Ingin Jadi Lebih Baik? 7 Kebiasaan Ini Buktikan Anda Orang yang Positif, Menurut Psikologi

Ingin Jadi Lebih Baik? 7 Kebiasaan Ini Buktikan Anda Orang yang Positif, Menurut Psikologi

Kabar selebriti kembali membuat penasaran netizen. Kali ini beredar kabar tentang Ingin Jadi Lebih Baik? 7 Kebiasaan Ini Buktikan Anda Orang yang Positif, Menurut Psikologi yang menjadi trending. Cek faktanya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

\n

Pola Sosial yang Canggung dan Cara Mengatasinya

\n

Keterampilan sosial yang baik tidak selalu berarti ramah atau cerdas, tetapi lebih terkait dengan kebiasaan perilaku kecil yang membuat orang lain merasa diperhatikan, aman, dan nyaman. Berikut adalah tujuh pola canggung yang sering kali menandai keterampilan sosial yang kurang baik, serta cara mengatasi masing-masing.

\n

1. Mengubah Percakapan Menjadi Monolog

\n

Saat kita berbicara pada orang lain dan bukan pada mereka, jarak akan tercipta. Bisa saja Anda gugup atau sangat antusias, sehingga kata-kata keluar tanpa henti. Jika Anda jarang bertanya atau hanya fokus pada diri sendiri, orang lain bisa merasa terkuras.

\n

Penelitian psikologi menunjukkan bahwa rasa ingin tahu memainkan peran penting dalam hubungan sosial. Orang yang lebih banyak bertanya biasanya dinilai lebih hangat dan disukai. Untuk menghindari monolog, gunakan ritme dasar: bertanya, mendengarkan, merenungkan, lalu menambahkan.

\n

Coba ajukan dua pertanyaan lanjutan sebelum menyampaikan cerita Anda sendiri. Misalnya, "Apa yang menonjol dari hal itu?" atau "Bagaimana kamu memutuskan?" Setelah itu, ulas apa yang Anda dengar dalam satu baris, lalu tambahkan pandangan Anda.

\n

2. Tidak Ada Kontak Mata

\n

Menghindari tatapan bisa dianggap sebagai ketidakpedulian atau rasa tidak aman. Namun, menatap terlalu lama juga bisa terasa intens atau agresif. Panduan praktis ini efektif: pertahankan kontak mata saat lawan bicara menyelesaikan pemikiran mereka. Saat Anda mulai merespons, alihkan pandangan sebentar, lalu kembali lagi.

\n

Pola ini menunjukkan kehadiran tanpa tekanan. Ingat bahwa norma bervariasi tergantung budaya dan konteks. Jika ragu, lembutkan pandangan Anda, sesuaikan tingkat kenyamanan orang lain, dan modifikasi berdasarkan masukan dari wajah dan postur mereka.

\n

3. Memotong Pembicaraan

\n

Banyak orang memotong pembicaraan karena antusias atau ingin menunjukkan bahwa mereka memahami. Tumpang tindih terutama saat Anda memegang kemudi, menandakan kurangnya kemampuan bergiliran. Bergiliran adalah keterampilan sosial penting yang menunjukkan rasa hormat.

\n

Coba atur ketukannya: saat seseorang berhenti, hitung seribu sebelum berbicara. Jika Anda benar-benar perlu menyela, sampaikan dengan singkat lalu kembalikan kesempatan berbicara. Misalnya, tanyakan tentang bagian pertama, lalu lanjutkan. Ini mengurangi perasaan diintimidasi.

\n

4. Berbagi Terlalu Cepat

\n

Berbagi detail pribadi dapat membangun kedekatan, tetapi waktu dan keseimbangan penting. Membocorkan kisah hidup Anda dalam lima menit pertama bisa membuat orang lain kewalahan dan tertutup. Studi menunjukkan bahwa pengungkapan diri yang saling menguntungkan dan bertahap menciptakan lebih banyak rasa suka daripada penolakan sepihak.

\n

Periksa diri sendiri dengan bertanya, apakah Anda sudah memberi mereka kesempatan untuk menyamai Anda? Jika tidak, ubah dengan mengatakan, "Aku sudah banyak bicara. Bagaimana menurutmu?" Kalimat tunggal ini mengubah monolog menjadi hubungan.

\n

5. Topik yang Sering Berubah

\n

Anda sedang mendiskusikan rencana akhir pekan, tiba-tiba seseorang beralih ke gosip kantor tanpa ada perubahan. Pergantian topik yang tiba-tiba membuat orang lain berusaha lebih keras untuk mengikuti. Mereka mungkin bertanya-tanya apakah Anda sedang teralihkan, tidak tertarik, atau cemas.

\n

Untuk menghindari ini, gunakan jembatan kecil. Cobalah, "Itu mengingatkan kita pada..." atau "Kembali ke...". Ucapan-ucapan seperti itu menghargai jalinan perhatian yang sama.

\n

6. Menjauh atau Mendekat

\n

Jika Anda terlalu condong, orang-orang akan merasa sesak. Jika Anda berdiri jauh, mereka akan merasa asing. Para antropolog menyebutnya proksemik. Budaya dan konteks memiliki zona informal untuk berinteraksi. Di banyak lingkungan Barat, teman dan kolega cenderung berinteraksi dalam jarak beberapa kaki, dengan lebih banyak ruang untuk orang asing dan pertemuan formal.

\n

Melanggar norma lokal justru menciptakan ketegangan. Jika ragu, tirulah. Sesuaikan kemiringan dan jarak orang lain. Jika mereka mundur, ikuti. Tidak perlu komentar. Jika ragu dalam situasi lintas budaya, tanyakan dengan ramah.

\n

7. Nada Bicara yang Berubah

\n

Kata-kata penting, tetapi penyampaiannya lebih berbobot. Berbicara dengan nada monoton saat seseorang menyampaikan kabar baik, tersenyum saat Anda meminta maaf, atau tertawa saat rekan kerja melampiaskan kekesalan. Ketidaksesuaian ini membuat orang mempertanyakan apakah Anda mendengarkan.

\n

Isyarat nonverbal seperti kontak mata, prosodi, dan gerak tubuh membentuk seberapa responsif kita. Pendengar menilai kehangatan dan pengertian kita bukan hanya dari apa yang kita katakan tetapi dari keselarasan antara kata-kata dan isyarat kita.

\n

Ketika isyarat verbal dan nonverbal berbenturan, hubungan cenderung menurun. Coba parafrasekan perasaan itu dan biarkan suaramu menggemakannya. Sepertinya kamu lega, katamu dengan nada santai dan lembut, terdengar berbeda dari kata-kata yang sama yang diucapkan datar.

\n

Jika Anda tidak yakin perasaan apa yang harus diutarakan, tanyakan, "Apa yang terasa paling nyata saat ini?" lalu tiru nada bicara tersebut.

Kesimpulan: Tunggu update selanjutnya dari artis favorit Anda. Jangan lupa untuk bagikan berita ini ke sesama fans.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar