Dinparbud Bangka Kembangkan Matras Eksotis Jadi Pusat Kreativitas Ekonomi

Dinparbud Bangka Kembangkan Matras Eksotis Jadi Pusat Kreativitas Ekonomi

Info kesehatan kali ini membahas topik yang penting bagi kita. Terkait Dinparbud Bangka Kembangkan Matras Eksotis Jadi Pusat Kreativitas Ekonomi, banyak hal penting yang perlu Anda ketahui. Simak penjelasannya.

Upaya Pemkab Bangka Mengembalikan Kejayaan Pantai Matras

Pantai Matras, yang dulu menjadi ikon pariwisata Kabupaten Bangka, kini sedang dalam proses pemulihan kejayaannya. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dinparbud) Kabupaten Bangka terus berupaya mengembangkan kawasan Exotic Matras sebagai bagian dari strategi untuk menghidupkan kembali perekonomian dan geliat wisata di kawasan tersebut.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kepala Dinparbud Bangka, Rismi Wira Madonna menjelaskan bahwa Exotic Matras diharapkan dapat menjadi magnet baru bagi wisatawan dan masyarakat sekitar. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan Pokdarwis setempat dalam mengembangkan kawasan ini sebagai pusat ekonomi kreatif.

“Jangan sampai Matras yang dulu dikenal orang sebagai ikonnya Kabupaten Bangka, sekarang karena sudah banyak pilihan pantai lain, maka kita bekerja sama dengan Pokdarwis untuk membuka tempat ini sebagai pusat ekonomi kreatif,” ujarnya.

Selain itu, pihak Dinparbud juga akan melakukan intervensi melalui pelaksanaan event-event edukatif di kawasan Exotic Matras. Hal ini bertujuan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat, khususnya pelajar dan generasi muda.

“Kemudian akan ada workshop-workshop ekonomi kreatif kedepannya supaya Matras ini lebih memberikan manfaat kepada masyarakat,” jelasnya.

Tantangan dan Strategi Pengembangan

Salah satu tantangan utama dalam pengembangan kawasan Exotic Matras adalah lokasinya yang cukup jauh dari pusat Kota Sungailiat. Meskipun demikian, pihak Dinparbud tetap berupaya untuk menarik minat masyarakat agar datang ke kawasan ini.

“Kami sebetulnya mengundang masyarakat untuk dapat hadir. Jadi daripada anak-anak kita di rumah, main game terus kan, mungkin bisa datang melihat kegiatan-kegiatan yang ada di Matras,” ungkap Wira.

Untuk menarik perhatian masyarakat, pihak Dinparbud juga akan memastikan bahwa kawasan Exotic Matras dibuka secara rutin setiap akhir pekan. Menurut Wira, pengunjung biasanya lebih ramai pada hari-hari akhir pekan.

“Karena di Matras ini yang ramai pengunjungnya memang tiap weekend. Kalau hari-hari biasa mungkin agak berat,” ujarnya.

Dukungan bagi Pelaku Ekonomi Kreatif

Pelaku ekonomi kreatif yang menjajakan produknya di kawasan ruko-ruko Exotic Matras juga mendapatkan dukungan dari pemerintah. Mereka diberi keringanan tanpa dipungut biaya alias gratis.

“Sementara kita gratiskan ini, karena kondisi masyarakat seperti ini tidak bisa langsung kita pungut (biaya sewa). Jadi untuk setahun ini kita free-kan,” katanya.

Namun, jika nanti kawasan ini mulai dipungut retribusi biaya sewa, nominal yang diperlukan tidak terlalu berat. Menurut Wira, retribusi yang ditetapkan dalam Perda hanya sebesar Rp150 ribu per bulan.

“Kalau retribusi di Perda kita itu tidak berat, hanya Rp150 ribu perbulan. Saya pikir itu tidak memberatkan lah sebetulnya, pemerintah ini tidak mau lah memberatkan masyarakatnya,” ujarnya.

Pengelolaan Kawasan dan Kebersihan

Biaya retribusi masuk kawasan Pantai Matras selama ini diserahkan ke pihak ketiga. Namun, pengelolaan kawasan pantai dan sekitarnya dikelola oleh Pokdarwis setempat dan tenaga kebersihan yang dibayar oleh Dinas Pariwisata.

“Jadi ya kenapa Pantai Matras itu bisa bersih karena memang ada petugas dari kita. Jadi sumber penggajian mereka itu memang sudah dianggarkan untuk petugas kebersihan, dan sebagian besar memang warga sini,” tuturnya.

Kendala Pembangunan

Wira juga menjelaskan kendala pembangunan di kawasan Pantai Matras. Sebagian wilayah Pantai Matras berstatus Hutan Produksi Konversi (HPK), sehingga pembangunan permanen tidak diperbolehkan. Hanya diperbolehkan memelihara aset yang sudah terbangun.

“Karena berada di kawasan HPK, kita tidak boleh membangun permanen, hanya boleh memelihara aset yang sudah terbangun,” tambahnya.

Kesimpulan: Semoga informasi ini bermanfaat bagi kesehatan Anda dan keluarga. Jaga selalu kesehatan dengan pola hidup yang baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar