
Melayani Tanpa Pamrih
Pelayanan yang tulus dan tanpa pamrih adalah bagian penting dari kehidupan seorang hamba Tuhan. Dalam pelayanan, kita tidak mencari pujian atau penghargaan manusia, tetapi fokus pada kehendak Allah. Segala waktu, talenta, dan kesempatan yang kita miliki adalah titipan dari Tuhan. Kita hanya alat-Nya untuk melayani sesama.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Sukacita sejati datang dari kesetiaan kepada Allah, bukan dari pengakuan orang lain. Bahkan di dunia digital, kita harus tetap menjaga ketulusan dalam berpelayanan. Mari simak bacaan Injil Katolik hari Selasa 11 November 2025.
Bacaan Liturgi Katolik Hari Selasa 11 November 2025
Bacaan Pertama: Keb. 2:23-3:9
Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan, dan dijadikan-Nya gambar hakekat-Nya sendiri. Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia, dan yang menjadi milik setan mencari maut itu. Jiwa orang benar ada di tangan Allah, dan siksaan tiada menimpa mereka. Menurut pandangan orang bodoh mereka mati nampaknya, dan pulang mereka dianggap malapetaka, dan kepergiannya dari kita dipandang sebagai kehancuran, namun mereka berada dalam ketenteraman. Kalaupun mereka disiksa menurut pandangan manusia, namun harapan mereka penuh kebakaan. Setelah disiksa sebentar mereka menerima anugerah yang besar, sebab Allah hanya menguji mereka, lalu mendapati mereka layak bagi diri-Nya. Laksana emas dalam dapur api diperiksalah mereka oleh-Nya, lalu diterima bagaikan korban bakaran. Maka pada waktu pembalasan mereka akan bercahaya, dan laksana bunga api berlari-larian di ladang jerami. Mereka akan mengadili para bangsa dan memerintah sekalian rakyat, dan Tuhan berkenan memerintah mereka selama-lamanya. Orang yang telah percaya pada Allah akan memahami kebenaran, dan yang setia dalam kasih akan tinggal pada-Nya. Sebab kasih setia dan belas kasihan menjadi bagian orang-orang pilihan-Nya.
Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,16-17,18-19
Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.
Bait Pengantar Injil: Yoh 14:23
Barangsiapa mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepada-Nya.
Bacaan Injil: Lukas 17:7-10
Yesus bersabda kepada para murid, “Siapa di antaramu yang mempunyai seorang hamba, yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu waktu ia pulang dari ladang, ‘Mari segera makan?’ Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu, ‘Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai aku selesai makan dan minum! Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum’. Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena ia telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? Demikian jugalah kalian. Apabila kalian telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kalian berkata, ‘Kami ini hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.’
Renungan Harian Katolik: Pelayanan yang Murni dan Tulus
“Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami ini hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” (Lukas 17:10)
-
Melayani Tanpa Pamrih di Dunia yang Haus Pengakuan
Dunia saat ini begitu terobsesi dengan likes, followers, dan pengakuan. Bahkan dalam pelayanan Gereja atau perbuatan baik, kadang tanpa sadar kita berharap “dilihat” atau “diakui.” Namun Yesus dalam Injil hari ini mengingatkan bahwa pelayanan sejati tidak mencari imbalan, pujian, atau penghargaan. Ia menggunakan gambaran sederhana tentang seorang hamba yang, setelah bekerja seharian di ladang, masih harus melayani tuannya tanpa menuntut terima kasih. Terdengar keras? Ya. Tapi Yesus sedang mengajarkan kerendahan hati yang sejati bukan sikap rendah diri, melainkan hati yang sadar bahwa segala sesuatu adalah rahmat Tuhan. -
Kita Adalah Hamba yang Dipercaya, Bukan Pemilik
“Apakah tuannya akan berterima kasih kepada hamba itu karena ia telah melakukan apa yang diperintahkan kepadanya?” (Luk 17:9) Kalimat ini mengingatkan kita bahwa segala yang kita miliki, waktu, talenta, dan kesempatan untuk berbuat baik bukan milik pribadi, melainkan titipan Allah. Ketika kita melayani di Gereja, di rumah, di kantor, atau di dunia digital, kita sedang menunaikan tugas sebagai hamba yang setia. Kerendahan hati berarti mengakui: “Tuhan, Engkaulah sumber segalanya; aku hanya alat-Mu.” Iman yang matang tidak sibuk mencari tepuk tangan manusia, tapi mencari senyum Allah di dalam hati. -
Sukacita Hamba yang Setia
Mungkin kita pernah merasa: “Aku sudah banyak berbuat, tapi tidak ada yang menghargai.” Yesus ingin mengubah cara pikir itu. Sukacita sejati bukan datang dari pujian, tetapi dari kesadaran bahwa kita melakukan kehendak Allah. Pelayanan sejati selalu dimulai dari cinta, bukan ambisi. Dari rasa syukur, bukan kebutuhan akan validasi. Di tengah dunia yang menilai segalanya berdasarkan “hasil” dan “pencapaian,” Yesus memuji kesetiaan yang tidak terlihat: doa di kamar yang sepi, kesabaran seorang ibu yang mendidik anak, pelayanan kecil tanpa panggung, kasih yang diberikan tanpa publikasi. -
Hati yang Sadar Akan Anugerah
Ungkapan “kami ini hamba-hamba yang tidak berguna” bukan berarti kita tidak berharga. Justru sebaliknya, itu pengakuan bahwa segala kebaikan yang kita lakukan hanyalah tanggapan atas kasih Allah yang lebih dahulu mencintai kita. Seseorang yang benar-benar sadar akan rahmat Tuhan tidak akan mudah sombong. Ia tahu bahwa tanpa Tuhan, ia bukan siapa-siapa; tapi bersama Tuhan, segalanya mungkin. -
Melayani di Era Digital
Di era media sosial, pelayanan bisa dengan mudah berubah menjadi ajang pencitraan. Tapi Yesus mengajak kita untuk melayani secara murni, bahkan di ruang digital dengan membagikan kebenaran, kasih, dan harapan tanpa mencari sorotan. Melayani bukan soal besar kecilnya karya, tetapi soal ketulusan hati. Kadang satu postingan rohani, satu kata penghiburan, atau satu doa diam-diam bisa menjadi saluran kasih Tuhan bagi banyak orang.
Doa Penutup
Tuhan Yesus, ajarilah aku melayani dengan tulus, tanpa pamrih dan tanpa mencari pujian. Jadikanlah aku hamba-Mu yang setia, yang melakukan kehendak-Mu dengan penuh cinta. Amin.
Kesimpulan Renungan
Kerendahan hati adalah tanda kedewasaan iman. Hamba yang sejati tidak menuntut imbalan, karena hatinya tahu: melayani Tuhan sudah merupakan kebahagiaan terbesar.
Komentar
Kirim Komentar