
Festival Film Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20 Akan Ditutup dengan Film "Suka Duka Tawa"
\nFestival film bergengsi Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20 akan berakhir dengan momen yang penuh makna. Film Suka Duka Tawa karya sutradara Aco Tenriyagelli resmi menjadi closing film pada 6 Desember 2025 di XXI Empire Yogyakarta. Pemilihan film ini terasa sangat simbolis, karena mengangkat tema luka dan tawa sebagai penutup perayaan dua dekade JAFF yang telah memberikan ruang bagi sineas muda Indonesia.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Aco Tenriyagelli menyampaikan bahwa JAFF adalah rumah baginya. “Memutar film debut saya di sini seperti menutup lingkaran perjalanan,” ujarnya. Film ini menggambarkan kisah Rachel Amanda sebagai Tawa, seorang komika muda yang berjuang mencari jati diri dalam hubungan kompleks dengan ayahnya yang juga seorang pelawak. Melalui kisah personal ini, film ini menggambarkan dinamika keluarga yang akrab, tetapi juga penuh getir dan hangat.
\nTeaser resmi yang baru dirilis menunjukkan kombinasi antara humor segar dan momen emosional. Penonton akan dibawa masuk ke dunia stand-up comedy yang menjadi cermin kehidupan, di mana setiap tawa menyimpan kisah duka di baliknya. Kehadiran komika populer seperti Bintang Emon, Arif Brata, Gilang Bhaskara, hingga Pandji Pragiwaksono memperkuat daya tarik film ini. Selain menghibur, Suka Duka Tawa juga membawa lapisan makna yang dalam.
\nProduser Tersi Eva Ranti menjelaskan bahwa film ini bisa disebut sebagai “komedi dengan hati.” Ia menekankan bahwa film ini menyoroti tema universal, yaitu hubungan antar generasi dan proses memaafkan diri sendiri. Sebagai film penutup JAFF, Suka Duka Tawa diharapkan menjadi penanda bahwa film Indonesia kini semakin berani menghadirkan cerita-cerita personal yang tulus dan membumi.
\nPengaruh JAFF terhadap Dunia Film Indonesia
\nSejak pertama kali digelar, JAFF telah menjadi wadah penting bagi sineas muda Indonesia untuk mengekspresikan kreativitas mereka. Dalam dua dekade terakhir, festival ini tidak hanya memperkenalkan bakat-bakat baru, tetapi juga memperkaya khazanah perfilman nasional dengan berbagai karya yang bervariasi dan berani.
\nFilm-film yang ditampilkan di JAFF sering kali mencerminkan realitas sosial dan emosional yang mendalam. Dengan adanya Suka Duka Tawa sebagai film penutup, JAFF menunjukkan bahwa film Indonesia tidak hanya fokus pada narasi besar, tetapi juga mampu menyentuh hati melalui kisah-kisah kecil yang penuh makna.
\nMomen yang Menggugah
\nFilm Suka Duka Tawa diharapkan mampu mengundang refleksi dari para penonton. Dengan alur cerita yang penuh haru dan tawa, film ini akan menjadi pengingat bahwa hidup penuh dengan konflik, tetapi juga penuh dengan pelajaran. Setiap tawa yang terdengar bisa saja menyembunyikan luka yang tak terucapkan, dan setiap kesedihan bisa menjadi awal dari pemulihan.
\nDalam konteks yang lebih luas, film ini juga menjadi representasi dari perjalanan kreatif seorang sutradara yang kembali ke akar karyanya. Dengan dukungan dari produser dan para komika ternama, Suka Duka Tawa menunjukkan bahwa film Indonesia tidak hanya mampu bersaing secara internasional, tetapi juga mampu menyampaikan pesan-pesan yang mendalam dan relevan.
\nKesimpulan
\nDengan penutupan JAFF ke-20 oleh Suka Duka Tawa, festival ini menandai sebuah langkah penting dalam dunia perfilman Indonesia. Film ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi cerminan dari dinamika sosial dan emosional yang kompleks. Dengan alur cerita yang menarik dan pesan yang dalam, Suka Duka Tawa diharapkan menjadi salah satu karya yang akan dikenang dalam sejarah JAFF dan industri film Indonesia.
Komentar
Kirim Komentar