Frankenstein Karya Guillermo del Toro Tayang di Netflix: Adaptasi Gelap dan Puitis

Industri teknologi kembali ramai dengan kabar terbaru. Sorotan publik kali ini tertuju pada Frankenstein Karya Guillermo del Toro Tayang di Netflix: Adaptasi Gelap dan Puitis yang menawarkan spesifikasi menarik. Berikut ulasan lengkapnya.
Frankenstein Karya Guillermo del Toro Tayang di Netflix: Adaptasi Gelap dan Puitis

Frankenstein: Karya Impian Guillermo del Toro yang Akhirnya Terwujud

Setelah bertahun-tahun hanya menjadi rumor di kalangan pecinta film, sutradara ternama Guillermo del Toro akhirnya merilis karya impiannya: Frankenstein, adaptasi terbaru dari novel klasik legendaris karya Mary Shelley. Film ini resmi tayang di Netflix dan langsung mencuri perhatian karena menggabungkan unsur horor, tragedi, dan keindahan visual khas del Toro.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Mimpi 10 Tahun yang Akhirnya Jadi Nyata

Del Toro, yang dikenal lewat mahakarya seperti The Shape of Water dan Pan’s Labyrinth, telah mengembangkan proyek “Frankenstein” ini selama lebih dari satu dekade. Dalam berbagai wawancara, ia mengaku bahwa kisah tentang sang ilmuwan dan makhluk ciptaannya adalah salah satu karya sastra paling berpengaruh dalam hidupnya.

“Bagi saya, ‘Frankenstein’ bukan sekadar cerita horor. Ini tentang cinta, kehilangan, dan rasa takut manusia terhadap ciptaannya sendiri,” ujar del Toro dalam wawancara bersama Tudum by Netflix, Senin (10/11/2025).

Inspirasi terbesarnya datang dari kutipan sang monster dalam novel, yang menggambarkan perasaan ingin dicintai namun diiringi ketakutan untuk diterima. Tema ini menjadi pondasi emosional film—bukan hanya menakutkan, tetapi juga mengharukan.

Narasi Klasik dalam Sentuhan Sinematik Modern

Kisahnya tetap setia pada garis besar novel Mary Shelley: Victor Frankenstein, seorang ilmuwan jenius yang terobsesi menciptakan kehidupan lewat eksperimen ilmiah ekstrem. Namun, keberhasilannya justru menjadi awal dari bencana besar yang menelan dirinya dan sang makhluk ciptaan dalam spiral kehancuran dan kesepian.

Peran Victor Frankenstein dimainkan dengan intens oleh Oscar Isaac, sementara Jacob Elordi tampil mengejutkan sebagai makhluk ciptaan Frankenstein—versi yang lebih emosional dan manusiawi. Aktris Mia Goth turut memperkuat jajaran pemeran dengan karakter misterius yang memperdalam lapisan cerita.

Tak hanya itu, film ini juga menampilkan aktor-aktor ternama seperti Felix Kammerer, Lars Mikkelsen, David Bradley, Charles Dance, dan Christoph Waltz, yang menambah bobot artistik sekaligus kedalaman karakter.

Tiga Bab Kisah Tragis: Dari Es Hingga Emosi

Menariknya, film “Frankenstein” versi del Toro dibagi menjadi tiga bagian utama: Prelude, Victor’s Tale, dan The Creature’s Tale. Struktur ini mengikuti gaya novel asli Mary Shelley yang juga memiliki pendekatan naratif berlapis—di mana cerita dibingkai dari berbagai sudut pandang.

Bagian Prelude dibuka dengan latar wilayah es yang sunyi dan misterius, menghadirkan tone visual dingin dan atmosferik khas del Toro. Sementara Victor’s Tale memperlihatkan sisi ambisi dan kegilaan ilmuwan muda yang ingin menandingi Tuhan. Lalu, The Creature’s Tale menjadi inti emosional film—di mana penonton diajak menyelami penderitaan, kerinduan, dan rasa terasing sang makhluk.

Del Toro bekerja sama dengan editor Evan Schiff untuk menjaga ritme film tetap kuat meski narasinya kompleks. Schiff mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam penyuntingan adalah memastikan alur tetap mengalir secara emosional, bukan hanya kronologis. “Del Toro ingin setiap bagian terasa seperti simfoni: punya tempo sendiri, tapi tetap berpadu menjadi satu kesatuan,” ujarnya.

Visual Gelap yang Indah dan Filosofis

Sebagai sutradara yang dikenal dengan worldbuilding detail dan estetika gotik, del Toro sekali lagi menampilkan perpaduan antara keindahan dan kengerian. Film ini penuh dengan simbolisme visual—bayangan, cahaya, dan warna dingin yang menggambarkan dilema moral antara pencipta dan ciptaan.

Setiap adegan dibangun dengan komposisi sinematik yang nyaris seperti lukisan, menghadirkan nuansa klasik namun tetap relevan di era modern. Musik dan narasi suara digunakan secara halus untuk menuntun emosi penonton tanpa kehilangan momentum dramatisnya.

Antara Horor dan Kemanusiaan

Yang membuat versi ini berbeda adalah cara del Toro menyajikan monster bukan sebagai sosok jahat, melainkan sebagai simbol keterasingan manusia modern—mereka yang diciptakan, ditolak, lalu berjuang mencari makna eksistensi.

Kesimpulan: Bagaimana komentar Anda mengenai teknologi ini? Apakah layak ditunggu? Tuliskan opini Anda di kolom komentar di bawah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar