
Kepribadian Ganda: Apa yang Perlu Diketahui?
\nKepribadian ganda atau disebut juga dengan gangguan identitas disosiatif (DID) masih menjadi topik yang menarik perhatian banyak orang. Banyak orang merasa bingung dan ingin memahami lebih dalam tentang kondisi ini. Terlebih, ada banyak mitos dan kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat mengenai bagaimana seseorang bisa memiliki kepribadian yang berbeda-beda.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Secara umum, DID dikenal sebagai gangguan mental yang terjadi ketika seseorang memiliki dua atau lebih identitas atau kepribadian yang berbeda. Setiap kepribadian tersebut dapat mengontrol perilaku dan pikiran individu tersebut secara bergantian. Meski jumlahnya bisa mencapai ratusan, tidak semua penderita DID mengalami perubahan yang ekstrem seperti yang sering digambarkan dalam film-film.
\nPenyebab dan Ciri-ciri DID
\nPenyebab utama dari DID biasanya adalah trauma masa kecil yang parah. Trauma ini bisa berupa pelecehan fisik, emosional, atau seksual. Kondisi ini sering terjadi pada anak-anak yang tidak memiliki cara lain untuk menghadapi pengalaman buruk selain dengan menciptakan identitas baru. Ketika dewasa, mereka mungkin akan mengalami perubahan kepribadian tanpa sadar.
\nSalah satu ciri khas dari DID adalah hilangnya ingatan. Penderitanya mungkin lupa apa yang telah mereka lakukan saat kepribadian lain sedang aktif. Hal ini bisa menyebabkan kebingungan dan rasa tidak aman. Namun, tidak semua penderita DID mengalami perubahan yang dramatis. Banyak dari mereka tetap terlihat normal dalam penampilan dan perilaku, meskipun sebenarnya sedang mengalami perubahan internal.
\nKesalahpahaman Mengenai DID
\nBanyak orang awam sering mengira bahwa DID sama dengan skizofrenia. Padahal, kedua kondisi ini sangat berbeda. Skizofrenia berkaitan dengan halusinasi dan delusi, sedangkan DID lebih fokus pada perubahan identitas dan ingatan.
\nSelain itu, banyak orang percaya bahwa penderita DID bisa dengan mudah berubah-ubah kepribadian seperti mengganti pakaian. Faktanya, perubahan tersebut tidak terjadi secara spontan dan sering kali dipicu oleh situasi tertentu. Proses ini bisa memakan waktu lama dan tidak selalu terlihat jelas bagi orang lain.
\nMiskonsepsi dan Stigma
\nSayangnya, masyarakat sering kali memberikan stigma negatif terhadap penderita DID. Banyak orang menganggap mereka sebagai orang yang berbahaya atau tidak stabil. Padahal, para penderita DID justru lebih rentan menjadi korban kekerasan. Mereka sering dianggap gila dan bahkan dipasung atau diikat agar tidak melarikan diri.
\nIni menunjukkan betapa pentingnya pemahaman yang lebih baik mengenai DID. Masyarakat perlu lebih peka dan memahami bahwa penderita DID bukanlah ancaman, melainkan orang-orang yang sedang berjuang melawan kondisi yang kompleks.
\nPengobatan dan Perawatan
\nSampai saat ini, belum ada obat khusus yang bisa menyembuhkan DID sepenuhnya. Namun, terapi psikologis dan dukungan sosial bisa sangat membantu dalam mengelola kondisi ini. Penderita DID perlu didampingi oleh profesional yang memahami kondisi mereka agar bisa hidup lebih tenang dan stabil.
\nDengan meningkatkan kesadaran dan pengertian, kita bisa membantu meringankan beban yang dialami oleh penderita DID. Mereka layak mendapatkan penghargaan dan perlindungan, bukan stigma dan kesalahpahaman.
Komentar
Kirim Komentar