengembalian dilakukan dari bagian pendapatan produksi WNEL. WNEL juga berhak menerima kembali 75% dari biaya historis PSC setelah pelunasan CLA.
Total dana yang dibutuhkan untuk membawa Lapangan Gas Mako sampai tahap produksi pertama diperkirakan mencapai US$ 320 juta atau Rp 5,37 triliun. Skema pendanaan melalui CLA sudah disiapkan untuk menutup kebutuhan dana bagian WNEL, termasuk uang muka proyek, cadangan jika biaya membengkak, bunga selama masa pembangunan, serta modal kerja.
Selain itu produksi gas pertama dari Lapangan Mako tetap ditargetkan mulai berjalan pada kuartal keempat 2027.
Managing Director dan Chief Executive Officer Conrad, Miltos Xynogalas, mengatakan grup usaha yang terafiliasi dengan Nations sudah aktif di bisnis hulu migas internasional selama sekitar 20 tahun sehingga menjadi mitra kuat untuk proyek Mako. Menurutnya, memiliki mitra lokal yang visi dan kepentingannya sejalan dengan Conrad sangat positif, tidak hanya bagi proyek Mako, tetapi juga bagi Conrad dan industri gas Indonesia.
Selain itu ia menyebut pendanaan yang berhasil dikumpulkan untuk membawa Mako ke tahap produksi merupakan pencapaian besar bagi Conrad. Meski melepas mayoritas saham proyek, WNEL memegang 25% kepemilikan dan tetap menjadi operator. Xynogalas juga mengaku transaksi ini sebagai titik balik penting dalam delapan tahun perjalanan Conrad mengembangkan proyek Mako.
Selama periode tersebut, WNEL telah menemukan lapangan, melakukan evaluasi, memperoleh persetujuan Rencana Pengembangan (POD), hingga menandatangani kontrak penjualan gas dengan perusahaan listrik terbesar di Indonesia.
“Kami antusias untuk membawa pengembangan ini ke tahap berikutnya dan berkontribusi pada pasokan energi domestik Indonesia yang sangat dibutuhkan,” ucap Xynogalas dalam keterangan resminya, dikutip Senin (11/1).
aiotrade.co.id, telah meminta konfirmasi kepada Wakil Direktur Utama Arsari Group, Aryo P.S. Djojohadikusumo. Namun tidak dijawab hingga berita ini ditayangkan.
Rencana Jangka Panjang
Adapun Lapangan Gas Mako memiliki Sumber Daya Kontingen 2C sebesar 376 miliar kaki kubik (bcf). Setelah transaksi rampung, 63 bcf gas penjualan akan menjadi bagian bersih milik Conrad (setelah pengambilan pemerintah), mencerminkan pengurangan porsi kepemilikan WNEL dari 76,5% menjadi 25%.
Pengembangan Mako bakal dilakukan dua fase, di mulai dengan enam sumur pengembangan awal yang terhubung ke MOPU (Mobile Offshore Production Unit). Gas dijalankan melalui pipa 18 inci sepanjang 59 km ke platform di PSC Kakap, terhubung ke West Natuna Transport System (WNTS) lalu ke pasar domestik melalui cabang pipa ke Pulau Pemping, Riau, yang dibangun oleh PT PLN Energi Primer Indonesia atau PLN EPI.
Dua sumur tambahan dapat dibor dua tahun setelah produksi pertama jika diperlukan. Kapasitas MOPU dirancang 172 million standard cubic feet per day (MMscfd).
Kemudian gas akan dijual ke PLN EPI hingga akhir PSC Duyung pada Januari 2037. Adapun volume penjualan plateau sebesar 111 british thermal unit per day (BBtud), setara dengan 111,9 million standard cubic feet per day (MMscfd), mencakup seluruh sumber daya kontingen 2C Mako.
Komentar
Kirim Komentar