Israel dan AS Sepakat Evakuasi 200 Pejuang Hamas di Rafah

Israel dan AS Sepakat Evakuasi 200 Pejuang Hamas di Rafah

Isu politik kembali mencuat. Mengenai Israel dan AS Sepakat Evakuasi 200 Pejuang Hamas di Rafah, publik menanti dampak dan realisasinya. Simak laporannya.

Advertisement
AIOTrade App AIOTrade App

AIOTRADE

TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.

Kesepakatan Pemindahan Pejuang Hamas di Rafah

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan utusan Amerika Serikat, Jared Kushner, telah mencapai kesepakatan untuk memindahkan sekitar 200 pejuang Hamas dari kota Rafah di wilayah Gaza selatan ke luar wilayah Palestina. Laporan ini disampaikan oleh media Israel pada Selasa, seperti yang dilaporkan oleh Anadolu.

Harian Yedioth Ahronoth mengutip seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya dari Kabinet Keamanan, menyatakan bahwa telah terjadi kesepakatan mengenai pejuang Hamas di kawasan tersebut. Menurut pejabat tersebut, kesepakatan antara Netanyahu dan Kushner berisi rencana untuk mendeportasi sekitar 200 pejuang (Palestina) yang terjebak di terowongan Rafah.

"Kesepakatan ini menuntut Israel untuk mengizinkan pemindahan mereka secara aman keluar dari wilayah Palestina," tambahnya. Namun, hingga saat ini belum ada negara yang setuju untuk menerima para pejuang tersebut.

Belum ada komentar langsung dari pihak AS, Israel, maupun Hamas terkait laporan ini. Rafah terletak di wilayah timur dari apa yang disebut "garis kuning" yang dikuasai tentara Israel, sesuai dengan perjanjian gencatan senjata yang dimulai pada 10 Oktober. Warga Palestina diizinkan bergerak di wilayah barat garis tersebut, tetapi Israel terus menembaki warga Palestina di wilayah itu, sehingga menewaskan dan melukai ratusan orang.

Lembaga penyiaran publik KAN, mengutip sumber dekat dengan Netanyahu, menyatakan bahwa perdana menteri Israel membantah telah membuat komitmen apa pun kepada Washington terkait pemindahan pejuang Hamas di Rafah.

Pada hari Ahad, Hamas meminta pertanggungjawaban Israel atas bentrokan dengan para pejuangnya yang terjebak di Rafah. Desakan AS terhadap Israel untuk mengizinkan 100 hingga 200 anggota Hamas yang bersembunyi di jaringan terowongan di sisi Garis Kuning yang dikuasai Israel di Rafah, Gaza selatan, untuk pergi dengan selamat, menurut seorang diplomat Timur Tengah yang berbicara kepada The Times of Israel pada Rabu lalu.

Washington disebut memandang upaya tersebut sebagai program percontohan untuk inisiatif penonaktifan dan amnesti yang lebih luas bagi para pejuang Hamas, bagian dari rencana 20 poin Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri konflik Gaza. Berdasarkan proposal tersebut, para pejuang akan menyerahkan senjata mereka kepada pejabat dari Pusat Koordinasi Sipil-Militer pimpinan AS di Kiryat Gat. Mereka kemudian diberikan jalur aman ke negara ketiga atau diizinkan mundur ke wilayah yang dikuasai Hamas di sebelah barat Garis Kuning.

AS telah melakukan diskusi intensif dengan Israel dan Turki mengenai inisiatif tersebut, kata diplomat tersebut. Meskipun Israel tidak menolak usulan tersebut, mereka menolak untuk membiarkan semua anggota Hamas bebas, dengan alasan kekhawatiran bahwa beberapa dari mereka bertanggung jawab atas serangan terhadap warga Israel dan mungkin perlu ditahan oleh IDF jika mereka tidak ingin dibunuh.

Perkembangan Terkini

Selama beberapa minggu terakhir, situasi di kawasan Rafah terus menjadi fokus perhatian internasional. Pemindahan para pejuang Hamas dari kawasan tersebut menjadi langkah penting dalam upaya menciptakan stabilitas di wilayah Gaza. Namun, proses ini masih menghadapi tantangan signifikan, termasuk masalah keamanan dan koordinasi antara pihak-pihak terkait.

Beberapa negara yang dipertimbangkan untuk menerima para pejuang Hamas masih dalam proses evaluasi. Sejumlah pihak mengkhawatirkan potensi risiko keamanan jika para pejuang tersebut dibiarkan bergerak bebas. Di sisi lain, banyak yang melihat inisiatif ini sebagai langkah awal menuju perdamaian yang lebih stabil di kawasan tersebut.

Pihak Israel juga terus memastikan bahwa tindakan mereka tidak akan mengancam keamanan nasional. Meskipun mereka tidak menolak usulan AS, mereka tetap bersikeras bahwa tidak semua anggota Hamas dapat dilepaskan. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa sebagian dari mereka masih terlibat dalam aktivitas yang berpotensi membahayakan warga Israel.

Sementara itu, pihak Hamas terus memperkuat posisi mereka dalam dialog politik. Mereka menuntut transparansi dan keadilan dalam segala proses yang terkait dengan pemindahan para pejuang. Dengan situasi yang begitu dinamis, masyarakat internasional terus mengawasi perkembangan ini dengan cermat.

Kesimpulan: Mari kita kawal terus perkembangan isu ini. Suarakan pendapat Anda dengan bijak di kolom komentar.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar