
Pada tahun 2026, kondisi ekonomi global masih menyimpan sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. Hal ini disampaikan oleh Suhindarto, Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), yang menilai bahwa stabilitas ekonomi domestik bisa terpengaruh oleh berbagai faktor global. Meski begitu, prospek pertumbuhan ekonomi nasional tetap optimis.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Suhindarto mengungkapkan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2026 diperkirakan berada dalam kisaran 4,9% hingga 5,3%, dengan titik tengah pada angka 5,1%. Proyeksi ini didorong oleh kebijakan fiskal dan moneter yang masih bersifat ekspansif. Namun, ia juga menyoroti bahwa ketidakpastian global yang muncul sepanjang tahun 2025 kemungkinan akan berlanjut hingga tahun depan.
Faktor Risiko Global
Beberapa risiko utama dari sisi global antara lain adalah faktor geopolitik dan ketidakpastian kebijakan perdagangan internasional. Dinamika geopolitik yang sebelumnya dipicu oleh konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur kini mulai bergeser ke persaingan strategis antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Fokus persaingan ini kini lebih berkaitan dengan dominasi rantai pasok komoditas yang terkait dengan kepentingan militer dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Meskipun saat ini terjadi gencatan senjata dalam kompetisi antara AS dan Tiongkok, situasi tersebut dinilai masih rapuh dan berpotensi memanas kembali sewaktu-waktu. Selain itu, perlambatan pertumbuhan ekonomi global juga menjadi salah satu faktor risiko. Berdasarkan proyeksi lembaga internasional seperti OECD dan IMF, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat pada 2026.
Dampak Ketidakpastian Global
Ketidakpastian global dapat memengaruhi perekonomian Indonesia melalui dua jalur transmisi utama, yaitu perdagangan dan arus modal. Dari sisi perdagangan, ketidakpastian kebijakan perdagangan dan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat bisa menjadi risiko bagi kinerja ekspor Indonesia serta berpotensi menggerus surplus neraca perdagangan.
Dari sisi arus modal, lonjakan risiko geopolitik dapat mendorong pembalikan arus modal yang selama ini mengalir ke negara berkembang, kembali ke negara maju atau ke instrumen investasi yang dianggap lebih aman seperti komoditas safe haven. Jika hal ini terjadi, nilai tukar akan menjadi variabel yang pertama kali terdampak. Tekanan tersebut berpotensi menjalar ke berbagai indikator ekonomi lainnya dan mengganggu stabilitas ekonomi dalam negeri.
Kewaspadaan yang Perlu Dipertahankan
Suhindarto menegaskan bahwa kewaspadaan kita di Indonesia masih perlu terus dijaga. Volatilitas yang terjadi akibat ketidakpastian global tersebut bisa saja sewaktu-waktu melonjak dan kemudian dapat mempengaruhi ekonomi kita. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk terus memantau perkembangan situasi global dan mempersiapkan langkah-langkah mitigasi yang diperlukan.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, meskipun ada sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2026 tetap menunjukkan kinerja yang positif dan solid. Namun, stabilitas ekonomi domestik sangat bergantung pada kemampuan kita dalam menghadapi tantangan-tantangan global yang terus berubah. Dengan kewaspadaan yang tinggi dan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat menjaga pertumbuhan ekonominya di tengah ketidakpastian global yang semakin kompleks.
Komentar
Kirim Komentar