
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Peran Bapak Rumah Tangga dalam Kehidupan Keluarga
“Merawat rumah bukan berarti hanya menyapu dan memasak; menjaga kepercayaan itu lebih berat dari urusan dapur dan piring kotor.” Kalimat ini menggambarkan peran penting seorang bapak rumah tangga, yang tidak hanya bertanggung jawab atas tugas-tugas rumah tangga, tetapi juga menjaga hubungan emosional dan kepercayaan antara suami dan istri.
Sebuah pengalaman pribadi mengingatkan saya akan hal ini ketika ikut dalam reuni kecil teman SMP beberapa bulan lalu. Kami bertemu dalam acara syukuran salah satu teman yang baru pulang haji. Ada satu teman saya yang memiliki istri sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hongkong. Sang istri memutuskan untuk mencari nafkah di luar negeri demi keberlangsungan ekonomi keluarga yang sebelumnya kurang stabil, karena suami hanya bekerja sebagai kurir makanan kecil ke pasar dan warung-warung setelah di-PHK dari sebuah pabrik garmen.
Bukan karena dipaksa, namun sang istri berangkat dengan kesepakatan bersama, dengan harapan bisa mendapat gaji yang cukup untuk modal usaha suami dan biaya pendidikan dua anak mereka yang masih kecil. Saat ditanya oleh teman apakah ia pernah tergoda untuk selingkuh, ia menjawab bahwa ya, ia pernah tergoda, tetapi ia tidak pernah mengabaikan bayangan dua anaknya saat godaan itu muncul. Ini menunjukkan betapa kuatnya komitmen dan tanggung jawab yang dimiliki oleh seorang bapak rumah tangga.
Pengalaman Seorang Bapak Rumah Tangga
Selama 11 tahun, ia mengurus anak-anak dan rumah tangga sendirian. Dari mulai mandi, masak, menyiapkan makan, menyuapi, antar jemput sekolah, membereskan rumah, hingga mengajarkan anak-anak mengerjakan PR, semua dilakukan dengan sukacita. Toko kelontong kecil milik mereka pun masih berjalan baik hingga saat ini, meskipun pasti ada saja masalah-masalah kecil yang mengiringi perjalanan hidup mereka.
Saya salut dan merasa bahwa anak-anaknya tumbuh di tangan ayah yang tepat. Ini adalah contoh nyata dari pilihan menjalani hidup sebagai bapak rumah tangga di antara banyak cerita berbeda dalam kehidupan nyata.
Fenomena Stay-Home Dad
Fenomena pria yang mengurus rumah tangga saat istri jauh mencari nafkah sudah menjadi hal biasa di kawasan pedesaan atau daerah pinggiran kabupaten. Mereka berharap setiap bulan ada uang yang dikirim untuk memastikan anak-anak tetap bisa makan bergizi, sekolah, dan tumbuh dengan baik.
Di sisi lain, ada juga suami yang memilih tetap di rumah, mengurus anak, memasak, mencuci, serta membesarkan rasa rindu melalui pesan dan foto di video call. Fenomena stay-home dad ini bukan hanya soal pertukaran tugas rumah tangga, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan dalam kehidupan rumah tangga.
Data & Kisah Nyata
Dilansir dari laman detiknews.com, terdapat beberapa kasus dan penelitian di Indonesia yang menunjukkan bahwa fenomena ini sering kali berkaitan dengan konflik kepercayaan. Di Kabupaten Malang, antara Januari–September 2020, tercatat 5.464 kasus perceraian di Pengadilan Agama. Banyak di antaranya didominasi oleh suami yang melakukan perselingkuhan dan penghabisan uang kiriman istri yang menjadi TKW.
Di Ponorogo tahun 2021, Pengadilan Agama menerima 1.990 perkara perceraian, hampir semuanya didominasi oleh faktor ekonomi dan perselingkuhan. Kasus di Madiun: Siti Fatimah (38), seorang TKW, nekat ingin membongkar rumah yang dibangun dari hasil kerja kerasnya di luar negeri. Dia mengaku dicerai tanpa sepengetahuan, dan suaminya sudah menjalin hubungan dengan wanita lain saat dia jauh bekerja.
Kisah viral dari Ngawi: seorang TKW yang mengirim uang Rp5 juta per bulan dituduh selingkuh karena hanya mengirim sebagian dari apa yang dihasilkannya. Tuduhan itu muncul karena kurangnya komunikasi dan asumsi negatif dari suami.
Studi dan Persepsi
Studi “Pengalaman Suami Menjadi Stay-At-Home Dad pada Usia Dewasa Awal” dari UNDIP (2018) menggambarkan bagaimana pria dalam peran itu harus melalui fase penerimaan diri, adaptasi peran, dan menghadapi tekanan sosial. Penelitian “Gambaran Konsep Diri Bapak Rumah Tangga” dari Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menunjukkan bahwa meski jumlah stay-home dad meningkat, masih ada persepsi bahwa itu adalah hal yang tidak biasa atau “keluar dari norma”.
Kepercayaan sebagai Pondasi
Dari data dan kisah di atas, ada beberapa pelajaran penting:
-
Kepercayaan adalah pondasi yang harus terus dijaga
Jarak fisik dan limit komunikasi dapat menjadi ruang munculnya kecurigaan. Apalagi bila komunikasi tidak rutin atau ada hal yang disembunyikan, sekecil apa pun itu. -
Pilihan peran memerlukan kesepakatan yang jelas
Saat pasangan memutuskan bahwa istri menjadi TKW dan suami stay home, harus ada dialog terbuka tentang keuangan, peran rumah tangga, batasan moral, dan hak serta kewajiban masing-masing. -
Stigma dan tekanan sosial memperbesar risiko
Karena norma tradisional masih kuat, suami yang tinggal di rumah dan istri yang bekerja jauh bisa jadi menghadapi tekanan dari keluarga, masyarakat, bahkan internal diri sendiri. Tekanan ini bisa mempercepat kehancuran kepercayaan bila tidak ditangani. -
Keterbukaan & transparansi itu penting
Misalnya transparansi pemakaian uang kiriman, kehadiran emosional, bagaimana merawat hubungan agar tetap kuat meskipun berjauhan; lewat chat, video call, rencana pulang, dan kunjungan. -
Menjaga identitas & harga diri
Suami yang memilih menjadi stay-home dad masih harus menghadapi perasaan “kurang”, takut dianggap tidak melakukan apa-apa, dan menghadapi stereotype. Mereka juga perlu penghargaan dari pasangan dan lingkungan agar peran ini bisa dijalani dengan bangga dan tulus.
Strategi Agar Kepercayaan Terpelihara & Konflik Diminimalisir
Agar fenomena stay-home dad dan TKW luar negeri ini tidak menghasilkan permasalahan serius dan luka mendalam, ada beberapa strategi konkret yang bisa dijalankan:
- Membangun komunikasi rutin & kualitas dengan menetapkan waktu khusus untuk berbagi kabar, curhat, dan membuat rencana bersama agar tidak ada ruang bagi asumsi negatif.
- Menetapkan kesepakatan tertulis atau informal tentang bagaimana uang dikirim, apa yang dilakukan jika ada kesulitan, bagaimana pasangan menangani godaan atau tekanan emosional.
- Dukungan lingkungan & komunitas seperti keluarga, teman, komunitas bisa memberikan dukungan moral, bukan hanya kritik atau tekanan.
- Kesadaran akan peran ganda bahwa stay-home dad bukan berarti "tidak bekerja", tetapi pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak adalah bagian kerja yang nyata dan berat. Sehingga penghargaan dan pengakuan perlu diberikan.
- Pendidikan & nilai sejak dini, di mana setiap anak perlu diajak memahami bahwa cinta, pengorbanan, dan tanggung jawab melampaui gender. Supaya generasi selanjutnya tidak lagi memandang stay-home dad sebagai “aneh”.
Tidak hanya urusan menyapu, memasak, atau mencuci piring, menjadi bapak rumah tangga ketika istri menjadi TKW adalah tentang menjaga kepercayaan: kepercayaan pasangan, kepercayaan anak, kepercayaan bahwa cinta dan tanggung jawab masih bisa berjalan meskipun menjadi jauh secara fisik. Ketika suami melakukan peran ini dengan kejujuran, pengorbanan, dan tanggung jawab, stigma “malas” atau “lemah” seharusnya hilang. Karena peran ini bukan soal siapa keluar rumah bekerja, tetapi siapa tetap hadir dalam hati dan menjaga janji-janji kecil yang membangun rumah menjadi tempat yang hangat dan aman. Salam damai, dan cinta!
Komentar
Kirim Komentar