
aiotrade, JAKARTA — Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan bahwa permintaan minyak dan gas (migas) global akan terus meningkat hingga 2050. Laporan ini menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan laporan IEA tahun lalu, yang menyatakan bahwa laju transisi energi terbarukan yang cepat dapat menggeser dominasi migas dalam konsumsi energi global.
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Ramalan kenaikan konsumsi migas dalam World Energy Outlook 2025 mengacu pada Current Policies Scenario (CPS). Metode ini kembali digunakan setelah lima tahun absen dalam laporan IEA. Perubahan pendekatan ini mencerminkan arah kebijakan Amerika Serikat yang lebih fokus pada penggunaan energi fosil, meskipun masih ada upaya untuk beralih ke sumber energi terbarukan.
Dalam skenario CPS, konsumsi minyak global diperkirakan naik sebesar 13% dari 100 juta barel per hari pada 2025 menjadi 113 juta barel per hari pada 2050. Sementara itu, pangsa mobil listrik dalam penjualan otomotif global diperkirakan melandai setelah 2035. CPS juga mengusung asumsi bahwa pertumbuhan energi angin dan surya akan terkoreksi, sementara permintaan untuk gas alam akan meningkat.
Perbedaan skenario ini memiliki dampak besar terhadap pasar energi dan harga minyak dunia. Dalam skenario CPS, permintaan migas yang lebih tinggi akan menyerap kelebihan pasokan global dengan lebih cepat, sehingga mendorong harga minyak naik hingga sekitar US$90 per barel pada 2035.
Namun, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dunia akan memerlukan tambahan sekitar 25 juta barel per hari dari proyek-proyek baru serta pasokan dari produsen yang saat ini masih dikenai sanksi.
Proyeksi permintaan migas ini juga menjadi bukti bahwa jalan menuju target netral karbon pada pertengahan abad ini akan lebih sulit dicapai daripada yang diperkirakan sebelumnya, dengan implikasi serius bagi lingkungan.
Dalam skenario CPS, suhu rata-rata global diprediksi naik hampir 3 derajat Celsius di atas tingkat praindustri pada akhir abad ini, dibandingkan 2,5 derajat Celsius dalam skenario alternatif. Kedua skenario tersebut menggambarkan tingkat perubahan iklim yang dinilai ilmuwan sebagai sangat merusak.
CPS dinilai lebih sejalan dengan pandangan OPEC, kartel produsen minyak yang dipimpin oleh Arab Saudi, yang juga memprediksi permintaan minyak akan terus meningkat hingga 2050. Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham Al-Ghais, berulang kali mengkritik IEA karena dianggap mendorong “narasi antiminyak.”
Bahkan dalam skenario IEA yang lebih moderat, yakni STEPS, puncak permintaan minyak kini diperkirakan akan terjadi sedikit lebih lambat, yakni sekitar 2030, bukan sebelum akhir dekade ini sebagaimana diproyeksikan dalam laporan tahun lalu. Dalam skenario STEPS, konsumsi minyak rata-rata mencapai 96,9 juta barel per hari pada 2050, naik dari estimasi sebelumnya sebesar 93,1 juta barel per hari.
Bagaimanapun hasil akhirnya, dunia tetap harus menghadapi berbagai risiko besar, mulai dari sanksi terhadap ekspor minyak, ketidakpastian pasokan gas alam Rusia, hingga ancaman serangan siber terhadap infrastruktur kelistrikan, ujar Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol.
“Keamanan energi global kini menghadapi ragam ancaman yang belum pernah kita saksikan sebelumnya,” kata Birol.
Komentar
Kirim Komentar