
AIOTRADE
TRADING OTOMATIS 24 JAM NONSTOP yang MEMBELI OTOMATIS saat harga turun dan MENJUAL OTOMATIS saat harga naik di MARKET SPOT (bukan future/Bebas Margin Call), tersedia sekarang di Binance, Bitget, Tokocrypto, dan segera hadir di OKX serta Pasar SAHAM.
Peran Turki dalam Konflik Gaza: Kekuatan Regional yang Mengubah Peta Perang
Di tengah ketegangan yang terus berlangsung di wilayah Gaza, muncul sebuah kekuatan regional yang mulai menarik perhatian dunia. Bukan dari serangan roket atau terowongan bawah tanah, melainkan dari negara yang memiliki ambisi politik dan kemampuan diplomasi yang kuat: Turki. Dengan alasan kemanusiaan sebagai tameng, Ankara kini memperluas pengaruhnya di puing-puing Gaza, mengancam rencana Israel yang selama ini dominan.
Setiap langkah yang dilakukan oleh Turki, seperti membersihkan puing-puing dengan traktor atau mendirikan tenda bantuan, bisa menjadi paku yang melonggarkan cengkeraman Israel. Ini membawa mimpi buruk bagi Tel Aviv: kemerdekaan Palestina yang tak terelakkan, dengan perbatasan 1967 yang hidup kembali seperti hantu yang bangkit dari kubur.
Turki, yang dikenal dengan sejarah heroik Muhammad al-Fatih, tidak main-main dalam upaya mereka. Di tengah dunia yang diam, Ankara justru menggalang kekuatan untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina berdasarkan peta 1967. Peta ini merujuk pada situasi geografis dan politik sebelum Perang Enam Hari yang berlangsung antara 5 hingga 10 Juni 1967. Batas-batas sebelum perang ini dikenal sebagai "Garis Hijau", yang ditetapkan oleh Perjanjian Gencatan Senjata 1949 setelah Perang Arab-Israel 1948.
Pada peta pra-1967, wilayah yang disebut Palestina secara de facto terbagi menjadi dua area utama yang tidak berada di bawah kendali Israel: Jalur Gaza yang dikuasai Mesir dan Tepi Barat yang berada di bawah kendali Yordania, termasuk Yerusalem Timur. Wilayah-wilayah ini merupakan sisa dari wilayah yang seharusnya menjadi negara Arab berdasarkan Rencana Pembagian PBB tahun 1947. Namun, status politiknya tetap rumit karena garis-garis gencatan senjata 1949 tidak dimaksudkan sebagai batas permanen.
Perang Enam Hari menjadi titik balik yang mengubah secara fundamental peta wilayah tersebut. Dalam perang singkat itu, Israel menduduki Jalur Gaza, Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, Semenanjung Sinai (dari Mesir), dan Dataran Tinggi Golan (dari Suriah). Akibatnya, peta wilayah ini berubah secara dramatis, di mana Jalur Gaza dan Tepi Barat berada di bawah kendali militer Israel, yang kemudian mengarah pada pendirian permukiman ilegal di Tepi Barat dan situasi politik yang kompleks hingga saat ini. Batas-batas pra-1967 atau "Garis Hijau" kini menjadi acuan dalam banyak resolusi PBB dan upaya diplomatik untuk solusi dua negara.
Penjamin Solusi Dua Negara
Menteri Luar Negeri Hakan Fidan dengan berani menegaskan bahwa Turki siap menjadi penjamin solusi dua negara—bukan sekadar wacana, tapi aksi nyata. Dalam sebuah pernyataan, Fidan memperingatkan bahwa tanpa solusi dua negara, kawasan ini bukan hanya akan menyaksikan perang, tetapi "genosida" lainnya.
"Kita akan memastikan kepatuhan terhadap ketentuan perjanjian, mengamankan pengiriman bantuan kemanusiaan, memungkinkan Palestina mengambil alih pemerintahan Gaza, dan bergerak maju secara tegas menuju solusi dua negara," ujarnya dalam sebuah wawancara.
Fokus Turki jelas: paksa Israel patuhi perjanjian, gelontor bantuan kemanusiaan, serahkan pemerintahan Gaza kepada Palestina, dan pacu solusi dua negara secepatnya. Bagi Ankara, ini bukan lagi diplomasi, tapi perlawanan terhadap ketidakadilan.
Presiden Recep Tayyip Erdogan bahkan lebih keras lagi! Ia mengecam langkah-langkah Barat yang hanya mengakui Palestina sebagai "isyarat diplomatik" tanpa komitmen nyata. Erdogan menantang negara-negara Eropa, khususnya Inggris dan Prancis, untuk tidak sekedar mengakui, tetapi benar-benar menjadikan Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat berdasarkan batas 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota, sebagai fondasi perdamaian.
Bagi Turki, ini satu-satunya solusi—tidak ada kompromi. Sementara Barat bertele-tele, Turki bergerak langsung ke Gaza lewat yayasan kemanusiaannya (IHH) dengan membersihkan puing-puing dan membuka akses jalan. Aksi nyata ini membuktikan: Turki tidak hanya berbicara, tapi bertindak untuk mewujudkan Palestina yang merdeka dan mandiri.
Komentar
Kirim Komentar