
Sekolah Kejuruan Kesehatan di Kabupaten Sikka yang Menyambut Semua Siswa
SMK St. Elisabeth Lela adalah sebuah sekolah kejuruan kesehatan yang berada di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sekolah ini berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Katolik, Keuskupan Maumere di Pulau Flores. Meskipun merupakan lembaga pendidikan Katolik, SMK ini telah menjadi tempat yang nyaman bagi siswa dari latar belakang agama yang berbeda.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Pada Jumat (7/11/2025), dua siswi Muslim dari jurusan Keperawatan berbagi pengalaman mereka selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut. Mereka mengatakan bahwa meski bersekolah di lingkungan Katolik, mereka merasa diterima dan dihargai tanpa adanya perbedaan.
Pengalaman Sarah Anggraini Tokan
Sarah Anggraini Tokan, seorang siswi kelas X Keperawatan, mengungkapkan rasa bangganya bisa bersekolah di SMK St. Elisabeth Lela. Ia menyebutkan bahwa meskipun sekolah ini memiliki latar belakang Katolik, ia tetap mendapatkan ruang untuk bersekolah di sini.
“Saya merasa sangat bangga bisa bersekolah di St. Elisabeth. Walaupun sekolah ini Katolik, tapi saya tetap mendapatkan ruang untuk bersekolah di sini. Saya juga menggunakan busana Muslim dan mereka sangat menghormati busana saya,” ujarnya.
Sarah juga menjelaskan bahwa lingkungan sekolahnya sangat inklusif. Ia merasa nyaman dengan aturan dan kebijakan yang diterapkan oleh pihak sekolah, yang memungkinkannya untuk menjalani kehidupan sehari-hari tanpa gangguan.
Pengalaman Siti Marwah
Sementara itu, Siti Marwah, siswi kelas X Keperawatan, juga menyampaikan pengalamannya yang serupa. Ia merasa senang bersekolah di SMK St. Elisabeth Lela karena mendapatkan ilmu yang baik dan lingkungan yang ramah.
“Saya merasa senang sekolah di sini karena saya mendapatkan ilmu yang baik. Meskipun sekolah ini Katolik, tapi di sini juga disiapkan ruang untuk kami beribadah dan tempat salat,” kata Marwah.
Marwah juga menambahkan bahwa teman-teman di sekolah sangat menerima perbedaan. Ia merasa diterima oleh teman-temannya, bahkan sampai membantu dalam hal-hal kecil seperti menjaga kebersihan dan kenyamanan selama beribadah.
Lingkungan Sekolah yang Inklusif
Dari pengalaman kedua siswi tersebut, terlihat bahwa SMK St. Elisabeth Lela tidak hanya fokus pada pendidikan akademis, tetapi juga menciptakan lingkungan yang inklusif dan harmonis. Sekolah ini memberikan ruang bagi siswa dari berbagai latar belakang agama untuk belajar dan berkembang bersama.
Pihak sekolah juga menunjukkan komitmen untuk menghormati keberagaman. Dengan adanya ruang ibadah dan kebijakan yang jelas, siswa Muslim dapat menjalankan aktivitas keagamaan tanpa hambatan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai toleransi dan saling menghormati telah diterapkan secara konsisten.
Kesimpulan
SMK St. Elisabeth Lela menjadi contoh bagaimana pendidikan yang inklusif dapat dibangun dalam lingkungan yang berbeda. Dengan dukungan dari pihak sekolah dan lingkungan yang ramah, siswa Muslim dapat merasa nyaman dan mendapatkan kesempatan yang sama dalam proses pembelajaran.
Komentar
Kirim Komentar