BI Ungkap Strategi Jaga Stabilitas Hadapi Sentimen Negatif Global

BI Ungkap Strategi Jaga Stabilitas Hadapi Sentimen Negatif Global

Sektor ekonomi menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai BI Ungkap Strategi Jaga Stabilitas Hadapi Sentimen Negatif Global menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.


aiotrade, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mengakui bahwa nilai tukar Rupiah berpotensi tertekan akibat ketidakpastian global. Bank sentral membeberkan strategi stabilitas rupiah.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa aliran modal ke pasar keuangan negara berkembang masih berfluktuasi seiring dengan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

"Perkembangan ini menuntut kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak rambatan ketidakpastian perekonomian dan pasar keuangan global yang masih tinggi tersebut terhadap perekonomian domestik," ujar Perry dalam konferensi pers hasil RDG Oktober.

Oleh sebab itu, mantan direktur eksekutif South East Asia Voting Group International Monetary Fund itu menyampaikan Bank Indonesia akan melakukan penguatan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah yang sesuai dengan fundamental ekonomi.

Perry menyebutkan Bank Indonesia akan melakukan intervensi langsung di transaksi spot (jual-beli valuta asing yang penyelesaiannya dilakukan segera) dan transaksi domestic non-deliverable forward (kontrak berjangka antara Bank Indonesia dan pelaku pasar untuk menukar kurs rupiah-dolar di masa depan, tanpa serah terima fisik dolar) baik di pasar domestik maupun luar negeri.

"Strategi ini disertai dengan pembelian SBN [surat berharga negara] di pasar sekunder untuk meningkatkan likuiditas dan menjaga stabilitas pasar keuangan," jelasnya.

Adapun, dia mengungkapkan Bank Indonesia telah membeli SBN sebanyak Rp268,36 triliun per 21 Oktober 2025. Jumlah itu berasal dari pembelian SBN di pasar sekunder dan program debt switching dengan pemerintah sebesar Rp199,45 triliun.

Tekanan Moneter

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menyampaikan bahwa arus modal keluar asing itu menjadi anomali. Alasannya, bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve alias The Fed melakukan pemangkasan suku bunga kebijakannya untuk pertama kali pada tahun ini yaitu dari 4,5%-4,75% menjadi 4,25%-4,50%.

"Meskipun penurunan suku bunga oleh The Fed biasanya mendorong aliran modal masuk ke negara berkembang, kali ini justru terjadi arus modal keluar besar-besaran dari Indonesia," ujar Riefky dalam keterangannya.

Selain itu, LPEM mencatat kurs Rupiah berada di Rp16.577 per dolar AS pada 17 Oktober 2025. Sepanjang tahun berjalan (YtD), kurs rupiah itu melemah 3,05%, yang terburuk dengan negara setara lainnya (kecuali Peso Argentina yang terdepresiasi 41,4% YtD dan Lira Turki yang terdepresiasi 18,6% YtD).

Belum lagi inflasi September 2025 mencapai nilai tertinggi sepanjang tahun yaitu 2,65% secara tahunan (YoY), meski masih dalam target BI (1,5%–3,5%). Dengan sejumlah alasan itu, LPEM mendorong agar BI menahan suku bunga kebijakan di level 4,75% pada bulan ini.

"Menahan suku bunga kebijakan pada level saat ini, dibandingkan melakukan pemangkasan lebih lanjut, tidak hanya akan meredakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah, tetapi juga dapat meredam persepsi mengenai terkikisnya independensi Bank Indonesia," ujar Riefky.

Kebijakan BI

Adapun, Bank Indonesia memang menahan suku bunga kebijakan alias BI Rate di level 4,75% berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 21—22 Oktober 2025. Kendati demikian, Perry menyampaikan masih ada ruang penurunan BI Rate pada dua bulan terakhir tahun ini atau pada November dan Desember 2025.

"Dasar pertimbangannya apa? Yaitu bahwa inflasi tahun ini dan inflasi tahun depan itu masih rendah, terutama inflasi inti yang tentu saja rendah dan terkendali dalam kisaran 2,5±1%," ujar Perry dalam konferensi pers hasil RDG Oktober 2025 secara daring.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai BI Ungkap Strategi Jaga Stabilitas Hadapi Sentimen Negatif Global ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Tetap optimis dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar