
aiotrade, JAKARTA — Harga emas dan perak kembali mengalami peningkatan yang signifikan saat perdagangan kembali dibuka pada tahun 2026. Kenaikan ini membuat harga logam mulia tersebut berada di jalur untuk mencatat performa terbaiknya sejak tahun 1979.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Berdasarkan data dari Bloomberg, harga emas naik sebesar 1,6% menjadi US$4.387,57 per ons pada pukul 12.42 waktu London. Sementara itu, harga perak juga melonjak sebesar 3,1% menjadi US$73,88. Selain itu, harga paladium dan platinum juga mengalami kenaikan. Perdagangan awal tahun ini diperkirakan akan sepi karena beberapa pasar utama seperti Jepang dan Tiongkok masih dalam masa liburan.
Meski para pelaku pasar menilai bahwa logam mulia memiliki potensi untuk melanjutkan performa positifnya pada tahun ini, ada kekhawatiran bahwa rebalancing indeks dapat memengaruhi harga dalam jangka pendek. Hal ini terjadi karena harga logam-logam tersebut telah mengalami reli, sehingga dana indeks pasif seperti ETF kemungkinan besar akan menjual sebagian kontrak untuk menyesuaikan dengan bobot baru.
Kontrak berjangka perak saat ini menyumbang 9% dari Bloomberg Commodities Index (BCOM), sebuah indeks acuan yang banyak diikuti dan merepresentasikan sekeranjang komoditas. Sebagai perbandingan, target bobot kontrak berjangka perak untuk tahun 2026 hanya sedikit di bawah 4%. Artinya, lebih dari US$5 miliar kepemilikan harus dilepas dalam periode pengguliran selama lima hari yang dimulai pekan depan. Sekitar US$6 miliar kontrak berjangka emas juga diperkirakan akan dijual.
Daniel Ghali, ahli strategi komoditas senior di TD Securities, dalam catatannya pekan ini memperkirakan sekitar 13% dari total open interest agregat di pasar perak Comex akan dijual dalam dua pekan ke depan. "Penjualan itu berpotensi memicu penyesuaian harga tajam ke bawah," kata Ghali sambil menambahkan bahwa likuiditas yang lebih rendah pasca-libur dapat memperbesar pergerakan harga.
Harga logam mulia mencatat reli yang sangat kuat sepanjang tahun 2025 meskipun terjadi volatilitas signifikan pada akhir Desember ketika sebagian investor merealisasikan keuntungan dan indikator perdagangan menunjukkan kondisi jenuh beli. Rekor harga emas tahun lalu didukung oleh pembelian bank sentral, pelonggaran kebijakan Federal Reserve, serta melemahnya dolar AS. Permintaan terhadap aset lindung nilai, yang dipicu oleh ketegangan geopolitik dan friksi perdagangan, juga menopang harga.
Sedangkan harga perak menguat bahkan lebih tajam dibandingkan emas sepanjang tahun, menembus rekor dan melampaui level yang dianggap mustahil, kecuali oleh para pengamat pasar paling optimistis. Di luar faktor-faktor yang mendukung emas, perak juga diuntungkan oleh kekhawatiran berkelanjutan bahwa pemerintah AS pada akhirnya dapat memberlakukan tarif impor terhadap logam hasil pemurnian tersebut.
Di kalangan bank-bank besar, terdapat dukungan terhadap potensi kenaikan lanjutan harga emas tahun ini, terutama dengan ekspektasi bahwa The Fed akan kembali memangkas suku bunga dan Presiden Donald Trump membentuk ulang kepemimpinan bank sentral AS. Goldman Sachs Group Inc. mengatakan bulan lalu bahwa skenario dasarnya adalah reli menuju US$4.900 per ons, dengan risiko condong ke arah kenaikan.
Komentar
Kirim Komentar