Dusun Buloli, Tempat Air Kembali Mengalir
Di ujung barat Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, terdapat sebuah dusun kecil bernama Buloli. Terletak di perbukitan Desa Bambasiang, Kecamatan Tomini, wilayah ini dikelilingi hutan lebat dan sungai-sungai kering yang menandakan panjangnya musim kemarau. Di sinilah, sosok sederhana bernama Bripka Abdul Harik mengubah kesunyian menjadi kisah tentang harapan dan ketulusan.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Selama bertahun-tahun, Buloli hidup tanpa air bersih. Pipa tua peninggalan proyek lama rusak dimakan waktu, sementara mata air di perbukitan terhalang batuan dan tanah longsor. Warga harus berjalan hampir dua kilometer untuk menimba air dari sungai yang mulai dangkal. Dalam kesulitan itu, kehidupan tetap berjalan—namun penuh keprihatinan.
Abdul Harik, Bhabinkamtibmas Desa Bambasiang, mengenal penderitaan itu bukan dari laporan di meja kantor, tetapi dari kunjungan hariannya. “Saya melihat sendiri anak-anak harus mandi di sungai keruh, ibu-ibu menenteng jerigen naik turun bukit,” ujarnya lirih. “Hati saya tidak tega. Rasanya Polri tidak cukup hanya hadir saat ada masalah hukum, tapi juga ketika rakyat kesulitan hidup.”
Tindakan Nyata untuk Perubahan
Suatu pagi di awal Oktober, ia memutuskan bertindak. Bersama Bhabinsa dan puluhan warga Buloli, ia memimpin kerja bakti menyambung kembali saluran pipa dari sumber air di lereng timur. Tidak ada kontraktor, tidak ada dana besar—hanya pipa bekas, cangkul, dan semangat gotong royong. Mereka bekerja di bawah panas terik, menelusuri jalur terjal dengan peralatan seadanya. Bagi Abdul Harik, setiap meter pipa yang terpasang bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan doa agar kehidupan mengalir lagi ke rumah-rumah warganya.
“Air adalah hak setiap manusia,” katanya. “Kalau negara ini ingin maju, kesejahteraan harus dimulai dari yang paling dasar — dari air.”
Kehidupan yang Berubah
Desa Bambasiang sendiri merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Kecamatan Tomini. Aksesnya terbatas, jaringan telekomunikasi nyaris tak ada, dan ekonomi bergantung pada pertanian kecil serta hasil hutan. Namun di balik keterisolasian itu, masyarakatnya dikenal ramah, tangguh, dan menjunjung tinggi gotong royong.
Ketika akhirnya air mengalir dari pipa ke bak penampungan dusun, suasana haru tak terbendung. Anak-anak berlarian di bawah pancuran, orang tua menatap aliran air seperti melihat keajaiban. “Air ini seperti mukjizat bagi kami,” kata Rahma, seorang ibu tiga anak. “Dulu kami berjalan jauh setiap hari. Sekarang, air datang ke rumah kami. Terima kasih kepada Pak Bhabin.”
Pengabdian Tanpa Pamrih
Bagi Abdul Harik, momen itu adalah puncak dari pengabdian tanpa pamrih. Ia tidak mencari penghargaan, hanya ingin masyarakatnya hidup lebih layak. “Setetes air bisa berarti satu kehidupan,” ujarnya. “Kalau itu bisa saya bantu wujudkan, berarti tugas saya sebagai polisi sudah benar.”
Kini, Dusun Buloli mulai berubah. Dengan adanya air bersih, warga bisa berkebun lebih produktif, guru-guru kembali bermalam di sekolah, dan anak-anak tak lagi terlambat karena harus menimba air. Desa yang dulu sunyi kini hidup kembali — bukan karena pembangunan besar, tetapi karena seorang polisi yang percaya pada arti kemanusiaan.
Kisah yang Menginspirasi
Kisah Bripka Abdul Harik menjadi potret kecil tentang bagaimana pengabdian sejati tidak membutuhkan panggung besar. Di tempat yang jauh dari sorotan, seorang anggota Polri membuktikan bahwa seragam cokelat bisa menjadi simbol kasih sayang dan harapan. Dan di Buloli, air yang kini mengalir bukan hanya menyiram tanah — tetapi juga menghidupkan kembali semangat seluruh warganya.
“Kadang, perubahan besar datang dari hati yang kecil tapi tulus,” ujar Abdul Harik, menatap aliran air yang ia perjuangkan. “Di sinilah, saya merasa benar-benar menjadi pelayan masyarakat.”
Komentar
Kirim Komentar