IHSG Rekor Baru 24 Kali di Tahun 2025, Ini Pandangan Pengamat untuk Otoritas Bursa

IHSG Rekor Baru 24 Kali di Tahun 2025, Ini Pandangan Pengamat untuk Otoritas Bursa

Dunia bisnis menghadapi dinamika baru hari ini. Kabar mengenai IHSG Rekor Baru 24 Kali di Tahun 2025, Ini Pandangan Pengamat untuk Otoritas Bursa menjadi sinyal penting bagi para pelaku pasar. Berikut rinciannya.


aiotrade.CO.ID - JAKARTA.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Pasar saham Tanah Air menunjukkan pergerakan yang sangat dinamis sepanjang tahun 2025. Meski menghadapi tekanan pada semester pertama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit di paruh kedua tahun ini. Bahkan, IHSG mencatatkan rekor baru sebanyak 24 kali dalam satu tahun.

Tutup perdagangan tahun 2025, IHSG ditutup dengan kenaikan sebesar 0,03% ke level 8.646,94. Nilai kapitalisasi pasar atau market cap mencapai Rp 15.871 triliun. Selama 12 bulan, IHSG telah menguat sebesar 22,13%.

Namun, perjalanan IHSG tidak selalu mulus. Pada beberapa titik, pasar sempat terpuruk hingga memicu pembekuan perdagangan. Pada 18 Maret 2025 dan 8 April 2025, Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan trading halt sebagai upaya untuk menstabilkan kondisi pasar.

Pada tanggal 18 Maret 2025, IHSG anjlok hingga 5,03% menjelang akhir sesi pertama perdagangan. Sementara itu, pada 8 April 2025, IHSG langsung membuka perdagangan dengan penurunan tajam hingga 9,19%.

Selain volatilitas pasar, tahun 2025 juga menjadi tahun yang penting bagi penerbitan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Sebanyak 26 perusahaan berhasil melantai di BEI dengan total dana yang terkumpul mencapai Rp 278 triliun.

Menurut pengamat Pasar Modal Irwan Ariston, lonjakan IHSG sejak September 2025 menunjukkan bahwa faktor likuiditas domestik berperan penting dalam pergerakan pasar. Ia menilai, kebijakan fiskal yang mengalirkan dana pemerintah ke perbankan memberikan dampak positif terhadap transmisi likuiditas ke sistem keuangan.

“Ini menjadi pelajaran penting bahwa penguatan pasar modal tidak cukup hanya mengandalkan sentimen global atau regulasi mikro,” ujar Irwan saat dihubungi aiotrade, Selasa (30/12/2025).

Ia menyarankan agar terdapat koordinasi yang lebih erat antara kebijakan fiskal, moneter, dan pasar modal pada tahun 2026. Hal ini bertujuan agar likuiditas dapat dialokasikan secara lebih efektif untuk mendalami pasar modal.

Dari sisi lain, pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, menilai bahwa ketentuan minimal free float jangan dipaksakan dinaikkan terutama untuk emiten dengan market cap yang mencapai ratusan triliun.

“Karena untuk perusahaan dengan market cap ratusan triliun, free float sebesar 10% sejatinya sudah cukup baik karena daya serap bursa Indonesia masih belum besar,” tambahnya.

Kesimpulan: Semoga informasi mengenai IHSG Rekor Baru 24 Kali di Tahun 2025, Ini Pandangan Pengamat untuk Otoritas Bursa ini bermanfaat bagi keputusan bisnis Anda. Salam sukses dan pantau terus perkembangan pasar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar