Indonesia Kirim 48 Ton Durian Beku Pertama ke Cina

Indonesia Kirim 48 Ton Durian Beku Pertama ke Cina

Berita mancanegara hari ini diwarnai peristiwa penting. Topik Indonesia Kirim 48 Ton Durian Beku Pertama ke Cina tengah menjadi perhatian global. Berikut laporan selengkapnya.


Badan Karantina Indonesia (Barantin) meluncurkan ekspor perdana durian beku ke Tiongkok sebanyak 48 ton dengan nilai mencapai Rp 5,1 miliar. Proses ekspor ini membutuhkan waktu hingga hampir dua tahun sebelum akhirnya terwujud.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Ekspor perdana ini menjadi realisasi dari kerja sama antara Kepala Barantin, Sahat M Panggabean dan Ms. Sun Meijin, Menteri General Administration of Customs of the People's Republic of China (GACC). Penandatanganan naskah Protokol Ekspor Durian Beku asal Indonesia tujuan Cina dilakukan pada 25 Mei lalu.

Sahat menyampaikan bahwa ekspor ini merupakan hasil dari proses yang panjang dan memerlukan sumber daya yang cukup besar. Pada acara pelepasan ekspor di Citereup, Kabupaten Bogor, ia menekankan pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi.

Durian beku yang diproduksi di Jawa Barat akan dikirim ke Pelabuhan Qingdao, Tiongkok melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Selain itu, Barantin juga mendorong upaya hilirisasi produk pertanian melalui program Go Ekspor.

Barantin telah lama mengamati potensi durian Indonesia yang memiliki cita rasa unik dan diminati oleh konsumen Tiongkok. Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina telah lebih dulu memenuhi permintaan pasar Tiongkok.

Tiongkok, sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar kedua, sangat menyukai cita rasa durian dari Indonesia. Oleh karena itu, Barantin berkomunikasi dengan otoritas karantina Tiongkok, GACC, untuk membentuk protokol ekspor.

Selama hampir dua tahun, Barantin bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk memenuhi persyaratan pemerintah Tiongkok. Hasilnya adalah penandatanganan protokol ekspor pada 25 Mei 2025.

Drama Panca Putra, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Karantina Tumbuhan, menekankan pentingnya aspek ketertelusuran rumah pengemasan durian beku. Delapan rumah pengemasan telah memenuhi syarat untuk ditetapkan sebagai IKT.

Durian beku yang diekspor dapat berupa daging buah, pasta, atau buah utuh. Proses pembekuan dilakukan pada suhu -30°C atau lebih rendah menggunakan metode cepat. Produk harus bebas dari buah busuk dan benda asing.

Untuk menjadi eksportir durian beku ke Tiongkok, perusahaan harus memenuhi beberapa persyaratan, termasuk memiliki kebun durian atau mitra petani yang terdaftar, serta registrasi rumah kemas dari OKKPD Bapanas.

Barantin akan memeriksa fasilitas produksi dan penyimpanan sesuai persyaratan. Perusahaan yang memenuhi syarat akan direkomendasikan kepada GACC untuk registrasi. Produk hanya dapat diekspor setelah diregistrasi oleh GACC.

Faktor sanitasi higienis sangat penting dalam ekspor durian beku ke Tiongkok. Standar Operasional Prosedur (SOP) di IKT harus diterapkan untuk memastikan produk bebas dari cemaran kimia, biologi, dan logam berat.

Dari sertifikasi Barantin yang tercatat dalam sistem BEST TRUST, pada periode Januari hingga November 2025, Indonesia mengekspor komoditas durian sebanyak 10.162 ton ke berbagai negara. Lima negara tujuan utama yaitu Thailand, Tiongkok, Malaysia, Hong Kong, dan Jerman.

Menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Perkebunan Durian Indonesia (Apdurin), Aditya Pradewo, pelaku usaha sangat antusias dengan peluang ekspor ke Tiongkok. Pasar Tiongkok dinilai sebagai kue raksasa dengan permintaan mencapai US$ 8 miliar per tahun.

Dengan varietas unggulan seperti Bawor, Super Tembaga, dan Namlung, Indonesia optimistis bisa merebut 5–10 persen pangsa pasar. Jika target tercapai, potensi devisa mencapai Rp 6,4 triliun hingga Rp12,8 triliun per tahun.

Ekspor langsung ke Tiongkok memberikan keuntungan besar bagi petani dan eksportir. Harga durian di Tiongkok 5–7 kali lipat lebih tinggi dibandingkan harga lokal.

Muchlido Apriliast, pemilik PT Zarafa Ridho Lestari, menyampaikan bahwa sebelum adanya protokol ekspor, para pelaku usaha mengekspor durian beku ke Tiongkok melalui Thailand dengan biaya ekspedisi US$ 18.000 per kontainer. Setelah protokol diberlakukan, biaya ekspedisi turun menjadi US$ 10.000–11.000 per kontainer, memberikan efisiensi sekitar US$ 8.000 per kontainer.

Kepala Barantin Sahat M Panggabean mengapresiasi kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. “Kita semua wajib mengedepankan kolaborasi dan harmonisasi demi terwujudnya nilai tambah ekonomi yang dapat membawa kesejahteraan bagi para petani kita khususnya petani durian Indonesia.”

Kesimpulan: Demikian kabar dari dunia internasional. Ikuti terus perkembangan global hanya di sini.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar