
Desa Glagahwangi Bertransformasi Menjadi Eduwisata Berbasis Pangan
Desa Glagahwangi yang berada di Kecamatan Polanharjo mulai melakukan transformasi dengan menata dirinya menjadi desa eduwisata berbasis pangan. Salah satu inisiatif utama adalah budi daya jamur tiram yang dikelola oleh Bumdes Muncar. Area Taman Tumenggung Glagahwangi, yang sebelumnya sudah ramai dengan fasilitas wisata keluarga seperti gazebo, panggung, dan rumah makan, kini juga menyediakan pengunjung untuk melihat langsung proses pembudidayaan jamur.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Wisata ini dirancang agar cocok untuk pelajar maupun keluarga yang ingin mengenal dunia pertanian lebih dekat. Selain menambah daya tarik wisata desa, program ini juga menjadi upaya memperkuat ketahanan pangan yang tengah digencarkan pemerintah. Warga berharap program ini mampu membuka peluang usaha baru serta menarik lebih banyak wisatawan untuk datang.
Prospek Ekonomi Jamur Tiram Dinilai Menjanjikan
Direktur Bumdes Muncar, Nur Fadillah, menjelaskan bahwa jamur tiram dipilih karena peluang ekonominya stabil dan permintaannya cenderung meningkat. Selain itu, jamur tiram memiliki kandungan gizi tinggi seperti protein dan vitamin B, membuatnya jadi komoditas yang mudah dipasarkan.
Usaha ini sejatinya sudah dirintis sejak setahun sebelumnya, meski masih dalam skala kecil dan memanfaatkan rumah warga sebagai tempat budi daya. Namun karena permintaan terus bertambah, Bumdes memutuskan membangun kumbung khusus di area taman desa untuk memperluas kapasitas. Pilihan ini sekaligus menunjukkan bahwa sektor pangan bisa menjadi tulang punggung ekonomi desa bila dikelola dengan serius.
Dengan pengembangan yang tepat, jamur tiram berpotensi menjadi komoditas unggulan Glagahwangi.
Kumbung Baru Mampu Menampung Hingga 10.000 Baglog
Kumbung yang kini berdiri memiliki ukuran 6 meter x 20 meter dan mampu menampung hingga 10.000 baglog jamur. Dari jumlah itu, produksi diperkirakan bisa mencapai 4.000 kilogram jamur per periode tanam, atau sekitar tiga bulan sekali. Dengan harga jual Rp12.000–Rp15.000 per kilogram, potensi pendapatan mencapai Rp48 juta per periode.
Angka itu cukup signifikan untuk ukuran unit usaha desa, terutama yang dikelola secara mandiri. Bumdes berharap kapasitas ini bisa terus bertambah seiring bertumbuhnya permintaan pasar. Selain itu, warga sekitar juga berkesempatan ikut terlibat sebagai tenaga kerja maupun pemasok bahan baku.
Hasil Panen Jadi Berbagai Produk Olahan
Tak hanya dijual dalam bentuk mentah, sebagian hasil panen jamur tiram juga diolah menjadi aneka makanan yang ditawarkan di warung Bumdes. Beberapa produk yang kini diminati antara lain jamur krispi, rendang jamur, sate jamur, hingga topping jamur untuk menu seblak. Lokasi warung yang bersebelahan dengan kumbung membuat pengunjung bisa langsung melihat proses dari panen hingga penyajian.
Cara ini sekaligus memperkuat branding bahwa kuliner jamur Glagahwangi benar-benar fresh dan dikelola secara profesional. Produk olahan ini menjadi nilai tambah bagi desa, karena bukan hanya menjual bahan mentah, tetapi juga menghadirkan pengalaman kuliner.
Dikembangkan Sebagai Wisata Edukasi Lengkap
Bumdes berencana merancang paket wisata edukasi yang memungkinkan pengunjung belajar langsung proses budi daya jamur. Mulai dari menyiapkan media tanam, menjaga kelembapan, hingga cara memanen yang benar, semua akan ditampilkan dalam satu rangkaian tur. Program ini dinilai cocok untuk pelajar, komunitas, maupun masyarakat umum yang ingin mengenal lebih jauh dunia pertanian modern.
Pengunjung juga bisa langsung menikmati olahan jamur di rumah makan Bumdes sebagai penutup kunjungan. Selain wisata edukasi, Bumdes juga menyiapkan paket pelatihan bagi mereka yang ingin terjun ke usaha jamur tiram, termasuk calon pensiunan yang mencari peluang usaha baru. Langkah ini menjadikan Glagahwangi bukan sekadar tempat wisata, tetapi juga pusat pembelajaran.
Kolaborasi Antar-Desa dan Dukungan Pemerintah
Kepala Desa Glagahwangi, Desy Harini, menyebut bahwa pengembangan eduwisata jamur ini merupakan bagian dari program ketahanan pangan desa. Saat ini hasil panen sudah diolah menjadi keripik jamur serta dijual langsung dari panen-panen sebelumnya. Ke depan, desa membuka peluang kolaborasi dengan Bumdes lain di Kecamatan Polanharjo, terutama yang memiliki potensi wisata air untuk memperkuat daya tarik kawasan.
Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo, juga memberikan dukungan penuh dan menilai bahwa jamur tiram dapat menjadi identitas baru desa. Ia bahkan menyarankan agar Glagahwangi menghadirkan konsep kuliner jamur yang unik dan sehat untuk memperkokoh branding sebagai Desa Jamur. Dukungan ini membuat warga semakin optimistis bahwa eduwisata jamur akan membawa dampak positif bagi ekonomi desa.
Komentar
Kirim Komentar